Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Pendidikan

Demi Pendidikan, Warga Pasaman Rogoh Kocek Pribadi Gaji Guru di Daerah Terisolir

68
×

Demi Pendidikan, Warga Pasaman Rogoh Kocek Pribadi Gaji Guru di Daerah Terisolir

Sebarkan artikel ini

Pasaman-BreakingNewspost.id — Di tengah keterbatasan akses dan minimnya layanan dasar, inisiatif warga menjadi penopang utama keberlangsungan pendidikan di sejumlah daerah terpencil. Hal ini tercermin dari langkah yang diambil Rafi, warga Jorong Sinuangon, Nagari Cubadak Barat, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.

Sejak 2024, Rafi secara sukarela membiayai gaji tiga tenaga pengajar di SDN 10 Lanai Sinuangon. Keputusan tersebut diambil setelah melihat kondisi sekolah yang kekurangan guru hingga berdampak langsung pada terhentinya proses belajar mengajar.

“Pada saat itu sangat minim tenaga pengajar yang ditugaskan di sini. Anak-anak sering tidak sekolah karena tidak ada guru,” ujar Rafi saat ditemui, Rabu (2/4/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena berpotensi mengganggu masa depan pendidikan anak-anak di wilayah tersebut. Atas dasar itu, ia mengambil inisiatif pribadi dengan membayar honor tiga guru masing-masing sebesar Rp700 ribu per bulan.

Dengan skema tersebut, Rafi harus mengeluarkan sekitar Rp2,1 juta setiap bulan dari dana pribadi. Langkah itu dijalankannya secara konsisten selama hampir dua tahun, hingga akhirnya pada November 2025 pemerintah daerah melalui dinas pendidikan mulai menempatkan tambahan tenaga pengajar berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Masuknya tenaga PPPK dinilai mulai memperbaiki kondisi pembelajaran di sekolah tersebut. Namun demikian, pengalaman sebelumnya menunjukkan masih adanya celah dalam pemerataan distribusi tenaga pendidik, khususnya di wilayah terpencil.

Selain di sektor pendidikan, keterbatasan infrastruktur juga menjadi tantangan serius bagi masyarakat setempat. Akses menuju wilayah Sinuangon selama ini tergolong sulit, sehingga berdampak pada mobilitas warga, distribusi hasil pertanian, hingga akses terhadap layanan kesehatan.

Dalam situasi tersebut, Rafi juga turut menggerakkan masyarakat untuk membangun akses jalan secara swadaya. Pembangunan dilakukan secara gotong royong dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar.

“Kalau menunggu sepenuhnya dari pemerintah, kami tidak tahu sampai kapan. Jadi kami berinisiatif untuk membuka jalan sendiri agar aktivitas masyarakat bisa lebih lancar,” katanya.

Warga setempat menyebut, keberadaan akses jalan tersebut meski masih sederhana, telah membantu memperpendek waktu tempuh dan meningkatkan konektivitas antarwilayah.

Meski demikian, masyarakat berharap adanya intervensi yang lebih terstruktur dari pemerintah daerah maupun pusat, terutama dalam pembangunan infrastruktur dasar dan pemerataan tenaga pendidik.

Pengamat pendidikan daerah menilai, fenomena seperti yang terjadi di Sinuangon bukanlah kasus tunggal. Di sejumlah wilayah terpencil di Indonesia, keterbatasan tenaga pengajar dan infrastruktur masih menjadi persoalan klasik yang belum sepenuhnya teratasi.

Partisipasi masyarakat seperti yang dilakukan Rafi dinilai sebagai bentuk kepedulian sosial yang patut diapresiasi. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa negara masih memiliki pekerjaan rumah dalam memastikan layanan dasar, khususnya pendidikan, dapat diakses secara merata.

“Peran masyarakat memang penting, tetapi tanggung jawab utama tetap berada pada negara untuk menjamin hak pendidikan bagi setiap warga,” ujar seorang pemerhati kebijakan publik.

Atas kontribusinya, berbagai pihak menilai Rafi layak mendapatkan penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya dalam mendukung keberlangsungan pendidikan dan pembangunan di daerah terpencil.

Upaya tersebut sejalan dengan cita-cita besar bangsa sebagaimana tertuang dalam sila kelima Pancasila, yakni mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia—termasuk mereka yang berada di wilayah terluar dan terisolir.

Liputan:Ludo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *