Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Ratusan Buruh Aksi di Morowali, Soroti K3 hingga Status Kerja di Kawasan IMIP

57
×

Ratusan Buruh Aksi di Morowali, Soroti K3 hingga Status Kerja di Kawasan IMIP

Sebarkan artikel ini

Morowali-BreakinngNewspost.id — Ratusan buruh yang tergabung dalam Pergerakan Persatuan Serikat Morowali menggelar aksi unjuk rasa di depan kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Kamis (1/5/2026). Aksi tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional dan menjadi wadah penyampaian berbagai tuntutan terkait kondisi kerja di kawasan industri tersebut.

Massa aksi berasal dari sejumlah elemen serikat pekerja, termasuk Federasi Serikat Pekerja Industri Merdeka (FSPIM). Mereka menyuarakan tuntutan yang berfokus pada pemenuhan hak normatif pekerja, peningkatan keselamatan kerja, serta perbaikan hubungan industrial antara pekerja dan manajemen perusahaan di kawasan IMIP.

Koordinator lapangan aksi, Raden Amar, menyatakan kekecewaannya terhadap pihak manajemen IMIP yang dinilai belum merespons secara memadai tuntutan buruh. Ia menyebut, hingga kini belum tercapai kesepahaman dalam berbagai pertemuan antara serikat pekerja dan pihak perusahaan.

“Sejumlah aspirasi yang kami sampaikan belum mendapat tindak lanjut yang jelas. Kami melihat belum ada komitmen kuat untuk membangun hubungan industrial yang harmonis dan setara,” ujar Raden Amar dalam orasinya.

Menurut dia, posisi serikat pekerja dalam forum perundingan masih belum mendapatkan ruang yang proporsional. Hal tersebut, kata dia, berdampak pada belum optimalnya penyelesaian berbagai persoalan ketenagakerjaan yang dihadapi pekerja di kawasan industri tersebut.

Selain itu, massa aksi juga menyoroti aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Mereka menilai penerapan standar K3 di kawasan IMIP masih perlu ditingkatkan, seiring dengan masih terjadinya kecelakaan kerja, baik yang bersifat fatal maupun non-fatal.

Isu lain yang mencuat dalam aksi tersebut meliputi sistem kerja outsourcing, kejelasan status pekerja, hingga transparansi penilaian kinerja karyawan, khususnya bagi pekerja yang masih dalam masa percobaan (probation). Para buruh juga menyoroti perlunya peningkatan kesejahteraan, termasuk pemberian bonus akhir tahun serta pemerataan bonus produksi di setiap departemen.

Di sisi lain, massa aksi menuntut adanya kejelasan layanan kesehatan di dalam kawasan industri, termasuk fasilitas klinik di area BTR, serta penghapusan sanksi terhadap pekerja yang sedang sakit. Mereka juga meminta penghentian praktik yang diduga sebagai union busting di sejumlah perusahaan dalam kawasan IMIP.

Tidak hanya itu, tuntutan juga mencakup aspek fasilitas penunjang, seperti penambahan armada bus karyawan, pembangunan halte di titik-titik strategis kawasan industri, penyediaan akses WiFi, hingga perbaikan fasilitas parkir.

Para buruh juga mendesak percepatan perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) untuk periode 2026–2027, serta peningkatan sistem pengembangan keterampilan (skill) pekerja agar memiliki jenjang karier yang lebih jelas.

Raden Amar menegaskan, jika tuntutan tersebut tidak segera direspons, pihaknya akan melakukan konsolidasi untuk menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar.

“Kami membuka ruang dialog, tetapi jika tidak ada langkah konkret, kami siap melanjutkan perjuangan melalui aksi yang lebih besar,” katanya.

Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari pihak manajemen IMIP terkait tuntutan yang disampaikan oleh para buruh. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan.

Aksi May Day di Morowali ini mencerminkan dinamika hubungan industrial di kawasan industri strategis nasional, yang di satu sisi menjadi motor penggerak ekonomi, namun di sisi lain masih menyisakan sejumlah persoalan ketenagakerjaan yang menuntut perhatian bersama.

Sumber: Raden Amar, Korlap Aksi FSPIM-KPBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *