Sikka, Nusa Tenggara Timur-BreakingNewspost.id — Di tengah dorongan penguatan pendidikan karakter, SMP Negeri Kewapante menghadirkan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya berhenti di ruang kelas. Melalui projek kokurikuler bertajuk “Ayo Menanam”, sekolah ini mendorong siswa terlibat langsung dalam praktik gaya hidup berkelanjutan.
Program yang dijalankan pada Tahun Pelajaran 2025–2026 itu menyasar siswa Fase D (kelas VII–IX) dengan durasi pembelajaran selama 80 jam pelajaran. Projek ini difasilitasi oleh Hendrikus Hipolitus di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Alexius Dewa.

Berbeda dari pembelajaran konvensional, projek ini mengintegrasikan lima tahapan utama, yakni pengenalan, kontekstualisasi, aksi, refleksi, dan tindak lanjut. Melalui tahapan tersebut, siswa tidak hanya memahami konsep keberlanjutan, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung di lingkungan sekolah.
Ratusan siswa terlibat dalam berbagai aktivitas lapangan, mulai dari persemaian benih, pembuatan kompos berbasis sampah organik, hingga penanaman di polybag dan lahan terbuka. Tanaman yang dibudidayakan pun beragam, seperti pepaya, tomat, cabai, umbi-umbian, hingga tanaman obat keluarga yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari.
Salah satu aspek yang menonjol adalah pendekatan ramah lingkungan dalam pengendalian hama. Siswa diajak menggunakan bahan alami seperti daun tembakau dan larutan air sabun sebagai alternatif pestisida kimia. Selain itu, mereka juga melakukan pemantauan pertumbuhan tanaman secara berkala, lengkap dengan pencatatan yang dilakukan secara mandiri.
Menurut Kepala Sekolah, projek ini dirancang tidak sekadar sebagai kegiatan tambahan, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun karakter siswa.
“Kami berharap proyek ini tidak berhenti di hari penutupan. Kebun sekolah yang telah dibangun oleh siswa harus terus hidup dan berkembang, bahkan menjadi inspirasi bagi keluarga dan masyarakat sekitar,” ujar Alexius Dewa.
Hal senada disampaikan guru fasilitator Hendrikus Hipolitus. Ia menilai keterlibatan langsung siswa menjadi kunci dalam membangun kesadaran lingkungan yang lebih mendalam.
“Kami ingin siswa tidak hanya mengetahui konsep, tetapi benar-benar merasakan dan terlibat. Dari membuat kompos hingga merawat tanaman, semua adalah proses belajar yang utuh,” katanya.
Dari sisi peserta didik, pengalaman tersebut memberikan pemahaman baru. Ketua OSIS, Theresa D’Grace, mengaku awalnya menganggap kegiatan menanam sebagai hal sederhana.
“Saya pikir menanam itu mudah. Ternyata ada proses dan ilmunya. Kami belajar bahwa alam harus dipahami dan dijaga dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini mengajarkan pentingnya kerja sama. Dalam kelompok, setiap siswa memiliki peran berbeda, mulai dari penyiraman, pencatatan, hingga perawatan lahan.
“Kalau tidak kompak, tanaman tidak akan tumbuh dengan baik. Jadi kami belajar saling mengingatkan dan bekerja sama,” katanya.
Selain aspek keterampilan, projek ini juga menekankan penilaian berbasis karakter. Siswa tidak hanya dinilai dari hasil akademik, tetapi juga dari tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, hingga kemampuan refleksi diri.
Ke depan, sekolah menargetkan keberlanjutan kebun sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran. Hasil projek juga direncanakan untuk dipublikasikan melalui media sosial sekolah, sekaligus melibatkan masyarakat sekitar dalam praktik bercocok tanam.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan, pendekatan pembelajaran seperti ini dinilai menjadi langkah konkret dalam menanamkan kesadaran sejak dini. Bagi SMP Negeri Kewapante, pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk generasi yang mampu merawat lingkungan dan berkontribusi bagi masa depan yang berkelanjutan.
Yuvenfernandez















