Maumere-BreakingNewspost.id —Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, tradisi pandai besi di Dusun Habipiret, Desa Manubura, Kecamatan Nelle, Kabupaten Sikka, masih bertahan sebagai warisan budaya yang dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Bagi warga, keahlian pandai besi bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari identitas budaya yang telah diwariskan lintas generasi.

Bertahan dengan Peralatan Sederhana
Salah satu pengrajin, Yoseph Arianto, mengisahkan bahwa keterampilan ini ia pelajari dari orang tuanya sejak usia muda. Hingga kini, ia masih setia mengolah besi secara manual menjadi berbagai alat kebutuhan sehari-hari.
Dengan peralatan sederhana, ia mampu mengubah potongan besi—bahkan dari bahan bekas kendaraan—menjadi produk bernilai guna seperti parang, pisau dapur, hingga sabit atau celurit yang digunakan dalam sektor pertanian dan perkebunan.
“Sejak dulu kami sudah mengerjakan ini, dari orang tua sampai sekarang. Kami produksi sendiri dan dijual ke pedagang untuk dipasarkan di hari pasar,” ujarnya.
Ekonomi Bertumpu pada Keterampilan Tradisional
Meski dikerjakan secara tradisional, aktivitas pandai besi ini masih memberikan kontribusi ekonomi bagi keluarga. Permintaan terhadap alat-alat seperti parang dan pisau masih relatif stabil, terutama dari masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.
Dari usaha tersebut, Yoseph mengaku mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga, bahkan membiayai pendidikan anak-anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa sektor kerajinan tradisional, jika dikelola dengan baik, tetap memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Ancaman Punah di Tengah Minimnya Regenerasi
Namun, di balik keberlanjutan tersebut, tersimpan kekhawatiran yang mendalam. Yoseph menilai minat generasi muda untuk meneruskan tradisi pandai besi semakin menurun, bahkan nyaris tidak ada.
“Ini ciri khas kampung kami, tapi sekarang anak-anak muda hampir tidak ada yang mau melanjutkan,” katanya.
Fenomena ini mencerminkan tantangan umum yang dihadapi banyak warisan budaya lokal, di mana modernisasi dan perubahan orientasi pekerjaan membuat generasi muda lebih memilih sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan.
Perlu Dukungan Pemerintah dan Inovasi
Untuk menjaga keberlangsungan tradisi ini, Yoseph berharap adanya dukungan nyata dari pemerintah, baik dalam bentuk bantuan peralatan modern, pelatihan peningkatan keterampilan, maupun penguatan akses pemasaran.
Menurutnya, jika produk pandai besi dapat dipasarkan lebih luas—tidak hanya di pasar lokal Sikka tetapi juga ke luar daerah—maka potensi ekonomi akan meningkat dan minat generasi muda pun bisa kembali tumbuh.
Warisan Budaya yang Perlu Dijaga
Tradisi pandai besi di Manubura bukan sekadar aktivitas produksi, tetapi bagian dari kekayaan budaya lokal yang mencerminkan kearifan dan keterampilan masyarakat.
Tanpa upaya pelestarian yang serius, bukan tidak mungkin keahlian ini akan hilang seiring waktu.
Di tengah geliat pembangunan dan modernisasi, keberadaan komunitas seperti ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya soal kemajuan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga identitas budaya yang menjadi akar kehidupan masyarakat.
Liputan: Yanuarius Haryanto















