Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Pasar Tetewatu Kian Lengang, Denyut Ekonomi Desa Melemah; APKLI-P Sulsel Minta Pemerintah Jangan Tutup Mata

59
×

Pasar Tetewatu Kian Lengang, Denyut Ekonomi Desa Melemah; APKLI-P Sulsel Minta Pemerintah Jangan Tutup Mata

Sebarkan artikel ini

SOPPENG|BreakingNewspost.id — Pasar Tetewatu di Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat pedesaan, kini memperlihatkan wajah yang berbeda. Pada Minggu (19/7/2026), suasana pasar tampak lengang. Lapak-lapak pedagang tetap terbuka, namun arus pembeli yang biasanya memadati area pasar jauh berkurang.

Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas transaksi berlangsung lambat. Sejumlah pedagang lebih banyak duduk menunggu pembeli dibandingkan melayani transaksi. Tidak sedikit barang dagangan yang hingga siang hari masih tersusun rapi di atas meja jualan karena minimnya pembeli yang datang.

Bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kondisi tersebut bukan lagi sekadar penurunan omzet harian. Mereka menilai lesunya aktivitas pasar mencerminkan semakin melemahnya daya beli masyarakat desa. Perputaran uang yang biasanya terjadi melalui transaksi kebutuhan pokok, hasil pertanian, maupun produk UMKM kini dinilai tidak lagi bergerak sebagaimana mestinya.

Kalau pasar sepi, uang juga tidak berputar. Dagangan banyak yang tidak habis terjual, sementara kebutuhan hidup terus berjalan,” ujar salah seorang pedagang.

Kondisi itu menjadi gambaran bahwa tekanan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh pedagang pasar. Dampaknya merembet hingga petani, peternak, nelayan, pengangkut barang, pelaku jasa, bahkan usaha kecil yang menggantungkan penghasilannya dari aktivitas perdagangan di pasar rakyat.

Dalam struktur ekonomi pedesaan, pasar tradisional memiliki fungsi strategis sebagai pusat distribusi barang dan perputaran uang. Ketika aktivitas pasar melemah, efek berantainya dapat memengaruhi pendapatan masyarakat, mengurangi konsumsi rumah tangga, hingga memperlambat pertumbuhan ekonomi lokal.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua DPW APKLI-P Sulawesi Selatan menyatakan keprihatinannya. Menurutnya, ramainya pasar tradisional merupakan indikator paling nyata untuk membaca kondisi ekonomi masyarakat di lapisan bawah.

Kalau pasar desa mulai kehilangan pembeli, itu bukan hanya persoalan pedagang. Itu adalah sinyal bahwa daya beli masyarakat sedang melemah dan perputaran ekonomi desa sedang melambat. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah,” tegasnya.

APKLI-P Sulawesi Selatan menilai pemerintah daerah perlu segera melakukan evaluasi terhadap kondisi ekonomi riil masyarakat. Organisasi tersebut mendorong adanya langkah konkret untuk menghidupkan kembali pasar rakyat melalui penguatan sektor UMKM, peningkatan akses pembiayaan, perluasan pemasaran produk lokal, serta program-program yang mampu meningkatkan daya beli masyarakat.

Selain itu, evaluasi terhadap berbagai program pemberdayaan ekonomi dinilai penting agar bantuan pemerintah benar-benar memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Menurut APKLI-P, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak cukup diukur dari angka pertumbuhan atau realisasi anggaran, tetapi juga harus tercermin dari meningkatnya aktivitas perdagangan di pasar tradisional.

Di sisi lain, sejumlah pengamat ekonomi kerap menilai bahwa pasar rakyat merupakan barometer ekonomi yang paling mudah dibaca. Ketika pasar ramai, daya beli masyarakat umumnya membaik. Sebaliknya, ketika pasar mulai lengang dalam waktu yang cukup lama, kondisi tersebut dapat menjadi indikator perlunya evaluasi terhadap kebijakan ekonomi yang menyentuh masyarakat kecil.

Meski demikian, penyebab lesunya aktivitas perdagangan di Pasar Tetewatu masih memerlukan kajian yang lebih komprehensif. Faktor musiman, perubahan pola konsumsi, kondisi hasil panen, hingga situasi ekonomi regional dapat turut memengaruhi tingkat transaksi di pasar.

Karena itu, konfirmasi dan penjelasan resmi dari Pemerintah Kabupaten Soppeng melalui Dinas Perdagangan, Dinas Koperasi dan UMKM, maupun instansi terkait menjadi penting agar publik memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi tersebut, termasuk langkah-langkah yang sedang dan akan dilakukan untuk mendorong pemulihan ekonomi masyarakat.

pada akhirnya, kondisi Pasar Tetewatu menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya berbicara mengenai angka-angka makro, tetapi juga tentang denyut kehidupan pasar rakyat. Ketika pasar desa mulai kehilangan keramaiannya, maka perhatian terhadap ekonomi kerakyatan menjadi semakin mendesak agar pelaku UMKM tetap mampu bertahan dan kesejahteraan masyarakat tidak terus mengalami penurunan.@Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *