Kefamenanu-BreakingNewspost.id — 2 Mei 2026 — Peringatan Hari Pendidikan Nasional ke-67 di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menjadi momentum penegasan arah pembangunan pendidikan yang menekankan kualitas, inklusivitas, dan partisipasi bersama. Upacara digelar di Lapangan Kantor Bupati TTU dan diikuti ratusan peserta dari berbagai satuan pendidikan.
Bupati TTU, Yosef Falentinus Delasalle Kebo, dalam amanatnya membacakan sambutan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti. Dalam sambutan tersebut ditegaskan bahwa Hardiknas merupakan momentum refleksi untuk menghidupkan kembali semangat pendidikan sebagai proses “memanusiakan manusia” secara utuh—dengan pendekatan yang tulus, penuh kasih, dan bermartabat.
Mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, peringatan Hardiknas tahun ini menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen dalam pembangunan pendidikan.
Dalam pidatonya, Bupati Yosef Kebo menegaskan bahwa inti dari pendidikan adalah memuliakan manusia melalui tiga pendekatan utama: asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan).
“Pendidikan harus mampu menemukan dan mengembangkan potensi kodrati manusia sebagai makhluk Tuhan yang mulia. Di situlah letak esensi pendidikan,” ujarnya.
Ia juga mengaitkan arah kebijakan pendidikan dengan amanat konstitusi, yakni Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, yang menegaskan bahwa pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus membangun karakter dan peradaban.
Menurut Bupati, upaya memperbaiki kualitas pendidikan harus dimulai dari ruang kelas, melalui penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pemahaman yang utuh dan kontekstual.
Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menetapkan lima kebijakan strategis. Pertama, revitalisasi satuan pendidikan dan digitalisasi pembelajaran guna menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Kedua, peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru sebagai aktor utama dalam proses pendidikan. Ketiga, penguatan karakter melalui penciptaan budaya sekolah yang aman dan nyaman, sejalan dengan konsep budaya ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah).
Keempat, peningkatan mutu pembelajaran melalui penguatan literasi, numerasi, serta pendekatan berbasis sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM). Kelima, perluasan akses pendidikan yang inklusif melalui berbagai skema, seperti pembelajaran jarak jauh, sekolah terbuka, dan layanan pendidikan fleksibel lainnya.
Bupati juga menegaskan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan tersebut sangat bergantung pada tiga faktor utama, yakni pola pikir (mindset), mentalitas, dan misi yang jelas.
“Tanpa mindset, mental, dan misi yang kuat, kebijakan pendidikan hanya akan berhenti pada program formalitas yang diukur dari angka-angka,” katanya.
Momentum Hardiknas, lanjutnya, harus dimaknai sebagai penguatan kualitas sumber daya manusia di TTU melalui pendidikan yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Selain itu, Bupati menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan Hardiknas, termasuk Beato Yosef Omenu selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan TTU beserta jajarannya, serta unsur pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada tenaga pendidik, peserta didik, serta insan pers yang turut berpartisipasi dalam menyukseskan rangkaian kegiatan Hardiknas tahun ini.
Kegiatan ini melibatkan berbagai sekolah di wilayah Kota Kefamenanu, yang tergabung dalam 24 Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) tingkat SD dan tujuh Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) tingkat SMP.
Peringatan Hardiknas ke-67 di TTU menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berdaya saing dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Di tengah tantangan pembangunan daerah, pendidikan tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi perubahan zaman.
Bergitha abi















