Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Banjir Kembali Rendam Sinjai Utara, Curah Hujan Tinggi Uji Ketangguhan Infrastruktur Drainase

20
×

Banjir Kembali Rendam Sinjai Utara, Curah Hujan Tinggi Uji Ketangguhan Infrastruktur Drainase

Sebarkan artikel ini

SINJAI|BreakingNewspost.id — Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Sinjai sejak Minggu dini hari (19/7/2026) kembali memicu banjir di sejumlah kawasan Kecamatan Sinjai Utara. Meluapnya debit air tidak hanya menggenangi ruas-ruas jalan utama, tetapi juga merendam rumah warga dan mengganggu aktivitas masyarakat sejak dini hari.

Berdasarkan pantauan di lapangan, genangan air mulai meningkat sekitar pukul 02.30 WITA. Dalam waktu relatif singkat, air meluas ke kawasan permukiman dan sejumlah akses vital di pusat kota. Dibandingkan kejadian sebelumnya, banjir kali ini dilaporkan memiliki dampak yang lebih besar karena air telah memasuki rumah-rumah warga di beberapa titik.

Sejumlah ruas jalan yang terdampak antara lain Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Tondong, Jalan Dr. Hamka, Jalan Baso Kalaka, Jalan Bulu Lohe, Jalan Krakatau, hingga Jalan Manimpahoi. Di beberapa lokasi, kendaraan harus melaju perlahan akibat tingginya genangan, sementara sebagian pengendara memilih memutar arah demi menghindari jalan yang tidak lagi aman dilintasi.

Bagi masyarakat, banjir bukan sekadar persoalan genangan air. Aktivitas ekonomi terganggu, akses menuju tempat kerja dan sekolah terhambat, sementara warga yang rumahnya terendam harus berupaya menyelamatkan barang-barang berharga agar tidak rusak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak banjir tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Peristiwa ini kembali mengangkat pertanyaan mengenai efektivitas sistem drainase perkotaan dan pengelolaan daerah aliran sungai di Kabupaten Sinjai. Curah hujan yang tinggi memang merupakan faktor utama penyebab banjir, namun kapasitas saluran drainase, sedimentasi, penyempitan aliran air, hingga perubahan tata ruang juga menjadi faktor yang lazim memengaruhi tingkat keparahan banjir di kawasan perkotaan.

Karena itu, penanganan banjir tidak cukup dilakukan saat bencana terjadi. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengendalian banjir, normalisasi saluran air, pemeliharaan drainase, pengendalian pembangunan di kawasan resapan, hingga peningkatan kesiapsiagaan masyarakat menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kejadian serupa di masa mendatang.

Hingga berita ini diturunkan, hujan masih mengguyur sebagian wilayah Kabupaten Sinjai sehingga potensi bertambahnya debit air masih perlu diwaspadai. Masyarakat yang tinggal di daerah rendah maupun di sekitar aliran sungai diimbau tetap siaga terhadap kemungkinan banjir susulan apabila intensitas hujan tidak kunjung menurun.

Sementara itu, data resmi mengenai jumlah rumah terdampak, tinggi muka air, jumlah warga yang harus mengungsi, maupun besaran kerugian material masih menunggu hasil pendataan dari pemerintah daerah dan instansi terkait. Kehadiran informasi resmi menjadi penting agar langkah penanganan, distribusi bantuan, serta mitigasi dapat dilakukan secara tepat sasaran.

Di sisi lain, pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, dan instansi teknis diharapkan segera mempercepat asesmen lapangan, memastikan akses masyarakat yang terdampak tetap terjaga, serta memberikan pelayanan darurat bagi warga yang membutuhkan. Transparansi informasi kepada publik juga diperlukan agar masyarakat memperoleh perkembangan situasi secara akurat dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.@Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *