Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Pemerintah

WAGUB NTT INGATKAN ANCAMAN LAUT RUSAK DI PULAU BUAYA: JIKA EKOSISTEM HANCUR, MASA DEPAN MASYARAKAT IKUT TERANCAM

3
×

WAGUB NTT INGATKAN ANCAMAN LAUT RUSAK DI PULAU BUAYA: JIKA EKOSISTEM HANCUR, MASA DEPAN MASYARAKAT IKUT TERANCAM

Sebarkan artikel ini

ALOR-BreakingNewspost.id – Di balik keindahan bawah laut Alor yang mendunia, tersimpan ancaman nyata yang mulai menggerus masa depan masyarakat pesisir. Kerusakan lingkungan laut akibat praktik penangkapan ikan yang tidak bertanggung jawab kini menjadi peringatan keras: ketika alam terganggu, maka sumber kehidupan rakyat pun ikut terancam.

Pesan serius itu disampaikan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma, saat melakukan kunjungan kerja ke Pulau Buaya, Kabupaten Alor, Rabu (24/6/2026).

Di hadapan tokoh masyarakat, adat, dan perangkat desa, Johni menegaskan bahwa menjaga kelestarian alam bukan sekadar tugas teknis lingkungan, melainkan investasi kehidupan bagi generasi mendatang.

Alam harus kita jaga bersama untuk anak cucu. Jika laut rusak, maka sumber kehidupan yang selama ini kita andalkan juga akan hilang. Itu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri,” tegas Johni.

Rantai Kerusakan yang Menghantam Ekonomi

Alor selama ini dikenal sebagai surga bahari dengan terumbu karang dan keanekaragaman hayati yang menjadi daya tarik wisatawan dunia. Namun, potensi besar ini terus terancam oleh praktik merusak, termasuk penggunaan bahan peledak.

Johni mengingatkan dampak yang terjadi sangat nyata dan berantai. Ketika karang hancur, ikan-ikan akan pergi. Ketika hasil tangkapan menyusut, ekonomi nelayan dan keluarga akan terhimpit. Ketika keindahan alam hilang, sektor pariwisata yang menjadi harapan daerah pun ikut terpukul.

Kerugiannya bukan hanya dirasakan hari ini, tapi bisa berlangsung bertahun-tahun. Karena itu, kita harus berhenti merusak dan beralih ke cara menangkap ikan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujarnya.

Di Tengah Keterbatasan, Harapan Tetap Dibangun

Kunjungan ini juga membuka mata bahwa di tengah isu lingkungan, masyarakat Pulau Buaya masih memikul beban kebutuhan dasar yang belum tuntas. Mulai dari ketersediaan air bersih, fasilitas pendidikan, hingga pelayanan kesehatan yang masih terbatas karena belum adanya puskesmas.

Merespons hal tersebut, Wagub Johni menyatakan komitmen pemerintah untuk hadir memberikan solusi, termasuk rencana pembangunan sumur bor yang telah melalui tahap survei.

Kami mengerti tantangan geografis dan keterbatasan anggaran. Namun pemerintah hadir untuk mendengarkan dan berupaya semaksimal mungkin membantu sesuai kemampuan. Kuncinya ada pada komunikasi dan kerja sama yang baik,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo menilai kunjungan ini menjadi bukti nyata perhatian provinsi terhadap wilayah terluar.

Tantangan pembangunan saat ini tidak ringan, terutama di tengah tekanan fiskal. Namun kehadiran Wagub memberikan semangat baru dan memperkuat sinergi antara kabupaten dan provinsi,” kata Rocky.

Kepala Desa Pulau Buaya, Hasim Anwar, menjelaskan desanya dihuni sekitar 1.835 jiwa. Sebagian besar laki-laki bekerja sebagai nelayan, sementara perempuan menggantungkan ekonomi dari menenun. Banyak generasi muda yang terpaksa merantau demi mencari kehidupan yang lebih layak.

Laut adalah Masa Depan

Di akhir kunjungan, setelah meninjau fasilitas desa dan menyaksikan turnamen sepak bola lokal, Johni Asadoma kembali menekankan pesan utamanya.

Bagi masyarakat pesisir, laut bukan sekadar bentang alam. Laut adalah dapur, adalah sekolah, adalah masa depan.

Membangun daerah tidak hanya soal jalan dan gedung. Menjaga laut tetap biru dan lestari sama pentingnya dengan membangun sekolah atau puskesmas. Karena selama laut sehat, maka harapan masyarakat akan terus hidup,” pungkasnya.

@Bergita abi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *