Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Sejarah & Budaya

JEJAK TANAH MANDAR DI LAMBANAN: MENGAPA NISAN MAKAM KUNO BERUKURAN BESAR DAN MENJULANG TINGGI?  

0
×

JEJAK TANAH MANDAR DI LAMBANAN: MENGAPA NISAN MAKAM KUNO BERUKURAN BESAR DAN MENJULANG TINGGI?  

Sebarkan artikel ini

POLEWALI MANDAR-BreakingNewspost.id – Di Desa Lambanan, Kecamatan Balanipa, deretan batu nisan kuno yang berdiri kokoh, besar, dan menjulang tinggi seolah menjadi penjaga bisu perjalanan panjang sejarah Tanah Mandar. Di hadapan kebesaran batu-batu itu, rasa kagum seringkali disertai satu pertanyaan abadi yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat:

Apakah mereka yang dimakamkan di sini memang manusia bertubuh raksasa pada zamannya, ataukah ada makna mendalam yang tersembunyi di balik ukuran yang luar biasa itu?”

Pertanyaan ini bukan sekadar rasa ingin tahu biasa. Ia merentang antara fakta arkeologi dan kekayaan tradisi lisan yang melegenda di bumi Mandar, Bugis, Makassar, hingga Toraja. Kisah tentang “To Riolo”—manusia zaman dahulu yang dipercaya memiliki kekuatan sakti, postur tubuh yang gagah, atau bahkan diyakini sebagai keturunan dari kayangan—masih sering menjadi bahan tutur sapa.

Namun, ketika ditelaah melalui kacamata sejarah dan ilmu pengetahuan, jawabannya ternyata jauh lebih bermakna daripada sekadar dugaan fisik semata.

Simbol Kebesaran, Bukan Ukuran Jasad

Para peneliti dan pemerhati sejarah sepakat bahwa ukuran nisan yang besar tidak serta-merta mencerminkan dimensi fisik orang yang dimakamkan di dalamnya.

Lebih dari itu, ukuran tersebut adalah bahasa simbolik. Ia merepresentasikan status sosial, kekuasaan, dan tingkat penghormatan tertinggi yang diberikan masyarakat kepada sang almarhum semasa hidupnya.

Dalam tradisi Nusantara, termasuk di Mandar, makam bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Ia adalah monumen penghormatan. Semakin tinggi dan besar nisan itu, semakin besar pula kedudukan, jasa, dan pengaruh orang tersebut dalam struktur masyarakat,” ungkap salah satu pengamat sejarah lokal.

Maka, wajar jika makam para Mara’dia, bangsawan, pemuka adat, ulama, maupun tokoh penyebar agama memiliki bentuk yang jauh lebih megah dibandingkan masyarakat umum. Yang diperbesar bukan jasadnya, melainkan penghormatan terhadap kebesaran namanya.

Balanipa: Jantung Peradaban Lama

Kehadiran situs bersejarah ini di wilayah Balanipa juga bukan tanpa alasan. Secara historis, Kerajaan Balanipa dikenal sebagai salah satu pusat kekuasaan besar yang memainkan peran sentral dalam membentuk peradaban dan identitas masyarakat Mandar.

Dari tanah inilah lahir tokoh-tokoh penentu arah kebijakan, perdagangan, hingga penyebaran agama.

Tidak mengherankan jika di kawasan ini kita temukan jejak-jejak kemegahan masa lalu. Nisan-nisan tinggi itu adalah saksi bisu bahwa di sinilah dahulu pusat pemerintahan dan pusat peradaban berada,” tambahnya.

Jejak Megalitik yang Bertahan

Ditinjau dari aspek budaya, bentuk nisan yang menggunakan batu besar juga memperlihatkan adanya kelanjutan dari tradisi megalitik yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu.

Budaya menghormati leluhur dengan menggunakan batu-batu besar tidak hilang begitu saja saat agama dan peradaban baru masuk. Justru terjadi akulturasi indah; bentuk fisiknya dipertahankan, namun maknanya diperkaya dengan nilai-nilai baru yang selaras dengan zaman.

Antara Legenda dan Sejarah

Ungkapan dalam bahasa Mandar yang bertanya “apai tau mairrani mua todiolo mai kayyangan…” (apakah benar orang dahulu berasal dari kayangan…) adalah bukti kekayaan imajinasi dan kearifan lokal yang patut dijaga.

Legenda memiliki tempat terhormat dalam membentuk identitas bangsa. Namun di sisi lain, ilmu sejarah dan arkeologi hadir untuk memberikan penjelasan rasional bahwa ukuran tubuh manusia zaman dahulu secara ilmiah tidak jauh berbeda dengan manusia masa kini.

Keduanya bisa berdampingan: legenda sebagai warisan budaya yang indah, dan sejarah sebagai fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Warisan yang Tak Ternilai

Pada akhirnya, nisan-nisan raksasa di Lambanan adalah cermin dari bagaimana masyarakat Mandar memandang kehidupan dan kematian.

Batu-batu itu mengajarkan bahwa penghormatan, kebesaran jiwa, dan jasa kepada sesama adalah hal yang dapat bertahan jauh lebih lama daripada usia manusia itu sendiri.

Mereka mungkin telah kembali ke tanah, namun jejak yang mereka tinggalkan terus berdiri tegak, menceritakan kepada generasi sekarang tentang betapa kayanya sejarah tanah yang kita pijak hari ini.

Reporter: Tim Liputan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *