Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
PendidikanBeritaDAERAH

perjusab smpk frater maumere: bentuk karakter peserta didik hadapi sikap egois dan individualisme dalam dunia modern

18
×

perjusab smpk frater maumere: bentuk karakter peserta didik hadapi sikap egois dan individualisme dalam dunia modern

Sebarkan artikel ini

SIKKA — Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat modern yang kian mendorong lahirnya sikap individualistis, SMP Katolik Frater Maumere memilih memperkuat pendidikan karakter peserta didik melalui kegiatan kepramukaan.

Sebagai implementasi nilai-nilai yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, SMPK Frater Maumere menggelar Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusab) pada 12–13 Juni 2026 di lingkungan sekolah dengan mengusung tema “Perkemahan Penggalang Berkarakter”.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda rutin sekolah, tetapi juga merupakan upaya konkret membentuk generasi muda yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki semangat kebangsaan dan kepedulian sosial di tengah tantangan zaman.

Ketua Panitia, Maria Redempta Priska, menjelaskan bahwa kegiatan Perjusab tahun ini diikuti oleh 648 siswa yang dibagi ke dalam 13 pasukan dan 58 regu. Setiap regu beranggotakan 11 peserta didik yang didampingi para pembina, guru, dan karyawan sekolah.

Menurut Priska, selama dua hari pelaksanaan kegiatan, para peserta didik dituntut untuk belajar hidup mandiri dalam kelompok, membangun kerja sama, menjunjung tinggi rasa saling menghormati, serta mengembangkan sikap tanggung jawab dalam bingkai pendidikan karakter dan nilai-nilai iman.

“Melalui perkemahan ini, peserta didik belajar hidup bersama tanpa memandang latar belakang maupun status sosial. Mereka tinggal dalam tenda yang sama, berbagi tugas, saling membantu, dan membangun persaudaraan yang kuat,” ujarnya.

Ia menambahkan, berbagai kegiatan telah disiapkan untuk melatih keterampilan, keberanian, dan jiwa kepemimpinan peserta. Mulai dari api unggun, tali-temali, semaphore, pencarian jejak, rintangan alam, hingga berbagai permainan edukatif yang dikemas dalam semangat kepramukaan.

“Kegiatan ini dirancang bukan sekadar untuk bersenang-senang, tetapi menjadi sarana pembelajaran yang mampu membentuk karakter, mental, dan keterampilan sosial peserta didik,” kata Priska.

Sementara itu, Kepala SMPK Frater Maumere, Frater Yoseph Weko, S.Ag., M.M., menegaskan bahwa kegiatan kepramukaan memiliki peran strategis dalam proses pendidikan karakter generasi muda.

Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi dunia pendidikan saat ini bukan hanya persoalan akademik, melainkan juga bagaimana membangun karakter peserta didik agar mampu hidup berdampingan, peduli terhadap sesama, serta tidak terjebak dalam sikap egois dan individualisme yang semakin menguat di era digital.

“Perkemahan Pramuka menjadi salah satu wadah strategis untuk menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, disiplin, kepemimpinan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang sangat dibutuhkan peserta didik dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern,” ungkapnya.

Ia menilai bahwa pendidikan karakter tidak cukup diberikan melalui teori di ruang kelas. Peserta didik perlu mengalami secara langsung proses pembelajaran yang melibatkan kerja sama, pengorbanan, kepedulian, dan kemampuan menyelesaikan persoalan secara kolektif.

Karena itu, melalui Perjusab, sekolah berharap peserta didik tidak hanya memperoleh pengalaman kepramukaan, tetapi juga membangun fondasi karakter yang kuat sebagai bekal menghadapi masa depan.

Di tengah kekhawatiran banyak pihak terhadap semakin menurunnya interaksi sosial akibat dominasi teknologi dan media digital, kegiatan seperti Perjusab menjadi ruang penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan persaudaraan yang selama ini menjadi identitas bangsa Indonesia.

Perkemahan Penggalang Berkarakter yang digelar SMPK Frater Maumere pun menjadi bukti bahwa pendidikan karakter tetap menjadi prioritas utama dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral, sosial, dan spiritual.

(Yuven Fernandez)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *