Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Bantahan Pengawas Belum Redakan Pertanyaan Publik, Distribusi Pertalite SPBU Duo Koto Diminta Diperiksa

7
×

Bantahan Pengawas Belum Redakan Pertanyaan Publik, Distribusi Pertalite SPBU Duo Koto Diminta Diperiksa

Sebarkan artikel ini

Pasaman,BreakingNewspost.id –14 Juli 2026 Keluhan masyarakat terhadap pelayanan BBM bersubsidi di SPBU Pertamina 15.263.108 Silang Empat, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, kembali mencuat. Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan Pertalite disebut hampir menjadi pemandangan sehari-hari. Di sisi lain, warga mengaku stok BBM bersubsidi itu kerap habis sebelum tengah hari, sehingga banyak masyarakat yang datang dari wilayah pedalaman terpaksa pulang tanpa memperoleh bahan bakar.

Menurut sejumlah warga, Pertalite di SPBU tersebut sering kali tidak lagi tersedia sekitar pukul 11.00 WIB. Kondisi itu dinilai menyulitkan masyarakat yang harus menempuh perjalanan cukup jauh menuju SPBU, terutama mereka yang menggantungkan aktivitas ekonomi dan mobilitas sehari-hari pada ketersediaan BBM bersubsidi.

Di tengah kelangkaan yang dikeluhkan warga, berkembang dugaan bahwa cepat habisnya stok Pertalite berkaitan dengan banyaknya pengisian menggunakan jeriken yang diduga kemudian dibawa ke luar wilayah Kecamatan Dua Koto. Dugaan tersebut menjadi perbincangan di tengah masyarakat, meski hingga kini belum terdapat bukti yang membenarkan adanya praktik penjualan Pertalite ke luar daerah.

Warga berharap informasi yang berkembang tersebut tidak berhenti sebagai isu. Mereka meminta pihak yang memiliki kewenangan melakukan pemeriksaan menyeluruh agar penyebab cepat habisnya stok dapat diketahui secara objektif dan tidak terus memunculkan spekulasi.

Kalau memang tidak ada pelanggaran, kami berharap ada penjelasan yang didukung data. Tetapi kalau ditemukan pelanggaran, tentu harus ditindak sesuai aturan,” ujar salah seorang warga.

Menurut masyarakat, apabila pengisian menggunakan jeriken memang diperbolehkan dalam kondisi tertentu sesuai ketentuan, pelaksanaannya harus diawasi secara ketat agar tidak mengurangi hak masyarakat sekitar memperoleh BBM bersubsidi. Warga menilai subsidi energi seharusnya lebih dahulu memenuhi kebutuhan masyarakat Kecamatan Dua Koto sebelum dimanfaatkan untuk kepentingan lain yang tidak sesuai dengan peruntukannya.

Sebelumnya, pengawas SPBU Silang Empat membantah isu mengenai adanya penjualan Pertalite ke luar daerah. Pihak SPBU menyatakan penyaluran BBM telah dilakukan sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku.

Meski demikian, bagi sebagian masyarakat, bantahan tersebut belum sepenuhnya menjawab pertanyaan mengenai penyebab stok Pertalite yang dinilai berulang kali habis lebih cepat. Warga berharap pengelola SPBU membuka informasi mengenai kuota harian yang diterima, realisasi penyaluran, pola pelayanan kepada konsumen, serta mekanisme pengisian menggunakan jeriken apabila memang dilakukan sesuai aturan.

Masyarakat juga meminta PT Pertamina Patra Niaga melakukan evaluasi terhadap distribusi Pertalite di SPBU tersebut. Selain itu, BPH Migas sebagai regulator pengawasan BBM bersubsidi diminta memastikan seluruh mekanisme penyaluran berjalan sesuai ketentuan.

Apabila terdapat indikasi pelanggaran terhadap aturan distribusi BBM bersubsidi, masyarakat berharap aparat penegak hukum (APH) dapat melakukan penyelidikan sesuai kewenangannya berdasarkan fakta dan alat bukti yang ditemukan. Sebaliknya, apabila tidak ditemukan pelanggaran, hasil pemeriksaan diharapkan disampaikan secara terbuka agar tidak terus menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Bagi warga Kecamatan Dua Koto, persoalan ini tidak hanya menyangkut panjangnya antrean, tetapi juga menyangkut kepastian akses terhadap BBM bersubsidi yang menjadi kebutuhan penting bagi aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, mereka berharap pemerintah, Pertamina, BPH Migas, dan instansi terkait mengambil langkah konkret melalui pengawasan yang objektif, transparansi data distribusi, serta penjelasan resmi mengenai penyebab stok Pertalite yang kerap habis sebelum tengah hari.

M. Ali asman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *