Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Pemerintah

Hardiknas 2026: Gubernur NTT Tekankan Tiga Pilar Pendidikan—Akademik, Karakter, dan Kewirausahaan

6
×

Hardiknas 2026: Gubernur NTT Tekankan Tiga Pilar Pendidikan—Akademik, Karakter, dan Kewirausahaan

Sebarkan artikel ini

Kupang-BreakingNewspost.id — 2 Mei 2026 — Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 di Nusa Tenggara Timur dimanfaatkan sebagai momentum untuk menegaskan arah pembangunan pendidikan daerah. Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menekankan pentingnya penguatan tiga pilar utama, yakni kemampuan akademik, pembangunan karakter, dan penumbuhan jiwa kewirausahaan.

Penegasan tersebut disampaikan saat Gubernur bertindak sebagai inspektur upacara dalam peringatan Hardiknas yang digelar di Universitas PGRI 1945 NTT. Upacara diikuti oleh unsur akademisi, guru, mahasiswa, serta organisasi profesi pendidikan.

Dalam amanatnya, Gubernur membacakan sambutan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, yang menekankan bahwa Hardiknas merupakan momentum refleksi untuk meneguhkan kembali hakikat pendidikan sebagai proses “memanusiakan manusia” secara utuh—dengan nilai kasih, martabat, dan kemanusiaan.

Menurut Gubernur, semangat tersebut sejalan dengan visi pembangunan nasional yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama dalam mencetak sumber daya manusia unggul. Ia menyinggung arah kebijakan pemerintah pusat yang menekankan transformasi pendidikan melalui pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning).

Dalam konteks itu, pemerintah pusat menetapkan sejumlah kebijakan strategis, antara lain revitalisasi sarana pendidikan dan digitalisasi pembelajaran, peningkatan kesejahteraan guru melalui beasiswa dan insentif, penguatan pendidikan karakter melalui berbagai program, peningkatan mutu pembelajaran berbasis sains dan teknologi, serta perluasan akses pendidikan inklusif.

Namun demikian, Gubernur menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan tersebut tidak hanya ditentukan oleh program, melainkan oleh kesiapan sumber daya manusia yang menjalankannya. Ia menyoroti pentingnya tiga faktor kunci: pola pikir (mindset) yang maju, mental yang kuat, dan misi yang lurus.

“Tanpa mindset, mental, dan misi yang benar, kebijakan hanya akan berhenti pada program dan formalitas yang diukur sebatas angka,” ujarnya.

Lebih jauh, Gubernur menggarisbawahi bahwa pembangunan pendidikan di NTT harus diarahkan pada penguatan tiga pilar utama.

Pertama, penguatan akademik. Ia menilai penguasaan ilmu pengetahuan menjadi syarat mutlak bagi generasi muda untuk bersaing di tingkat nasional maupun global.

Kedua, pembangunan karakter. Nilai-nilai integritas, disiplin, dan tanggung jawab disebut sebagai fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Ketiga, penumbuhan jiwa kewirausahaan. Menurutnya, pendidikan tidak lagi cukup hanya mencetak pencari kerja, tetapi juga harus melahirkan pencipta lapangan kerja.

“Nusa Tenggara Timur harus melahirkan generasi yang mampu mandiri dan berinovasi. Semangat kewirausahaan harus dibangun sejak jenjang dasar hingga perguruan tinggi,” tegasnya.

Untuk mendukung hal tersebut, Pemerintah Provinsi NTT tengah memperkuat kolaborasi dengan sektor perbankan guna membuka akses permodalan bagi pelaku usaha, khususnya generasi muda.

Di sisi lain, kehadiran berbagai pemangku kepentingan dalam peringatan Hardiknas ini menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Ketua PGRI NTT Semuel Haning, Rektor Universitas PGRI 1945 NTT Uly Jonathan Riwu Kaho, jajaran dosen, guru, serta mahasiswa.

Peringatan Hardiknas tahun ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tantangan pendidikan tidak hanya terletak pada akses, tetapi juga kualitas dan relevansi. Di tengah perubahan global yang cepat, pendidikan dituntut mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat dan adaptif terhadap perubahan.

Dalam konteks NTT, penguatan kewirausahaan menjadi salah satu strategi penting untuk menjawab tantangan keterbatasan lapangan kerja. Namun, implementasinya membutuhkan dukungan ekosistem yang memadai, mulai dari pendidikan, pelatihan, hingga akses pembiayaan.

Menutup sambutannya, Gubernur mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dalam membangun pendidikan yang inklusif dan berdaya saing.

“Hardiknas harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama menghadirkan pendidikan yang berkualitas, demi melahirkan generasi NTT yang unggul, berkarakter, dan mandiri,” ujarnya.

Bergitha abi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *