Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Nasional

Retak Kemilau Cincin Berlian: Wilson Lalengke Kritik Sikap Hotman Paris terhadap Wartawan, Soroti Etika dan Integritas di Ruang Publik

4
×

Retak Kemilau Cincin Berlian: Wilson Lalengke Kritik Sikap Hotman Paris terhadap Wartawan, Soroti Etika dan Integritas di Ruang Publik

Sebarkan artikel ini

Jakarta | BreakingNewspost.id – Peristiwa memanasnya hubungan antara pengacara Hotman Paris Hutapea dan sejumlah wartawan dalam sebuah konferensi pers memantik perdebatan luas di ruang publik. Video yang memperlihatkan Hotman melontarkan kalimat bernada merendahkan kepada jurnalis, di antaranya ucapan, “Kau punya otak enggak?”, menuai beragam respons dari masyarakat, kalangan pers, hingga pegiat kebebasan berekspresi.

Insiden tersebut bukan hanya dipandang sebagai persoalan etika komunikasi, tetapi juga memunculkan diskursus mengenai hubungan antara tokoh publik dan media dalam negara demokrasi. Di tengah sorotan itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Persatuan Pewarta Warga Indonesia (DPN PPWI), Wilson Lalengke, menyampaikan kritik keras terhadap sikap Hotman Paris.

Dalam keterangannya kepada sejumlah wartawan, Wilson menilai ucapan bernada menghina terhadap insan pers tidak mencerminkan penghormatan terhadap profesi jurnalistik yang menjalankan fungsi kontrol sosial.

Menurut Wilson, perilaku tersebut merupakan cerminan dari persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar emosi sesaat. Ia berpandangan bahwa kemewahan materi yang selama ini melekat pada citra seorang tokoh publik tidak selalu mencerminkan kekayaan nilai maupun kematangan karakter.

Gaya bicara seperti itu sebetulnya indikasi kuat kalau dia sedang mengalami degradasi mental, menunjukkan jati diri sebagai manusia rendahan yang sedang kelabakan karena urusan isi dompet,” ujar Wilson.»

Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi Wilson Lalengke dan belum pernah dibuktikan melalui pemeriksaan psikologis ataupun keterangan dari tenaga kesehatan mental yang berwenang.

Wilson kemudian mengembangkan argumentasinya dengan menyoroti fenomena yang menurutnya kerap terjadi di tengah masyarakat, yakni kecenderungan mengukur keberhasilan seseorang semata-mata dari kekayaan materi.

Menurutnya, kepemilikan aset, kendaraan mewah, rumah megah maupun perhiasan mahal tidak otomatis mencerminkan kualitas moral seseorang. Dalam pandangannya, seseorang dapat saja tampak berhasil secara ekonomi, tetapi tetap mengalami apa yang ia sebut sebagai “kemiskinan jiwa”, yakni keadaan ketika hasrat terhadap materi tidak pernah merasa cukup.

Sebagai ilustrasi, Wilson mengaitkan pandangannya dengan berbagai kasus korupsi yang pernah terjadi di Indonesia.

Lihat saja para koruptor miliaran rupiah di negeri ini. Kurang apa mereka? Negara sudah memberi fasilitas yang memadai, tetapi tetap saja merasa kurang. Mentalitas seperti itulah yang menurut saya patut menjadi pelajaran bersama,” katanya.»

Wilson selanjutnya mengaitkan sikap emosional Hotman Paris dengan tekanan sosial yang, menurut pandangannya, muncul setelah pengacara tersebut mengambil peran sebagai kuasa hukum Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah dalam perkara yang mendapat perhatian publik.

Menurut Wilson, keputusan tersebut memunculkan kritik dari sebagian masyarakat sehingga diduga memberi tekanan terhadap citra publik Hotman Paris.

Pandangan tersebut merupakan analisis Wilson Lalengke dan bukan kesimpulan yang telah diverifikasi secara independen. Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan dari Hotman Paris yang menyatakan bahwa sikapnya dipengaruhi oleh tekanan publik sebagaimana diduga Wilson.

Dalam penilaiannya, ucapan kasar kepada wartawan merupakan bentuk komunikasi yang tidak semestinya dilakukan oleh figur publik.

Umpatan kepada wartawan itu, menurut saya, menunjukkan bahwa ruang dialog yang sehat telah terganggu. Kritik semestinya dijawab dengan argumentasi, bukan dengan penghinaan,” ujar Wilson.»

Perspektif Filsafat

Untuk memperkuat argumentasinya, Wilson mengaitkan fenomena tersebut dengan pemikiran filsuf Prancis Jean-Paul Sartre mengenai Bad Faith (Mauvaise Foi), yaitu konsep filsafat yang menggambarkan kondisi ketika seseorang dianggap tidak bertindak sesuai nilai yang diyakininya sendiri karena dorongan kepentingan tertentu.

Selain itu, ia juga mengutip pemikiran filsuf Stoik, Seneca:

“Non qui parum habet, sed qui plus cupit, pauper est.”

Kalimat tersebut lazim diterjemahkan sebagai: “Bukan orang yang memiliki sedikit yang miskin, melainkan orang yang selalu menginginkan lebih banyak.”

Wilson berpendapat bahwa pandangan Seneca relevan untuk menjelaskan fenomena ketika seseorang memiliki kekayaan melimpah, namun tetap merasa tidak pernah cukup.

Pandangan filosofis tersebut merupakan interpretasi Wilson Lalengke dan tidak dimaksudkan sebagai kesimpulan faktual mengenai kondisi pribadi pihak tertentu.

Seruan kepada Insan Pers

Di akhir keterangannya, Wilson mengajak wartawan agar tidak kehilangan keberanian dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Menurutnya, pertanyaan kritis yang diajukan media merupakan bagian dari fungsi pers dalam mengawasi penyelenggaraan kehidupan publik. Karena itu, ia berharap insan pers tetap mengedepankan profesionalisme, etika, dan keberanian menyampaikan informasi yang menjadi kepentingan masyarakat.

Wilson juga menilai bahwa penghormatan terhadap kebebasan pers merupakan salah satu fondasi penting negara demokrasi.Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *