Sikka-Breakingnewspost.id — Perjuangan hidup mencari nafkah tidak selalu berjalan ringan. Di tengah terik matahari dan derasnya perubahan zaman, Filemon (65), warga Nilo, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, tetap bertahan menjalani profesi yang telah digelutinya sejak muda: membuat dan menjual lesung serta alu secara tradisional.
Setiap hari, Filemon turun ke Kota Maumere membawa dua buah lesung lengkap dengan alu menggunakan jasa ojek dari kampungnya. Setibanya di Pasar Alok Maumere, satu lesung dititipkan di sebuah warung, sementara satu lainnya dipikul sendiri berkeliling kota untuk dijajakan.
Dengan mengandalkan kekuatan bahunya, Filemon memikul lesung sambil menggenggam alu, menyusuri jalanan Kota Maumere hingga wilayah sekitar seperti Wolomarang. Panas terik dan tubuh yang bersimbah keringat tak menyurutkan semangat ayah lima anak tersebut demi mendapatkan penghasilan untuk keluarga.
“Hari ini sudah terjual satu buah di Wolomarang dengan harga Rp150 ribu. Setelah itu saya ambil lagi satu lesung untuk dijual,” ujar Filemon saat ditemui Breakingnewspost.id ketika beristirahat di depan SMAS St. Caritas Maumere, Senin (11/5/2026).
Filemon menuturkan, pekerjaan membuat lesung dan alu sudah ia tekuni sejak masih bujang. Aktivitas itu biasanya dilakukan setelah musim panen selesai.
“Saya seorang petani, kerja di kebun saat musim tanam dan panen. Kalau panen selesai seperti sekarang, banyak waktu luang, jadi saya buat lesung dan alu dari batang pohon mangga,” katanya.
Pembuatan lesung masih dilakukan secara tradisional dengan mengandalkan parang sebagai alat utama. Untuk menghasilkan satu set lesung dan alu, ia membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Dalam seminggu, Filemon mampu membuat dua buah lesung.
Menurutnya, pekerjaan tersebut menjadi salah satu cara agar dapur keluarganya tetap mengepul. Sang istri, Mia (56), juga bekerja sebagai petani sekaligus penenun tradisional. Sementara kelima anak mereka kini merantau, tiga orang bekerja di Kalimantan dan dua lainnya di Papua.
Filemon mengungkapkan, jumlah pengrajin lesung di kampungnya kini semakin berkurang. Dari sebelumnya empat orang, kini hanya tersisa dua orang yang masih aktif bekerja.
“Yang satu sudah meninggal, satu lagi sudah tidak bisa kerja karena usia. Sekarang tinggal dua orang yang masih aktif buat lesung. Teman yang satu lagi memilih jualan sampai ke Pasar Lekebai,” terangnya.
Lesung dan alu berbahan kayu mangga merupakan alat tumbuk tradisional yang dahulu banyak digunakan masyarakat pedesaan untuk menumbuk padi maupun bahan makanan lainnya. Namun, keberadaan alat tersebut kini semakin tergerus oleh perkembangan peralatan modern.
Di tengah perubahan zaman itu, sosok Filemon bukan hanya sekadar mencari nafkah. Ia juga menjadi penjaga warisan budaya tradisional yang perlahan mulai ditinggalkan masyarakat.
Dengan langkah perlahan dan bahu yang terus memikul lesung dari satu tempat ke tempat lain, Filemon menghadirkan potret ketekunan, kesederhanaan, sekaligus ketahanan hidup masyarakat kecil di Kabupaten Sikka.
Yuven Fernandez
















