Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaPemerintah

Gubernur Melki: Tenun NTT Bukan Sekadar Kain, tetapi Simbol Identitas, Kekuatan Ekonomi, dan Warisan Intelektual Perempuan

10
×

Gubernur Melki: Tenun NTT Bukan Sekadar Kain, tetapi Simbol Identitas, Kekuatan Ekonomi, dan Warisan Intelektual Perempuan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA-BreakingNewspost.id — Kain tenun Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan sekadar hasil kerajinan tangan yang memiliki nilai estetika tinggi. Di balik setiap helai benang yang ditenun, tersimpan identitas budaya, kearifan lokal, serta perjuangan perempuan yang selama puluhan tahun menjadi penopang ekonomi keluarga dan penjaga warisan leluhur.

Pesan itu disampaikan Gubernur NTT, , saat menghadiri pembukaan pameran “Weaving Wonders: Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan di Nusa Tenggara Timur” yang berlangsung di , Sabtu (13/6/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari bersama Yayasan Uma Nusantara tersebut menghadirkan beragam karya tenun, kuliner lokal, rumah adat, lokakarya, hingga forum dialog yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan, Ketua TP PKK NTT Mindriyati Astiningsih Laka Lena, serta pendiri Yayasan Uma Nusantara, Yori Antar.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam pembangunan ekonomi daerah. Peran tersebut tidak hanya terlihat dalam aktivitas domestik, tetapi juga melalui berbagai usaha produktif yang dijalankan perempuan, mulai dari menenun, mengembangkan pangan lokal, hingga mengelola usaha berbasis komunitas.

Menurutnya, kain tenun yang dihasilkan perempuan NTT memiliki makna yang jauh lebih besar dibandingkan nilai komersialnya semata.

“Perempuan NTT memiliki peran besar dalam mendukung ekonomi keluarga. Salah satu contohnya adalah kain tenun yang dibuat oleh mama-mama NTT. Tenun harus terus dijaga dan diwariskan kepada setiap generasi karena merupakan simbol budaya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus kekayaan intelektual masyarakat NTT,” ujar Melki.

Ia menekankan bahwa proses pembuatan kain tenun membutuhkan kesabaran, ketelitian, keterampilan, dan dedikasi tinggi. Karena itu, setiap lembar kain tenun sesungguhnya menyimpan cerita panjang tentang kehidupan masyarakat, nilai-nilai budaya, serta perjuangan perempuan dalam menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga.

“Di balik selembar kain tenun NTT terdapat cerita tentang ketekunan, perjuangan, dan harapan. Ada tangan-tangan perempuan yang sejak pagi membantu suami di kebun, mengurus keluarga, lalu kembali duduk menenun hingga malam hari. Dari benang-benang itulah lahir kekuatan ekonomi keluarga sekaligus identitas budaya NTT,” katanya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana tenun selama ini tidak hanya menjadi simbol kebudayaan, tetapi juga bagian dari strategi bertahan hidup masyarakat di berbagai wilayah NTT. Bagi banyak keluarga, aktivitas menenun telah menjadi sumber penghasilan tambahan yang membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan anak, hingga menopang ekonomi desa.

Sementara itu, pendiri Yayasan Uma Nusantara, Yori Antar, menjelaskan bahwa pameran Weaving Wonders dirancang sebagai ruang kolaborasi untuk mempertemukan berbagai pihak dalam membangun ekosistem pemberdayaan perempuan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Menurutnya, pembangunan ekonomi berbasis budaya dan kearifan lokal membutuhkan dukungan lintas sektor agar mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

“Pameran ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, investor, akademisi, hingga lembaga donor untuk mengeksplorasi berbagai kebijakan dan kemitraan yang mampu mendorong peran perempuan dalam pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Yori.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri PPPA Veronica Tan menyoroti keterkaitan erat antara persoalan ekonomi dengan berbagai masalah sosial yang masih dihadapi masyarakat, seperti kekerasan terhadap perempuan dan anak, pekerja anak, perkawinan usia dini, hingga stunting.

Menurut Veronica, penguatan ekonomi keluarga menjadi salah satu kunci penting untuk memutus berbagai persoalan tersebut.

“Masalah sosial tidak bisa diselesaikan secara terpisah. Program-program seperti Kebun Pangan Perempuan dan agroforestri bambu menjadi pintu masuk strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di NTT,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan Survei GoodStats 2024, perempuan NTT memberikan kontribusi sebesar 42,4 persen terhadap pendapatan rumah tangga, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada pada angka 36,1 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa perempuan NTT bukan hanya berperan sebagai pengelola rumah tangga, tetapi juga menjadi aktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga.

“Ketika perempuan berdaya, ekonomi lokal tumbuh, pendapatan daerah meningkat, dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat,” kata Veronica.

Ketua TP PKK NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, menambahkan bahwa sebagian besar pengrajin tenun di NTT merupakan ibu rumah tangga yang menjalankan banyak peran sekaligus. Mereka membantu pekerjaan di kebun, mengurus keluarga, sekaligus menenun untuk menambah pendapatan rumah tangga.

Karena itu, menurutnya, para perajin tenun perlu memperoleh dukungan yang lebih besar melalui pelatihan, akses pemasaran, penguatan kelembagaan, serta pendampingan usaha yang berkelanjutan.

“Tenun bukan hanya warisan budaya yang harus dilestarikan, tetapi juga sumber ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat,” ujarnya.

Pengakuan terhadap peran perempuan NTT juga terlihat dari kebijakan pemerintah yang pada Mei 2026 menyerahkan Surat Keputusan Perhutanan Sosial kepada enam kelompok tani hutan perempuan di NTT untuk mengelola lahan seluas 648 hektare. Kebijakan tersebut menjadi bukti bahwa perempuan tidak hanya mampu menjaga budaya, tetapi juga berperan penting dalam pengelolaan sumber daya alam dan pemulihan lingkungan secara berkelanjutan.

Pameran Weaving Wonders pada akhirnya tidak sekadar menampilkan keindahan tenun dan kekayaan budaya NTT. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa budaya, kearifan lokal, dan pemberdayaan perempuan merupakan fondasi penting dalam membangun ekonomi masyarakat yang tangguh, menjaga identitas bangsa, serta mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Di tengah arus globalisasi yang terus bergerak cepat, tenun NTT tetap menjadi simbol bahwa kekuatan sebuah daerah tidak hanya terletak pada sumber daya alamnya, tetapi juga pada kemampuan masyarakatnya menjaga warisan budaya dan mengubahnya menjadi kekuatan ekonomi bagi generasi masa depan.

Bergita abi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *