Sikka,-BreakingNewspost.id — 2 Mei 2026 — Di tengah hiruk-pikuk aktivitas ekonomi kawasan pertokoan Geliting, Kabupaten Sikka, terdapat potret kontras yang memprihatinkan. Seorang perempuan lanjut usia, Vinsensia (62), yang merupakan penyandang disabilitas psikososial, diketahui tinggal di sebuah gubuk reyot di area eks Pasar Geliting, Kecamatan Kewapante.
Gubuk berukuran sekitar 1,5 meter x 1,5 meter itu nyaris tak layak huni. Atapnya hanya terdiri dari potongan seng bekas yang ditutup terpal dan baliho lusuh. Dindingnya terbuka, dikelilingi semak dan rumput liar. Untuk masuk, penghuni harus menunduk karena tinggi pintu yang sangat rendah.

Di sekitar gubuk, tampak karung-karung berisi barang rongsokan—hasil pungutan Vinsensia dari jalanan dan pertokoan—yang kemudian dijual kepada pengepul untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kondisi tersebut telah berlangsung sejak sekitar Oktober 2025, setelah sebelumnya Vinsensia berpindah-pindah tempat tinggal, termasuk sempat menetap di kawasan Pasar Wairkoja.
Community Officer Yayasan Payung Perjuangan Humanis (PAPHA) Indonesia, Emilianus Esek Soge, mengatakan bahwa Vinsensia merupakan dampingan lembaganya sejak 2024 melalui program konsorsium BERSAHAJA (Bersama untuk Flores yang Sehat Jiwa).
“Yang bersangkutan memang tidak menetap. Sebelumnya tinggal di Pasar Wairkoja, lalu sejak beberapa bulan terakhir berada di lokasi ini,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Menurut Emilianus, pihaknya selama ini hanya dapat memberikan pendampingan psikososial. Upaya untuk mendorong pengobatan juga telah dilakukan melalui kader kesehatan jiwa (keswa), namun belum sepenuhnya diterima oleh Vinsensia.
“Kader keswa sudah beberapa kali menawarkan pengobatan, tetapi yang bersangkutan belum bersedia,” kata dia.
Meski demikian, kunjungan rutin tetap dilakukan, baik oleh kader keswa maupun pihak yayasan. Bantuan berupa makanan dan uang sesekali diberikan, namun tidak selalu diterima.
“Kalau dari kami atau keluarga, biasanya diterima. Tapi jika dari orang yang tidak dikenal, sering kali ditolak,” ujar Emilianus.
Hal tersebut dibenarkan oleh Yanti, pemilik warung yang berada tidak jauh dari lokasi gubuk.
“Saya pernah beri nasi, tapi ditolak. Memang dia hanya mau terima dari orang tertentu saja,” kata Yanti.
Kondisi tempat tinggal yang berada di tengah semak belukar juga memunculkan kekhawatiran warga sekitar, terutama terkait potensi bahaya lingkungan.
“Kami khawatir kalau sampai digigit ular, karena lokasinya memang di tengah rumput tinggi,” ujar salah seorang warga.
Situasi ini menyoroti persoalan yang lebih luas terkait penanganan warga dengan disabilitas psikososial, khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar seperti tempat tinggal layak dan akses layanan kesehatan.
Pihak Yayasan PAPHA berharap pemerintah desa maupun Pemerintah Kabupaten Sikka dapat mengambil langkah konkret untuk menyediakan hunian yang lebih layak dan aman bagi Vinsensia.
“Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah, terutama terkait tempat tinggal yang layak agar yang bersangkutan bisa hidup lebih aman dan sehat,” kata Emilianus.
Hingga laporan ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pemerintah setempat terkait penanganan kasus tersebut.
Kasus Vinsensia menjadi pengingat bahwa di balik geliat aktivitas ekonomi dan pembangunan daerah, masih terdapat kelompok rentan yang membutuhkan perhatian lebih serius. Penanganan yang terintegrasi antara aspek sosial, kesehatan, dan lingkungan dinilai menjadi kunci dalam memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam akses terhadap kehidupan yang layak.
Yuvenfernandez















