KUPANG-BreakingNewspost.id – Pertemuan antara musisi legendaris Indonesia, atau yang lebih dikenal sebagai Iwan Fals, dengan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), , Minggu (7/6/2026) malam, bukan sekadar silaturahmi biasa. Di balik suasana hangat dan penuh keakraban di Rumah Jabatan Gubernur NTT, terselip perbincangan mendalam mengenai seni, budaya, pembangunan daerah, hingga masa depan generasi muda NTT.
Kedatangan Iwan Fals ke Kupang menyusul konser bertajuk Pentas Memori Hardrock D’Legend Concert yang digelar di Stadion Oepoi sehari sebelumnya. Kehadiran musisi yang telah puluhan tahun menjadi suara kritik sosial masyarakat Indonesia itu disambut langsung oleh Gubernur Melki Laka Lena bersama jajaran Pemerintah Provinsi NTT, unsur Forkopimda, anggota DPRD, tokoh masyarakat, dan sejumlah seniman lokal.
Namun yang menarik, pertemuan tersebut tidak hanya membahas musik atau dunia hiburan. Diskusi berkembang pada peran seni dan budaya sebagai kekuatan yang mampu mempengaruhi cara berpikir masyarakat dan arah pembangunan daerah.
Dalam pertemuan itu, Gubernur Melki Laka Lena mengenang sosok almarhum , musisi yang disebut memiliki peran penting dalam perjalanan hidupnya. Nama Franky menjadi titik temu yang mempererat hubungan antara dirinya dan Iwan Fals.
Menurut Melki, perkenalannya dengan Franky Sahilatua sejak awal tahun 2000-an telah membentuk pemahamannya bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memahami birokrasi dan politik, tetapi juga harus mengerti seni dan budaya.
“Saya belajar dari almarhum Franky bahwa musisi dan budayawan sering kali memberikan pengaruh besar kepada masyarakat tanpa harus terlibat langsung dalam politik. Mereka mampu membangun kesadaran sosial dan kemanusiaan melalui karya-karyanya,” ujar Melki.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana seni dipandang bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen pendidikan sosial yang mampu membentuk karakter bangsa.
Dalam kesempatan itu, Gubernur NTT juga memberikan apresiasi terhadap perjalanan panjang Iwan Fals yang selama puluhan tahun konsisten menghadirkan lagu-lagu bertema kritik sosial, kemanusiaan, dan kehidupan masyarakat.
Bagi Melki, karya-karya seperti Bento, Bongkar, hingga Surat Buat Wakil Rakyat bukan hanya lagu yang populer di telinga masyarakat, melainkan cermin realitas sosial yang terus relevan hingga saat ini.
“Lagu-lagu Bang Iwan bukan untuk membuat kita tersinggung. Justru lagu-lagu itu harus menjadi pengingat dan cambuk bagi para pemangku kepentingan agar bekerja lebih baik dalam melayani masyarakat,” katanya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan melalui seni seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai masukan yang dapat memperkuat kualitas pemerintahan dan pelayanan publik.
Sementara itu, Iwan Fals mengaku selalu memiliki kesan tersendiri setiap kali berkunjung ke NTT. Menurutnya, provinsi kepulauan tersebut memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, namun membutuhkan pengelolaan yang tepat agar mampu memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap sejumlah destinasi wisata yang sempat dikunjunginya selama berada di Kupang, termasuk kawasan Pantai Tablolong dan Air Terjun Oenesu.
“NTT punya alam yang luar biasa. Lautnya, pantainya, budayanya, semuanya memiliki daya tarik yang kuat. Kalau dijaga dan ditata dengan baik, potensi ini bisa menjadi kekuatan besar bagi daerah,” ujar Iwan.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak boleh mengabaikan aspek kelestarian lingkungan. Alam yang terjaga akan menjadi modal utama bagi keberlanjutan sektor pariwisata maupun kesejahteraan masyarakat.
“Ketika kita menjaga alam, alam juga akan menjaga kita,” katanya.
Selain wilayah Timor, Iwan juga menyoroti potensi wisata bahari di Flores, Alor, dan Sumba yang dinilai memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional. Keindahan alam yang dipadukan dengan kekayaan budaya lokal dianggap sebagai identitas kuat yang harus dipertahankan di tengah arus modernisasi.
Tak hanya berbicara soal alam dan pariwisata, Iwan Fals juga memberikan perhatian khusus kepada generasi muda NTT. Ia melihat banyak talenta muda berbakat, khususnya di bidang musik dan seni, yang memiliki potensi besar untuk berkembang.
Menurutnya, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk berkreasi dan berkarya.
“Di NTT banyak penyanyi dan musisi berbakat. Saya berharap ke depan semakin banyak lahir musisi hebat dari NTT yang mampu menginspirasi Indonesia bahkan dunia,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penting mengingat NTT selama ini telah melahirkan banyak talenta seni yang dikenal secara nasional. Dengan dukungan ekosistem yang baik, potensi tersebut dapat menjadi salah satu kekuatan pembangunan berbasis kreativitas.
Pertemuan antara Iwan Fals dan Gubernur Melki Laka Lena pada akhirnya menghadirkan pesan yang lebih luas daripada sekadar pertemuan tokoh. Ada pesan tentang pentingnya menjaga alam, menghargai budaya, membuka ruang bagi kreativitas generasi muda, serta menjadikan seni sebagai sumber inspirasi dalam membangun daerah.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan yang dihadapi NTT, pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata. Kemajuan juga lahir dari kemampuan menjaga identitas budaya, merawat lingkungan, dan membangun manusia yang kreatif, kritis, serta memiliki kepedulian sosial.
Kehadiran Iwan Fals di NTT pun meninggalkan pesan sederhana namun mendalam: bahwa musik, seni, dan budaya tetap memiliki peran penting dalam menggerakkan kesadaran masyarakat menuju perubahan yang lebih baik.
Tulisan ini mempertahankan unsur berita, memperdalam nilai sosial dan pembangunan, serta tetap berimbang tanpa kehilangan nuansa humanis dari pertemuan Iwan Fals dan Gubernur NTT.
Bergita abi















