Soppeng-BreakingNewspost.id — Sejumlah petani di Desa Lompulle, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng 2 April 2026, menyoroti proyek Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) yang dilaksanakan sekitar tahun 2023. Proyek tersebut dinilai tidak tepat sasaran dan belum memberikan manfaat nyata bagi kebutuhan pertanian di wilayah setempat.
Keluhan ini muncul setelah proyek rampung dikerjakan, namun tidak memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas pertanian warga. Padahal, sejak awal masyarakat berharap program tersebut mampu memperbaiki persoalan mendasar seperti ketersediaan air irigasi, akses jalan usaha tani, hingga kelancaran distribusi hasil panen.
“Kalau dilihat dari kondisi di lapangan, proyek ini tidak terlalu membantu kami sebagai petani. Kebutuhan utama kami justru belum tersentuh,” ujar salah seorang petani anggota LSM
Menurut warga, hingga saat ini petani di Desa Lompulle masih menghadapi berbagai kendala klasik, di antaranya keterbatasan jaringan irigasi, kondisi jalan tani yang kurang memadai, serta tingginya biaya angkut hasil pertanian ke pasar.
Namun, proyek P3A yang telah dilaksanakan dinilai belum mampu menjawab persoalan-persoalan tersebut secara langsung. Akibatnya, manfaat yang dirasakan petani dinilai belum sebanding dengan harapan yang sebelumnya disampaikan masyarakat.
Sejumlah petani juga menyoroti aspek perencanaan yang dinilai kurang melibatkan partisipasi masyarakat. Mereka menilai, minimnya keterlibatan petani sejak tahap awal menjadi salah satu faktor utama ketidaktepatan sasaran program.
“Kalau dari awal kami dilibatkan, mungkin hasilnya akan lebih sesuai. Karena kami yang tahu persis kondisi dan kebutuhan di lapangan,” kata petani lainnya.
Di sisi lain, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah desa maupun instansi terkait mengenai tujuan spesifik proyek P3A tersebut, termasuk indikator keberhasilan serta evaluasi pasca pelaksanaan.
Pengamat pembangunan pertanian menilai, ketepatan sasaran dalam penggunaan anggaran menjadi faktor kunci dalam menentukan efektivitas program. Tanpa perencanaan berbasis kebutuhan riil petani, proyek berpotensi tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produktivitas.
“Pembangunan di sektor pertanian harus berbasis kebutuhan nyata petani, bukan sekadar realisasi program. Jika tidak, maka manfaatnya tidak akan dirasakan secara optimal,” ujarnya.
Meski demikian, masyarakat tetap berharap adanya evaluasi menyeluruh dari pemerintah daerah terhadap proyek tersebut. Warga juga mendorong dibukanya ruang dialog antara pemerintah dan petani agar program pembangunan ke depan lebih tepat sasaran dan benar-benar menyentuh kebutuhan lapangan.
Petani di Desa Lompulle berharap setiap anggaran yang dialokasikan untuk sektor pertanian dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan hasil produksi dan kesejahteraan mereka, bukan sekadar proyek yang selesai secara administratif tanpa manfaat nyata.
Liputan:Rd







