Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Sejarah & Budaya

AGH. Muhammad Thahir (Imam Lapeo), Ulama Kharismatik Tanah Mandar yang Jejak Dakwahnya Terus Dikenang

13
×

AGH. Muhammad Thahir (Imam Lapeo), Ulama Kharismatik Tanah Mandar yang Jejak Dakwahnya Terus Dikenang

Sebarkan artikel ini

POLEWALI MANDAR  – Nama AGH. Muhammad Thahir, yang lebih dikenal sebagai Imam Lapeo, menempati posisi penting dalam sejarah perkembangan Islam di Tanah Mandar, Sulawesi Barat. Sosok ulama kharismatik ini tidak hanya dikenang sebagai pendidik dan pembimbing spiritual, tetapi juga sebagai tokoh yang berperan dalam membangun tradisi keislaman yang masih hidup hingga kini.

Dalam tradisi masyarakat Mandar, Imam Lapeo dihormati sebagai ulama besar yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk dakwah, pendidikan agama, dan pelayanan kepada umat.

Menurut berbagai sumber sejarah lokal, Imam Lapeo lahir pada 1839 di Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, dengan nama kecil Junaihil Namli.

Menimba Ilmu Sejak Usia Dini

Pendidikan agama pertama diperoleh dari lingkungan keluarga. Ayahnya, Haji Muhammad, dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an, demikian pula kakeknya, Abdul Karim, yang turut membentuk dasar pendidikan keagamaan beliau.

Semangat menuntut ilmu membawanya belajar ke berbagai pusat pendidikan Islam, termasuk di Pulau Salemo, yang pada masa itu dikenal sebagai salah satu pusat pengajaran Islam di kawasan timur Nusantara.

Dalam perjalanan intelektualnya, Imam Lapeo berguru kepada sejumlah ulama terkemuka, antara lain AGH. As-Syekh Habib Sayyid Alwi bin Sahl Jamalullail serta Syekh Kholil Bangkalan, ulama besar dari Madura yang memiliki pengaruh luas terhadap perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.

Penyebar Dakwah di Tanah Mandar

Sepulang dari pengembaraan menuntut ilmu, Imam Lapeo mengabdikan dirinya untuk membina masyarakat melalui dakwah, pendidikan, dan pembinaan akhlak.

Ia membangun Masjid Nur Al-Taubah Lapeo, yang kemudian menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus tempat pendidikan Islam bagi masyarakat Mandar.

Masjid tersebut hingga kini masih menjadi salah satu tujuan ziarah religius dan pusat kegiatan keagamaan di Kabupaten Polewali Mandar.

Sebagai imam pertama di masjid tersebut, Imam Lapeo dikenal menanamkan nilai-nilai Islam yang menekankan keseimbangan antara ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial.

Mengembangkan Tradisi Tarekat

Dalam perjalanan spiritualnya, Imam Lapeo dikenal sebagai pengamal Tarekat Syadziliyah dan Naqsyabandiyah, yang diperolehnya melalui bimbingan gurunya, AGH. As-Syekh Habib Sayyid Alwi bin Sahl Jamalullail.

Melalui pendekatan tasawuf, ia mengajarkan pentingnya penyucian jiwa, kedisiplinan beribadah, serta penguatan hubungan antara manusia dengan Allah SWT tanpa mengabaikan tanggung jawab sosial terhadap sesama.

Ajaran tersebut memberi pengaruh besar terhadap perkembangan tradisi keagamaan masyarakat Mandar hingga saat ini.

Dikenang sebagai Pejuang dan Ulama

Dalam sejumlah catatan sejarah lokal, Imam Lapeo juga disebut turut memberikan dukungan terhadap perjuangan masyarakat menghadapi masa penjajahan Belanda dan Jepang.

Kontribusinya lebih banyak diwujudkan melalui penguatan semangat keagamaan, pendidikan umat, serta pembinaan moral masyarakat pada masa yang penuh tekanan.

.Tradisi Mengenai Karamah

Di tengah masyarakat Mandar berkembang berbagai kisah mengenai karamah Imam Lapeo, termasuk cerita bahwa beliau memiliki keistimewaan yang diyakini sebagai anugerah dari Allah SWT.

Salah satu kisah yang paling dikenal adalah keyakinan masyarakat bahwa tangannya tidak mempan terhadap api.

Cerita-cerita tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan dan keyakinan yang hidup di kalangan masyarakat serta menjadi bagian dari penghormatan kepada sosok Imam Lapeo. Kebenaran kisah-kisah tersebut berada dalam ranah kepercayaan religius dan tidak dapat diverifikasi melalui metode sejarah.

Wafat dan Warisan Dakwah

Imam Lapeo wafat pada 17 Juni 1952 dalam usia yang menurut tradisi masyarakat mencapai sekitar 113 tahun.

Beliau dimakamkan di kompleks Masjid Nur Al-Taubah Lapeo, masjid yang dibangunnya dan hingga kini menjadi salah satu pusat ziarah keagamaan di Sulawesi Barat.

Setiap tahun, ribuan peziarah dari berbagai daerah datang untuk berziarah, mengikuti pengajian, serta mengenang jasa-jasa beliau dalam menyebarkan Islam di Tanah Mandar.

Dalam tradisi masyarakat Bugis dan Mandar, Imam Lapeo juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang termasuk dalam kelompok “Wali Pitue” atau tujuh wali yang dihormati. Penyebutan tersebut merupakan bagian dari tradisi dan penghormatan masyarakat terhadap para ulama yang dinilai berjasa besar dalam penyebaran Islam di Sulawesi.

Lebih dari tujuh dekade setelah wafatnya, nama Imam Lapeo tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Warisan dakwah, pendidikan, dan keteladanannya terus menjadi inspirasi bagi perkembangan kehidupan keagamaan di Tanah Mandar dan kawasan Indonesia Timur pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *