Polewali Mandar–BreakingNewspost.id – Di tengah ketidakpastian cuaca dan dinamika ekonomi pesisir, nelayan di Desa Galung Tulu, Kecamatan Balanipa kab polman provinsi Sulawesi Barat, masih mengandalkan tangkapan ikan teri sebagai penopang utama penghidupan. Komoditas yang dikenal lokal sebagai omber ini dinilai relatif lebih stabil dibandingkan jenis tangkapan lain, namun belum sepenuhnya mampu menjamin kesejahteraan nelayan.
Setiap dini hari, aktivitas melaut menjadi rutinitas yang tak terpisahkan dari kehidupan warga. Perahu-perahu kecil berangkat menuju perairan, memanfaatkan waktu tangkap yang terbatas. Namun, kondisi alam yang sulit diprediksi kerap menjadi faktor pembatas. Gelombang tinggi dan angin kencang tidak hanya menghambat aktivitas, tetapi juga berdampak langsung pada pendapatan harian.
“Kami tetap melaut kalau cuaca memungkinkan. Tapi kalau ombak besar, tidak ada pilihan selain tinggal di rumah,” ujar seorang nelayan, menggambarkan ketergantungan tinggi pada kondisi alam.
Di antara berbagai jenis tangkapan, ikan teri menjadi pilihan utama sebagian nelayan. Selain ketersediaannya yang relatif lebih konsisten, komoditas ini memiliki pasar yang cukup luas. Ikan teri dapat dijual dalam kondisi segar maupun diolah menjadi produk kering yang memiliki daya simpan lebih lama dan potensi nilai jual lebih tinggi.
Namun, stabilitas produksi tersebut tidak selalu diikuti oleh kepastian pendapatan. Nelayan masih menghadapi persoalan struktural berupa keterbatasan akses pasar. Sebagian besar hasil tangkapan dijual kepada pengepul, dengan harga yang cenderung fluktuatif dan sering kali ditentukan sepihak.
Dalam kondisi tangkapan melimpah, harga ikan di tingkat nelayan justru mengalami penurunan. Sementara itu, keterbatasan jaringan distribusi dan minimnya akses langsung ke pasar yang lebih luas membuat nelayan tidak memiliki banyak alternatif pemasaran.
Untuk meningkatkan nilai tambah, sebagian nelayan melakukan pengolahan pascapanen dengan mengeringkan ikan teri. Proses ini dilakukan secara tradisional dengan memanfaatkan panas matahari di area terbuka. Selain memperpanjang masa simpan, ikan teri kering dinilai lebih fleksibel untuk dipasarkan ke luar daerah.
Meski demikian, upaya ini belum sepenuhnya optimal. Keterbatasan fasilitas pengeringan yang higienis dan belum adanya standar kualitas yang seragam membuat hasil produksi belum konsisten. Hal ini berdampak pada daya saing produk, terutama ketika harus bersaing dengan daerah lain yang telah menerapkan teknologi pengolahan lebih modern.
Kondisi tersebut memperkuat ketergantungan nelayan terhadap pengepul. Tanpa akses pasar alternatif yang memadai, posisi tawar nelayan tetap lemah dalam menentukan harga jual.
Di sisi lain, harapan terhadap peran pemerintah daerah terus mengemuka. Warga menilai perlunya intervensi yang lebih terarah, khususnya dalam penguatan sektor hilir. Bantuan sarana pengolahan, pelatihan peningkatan kualitas, serta pembukaan akses pasar dinilai dapat mendorong peningkatan nilai tambah produk perikanan.
Penguatan kelembagaan nelayan, seperti koperasi atau kelompok usaha bersama, juga dipandang penting untuk memperbaiki sistem distribusi dan memperkuat posisi tawar di pasar.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, masyarakat Desa Galung Tulu tetap menunjukkan ketahanan. Laut bukan hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari identitas sosial yang terus dijaga. Dengan segala keterbatasan, para nelayan tetap melaut—menjaga keberlangsungan hidup sekaligus mempertahankan tradisi pesisir yang telah mengakar.



