Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Nasional

Indonesia Hanya Jadi Penonton, Prof. Sutan Nasomal Dorong Presiden Bangun Roadmap Sepak Bola

6
×

Indonesia Hanya Jadi Penonton, Prof. Sutan Nasomal Dorong Presiden Bangun Roadmap Sepak Bola

Sebarkan artikel ini

JAKARTA | BreakingNewspost.id — Indonesia kembali dihadapkan pada pekerjaan rumah besar dalam membangun kekuatan sepak bola nasional. Di tengah persaingan negara-negara Asia Tenggara yang terus bergerak, Indonesia dinilai membutuhkan peta jalan atau roadmap sepak bola nasional yang jelas, terukur, dan berkelanjutan agar tidak terus tertinggal.

Sorotan itu disampaikan Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H., pakar hukum internasional, ekonomi, budaya, dan olahraga. Ia mendorong Presiden Republik Indonesia mengajak tokoh-tokoh sepak bola dan olahraga nasional menyusun strategi jangka panjang untuk membangun ekosistem sepak bola Indonesia.

Menurut Sutan, persoalan sepak bola nasional tidak dapat diselesaikan hanya melalui pergantian pemain, pelatih, atau target kemenangan dalam satu kompetisi.

Diperlukan pembenahan sistem yang mencakup pembinaan pemain usia dini, kompetisi yang berkualitas, peningkatan kapasitas pelatih, infrastruktur, tata kelola organisasi, serta kesinambungan program nasional.

«“Dunia persepakbolaan selama ini Indonesia hanya jadi penonton. Kita harapkan Presiden merangkul tokoh olahraga untuk ke depannya Indonesia bisa mengambil bagian dalam dunia persepakbolaan dunia,” ujar Sutan saat menjawab pertanyaan sejumlah pimpinan redaksi media cetak dan daring dalam dan luar negeri melalui sambungan telepon seluler dari Jakarta, Minggu (9/8/2026).»

Indonesia Jangan Hanya Mengejar Hasil Instan

Sutan menilai kegagalan dalam sebuah pertandingan maupun kompetisi merupakan bagian dari olahraga.

Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika kegagalan tersebut tidak dijadikan bahan evaluasi untuk membangun sistem yang lebih baik.

Menurut dia, sepak bola nasional membutuhkan target yang lebih panjang daripada sekadar kemenangan dalam satu pertandingan.

Pembinaan pemain harus dimulai sejak usia dini dan berlangsung secara konsisten. Talenta yang muncul harus memperoleh jalur pengembangan yang jelas hingga level profesional dan tim nasional.

“Yang harus dibangun bukan hanya tim untuk satu pertandingan. Kita harus membangun sistem yang mampu melahirkan pemain berkualitas secara berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Sutan, keberhasilan negara lain dalam membangun sepak bola tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang mencakup pembinaan, kompetisi, kualitas pelatih, fasilitas latihan, manajemen, serta evaluasi yang dilakukan secara terus-menerus.

Persaingan Asia Tenggara Terus Berjalan

Sorotan Sutan muncul di tengah rangkaian pertandingan yang melibatkan sejumlah negara Asia Tenggara pada Agustus 2026.

Dalam jadwal yang disebutkannya, Singapura dijadwalkan menghadapi Thailand pada 15 Agustus. Sehari kemudian, Malaysia bertemu Vietnam.

Pertandingan berikutnya mempertemukan Thailand melawan Singapura pada 18 Agustus dan Vietnam menghadapi Malaysia pada 19 Agustus.

Rangkaian pertandingan tersebut menggambarkan bagaimana negara-negara di kawasan terus membangun persaingan sepak bola mereka.

Bagi Sutan, Indonesia harus menjadikan perkembangan negara tetangga sebagai bahan evaluasi, bukan sekadar tontonan.

Ia menilai Indonesia memiliki modal besar berupa jumlah penduduk, basis penggemar sepak bola, serta potensi pemain muda yang tersebar di berbagai daerah.

Namun, modal tersebut menurutnya harus diubah menjadi sistem pembinaan yang terstruktur.

“Memang sangat disayangkan. Tahun 2026 ini Indonesia dalam persaingan sepak bola kawasan Asia Tenggara hanya menjadi penonton ketika empat negara, Singapura, Thailand, Malaysia dan Vietnam, bertarung membawa nama bangsanya,” kata Sutan.

Roadmap Harus Melibatkan Banyak Pihak

Sutan berharap pemerintah tidak menyusun kebijakan sepak bola hanya dari perspektif birokrasi.

Menurut dia, penyusunan roadmap sepak bola nasional perlu melibatkan berbagai unsur yang memahami persoalan dari lapangan.

Mantan pemain, pelatih, akademisi, pengurus kompetisi, praktisi olahraga, pengamat, serta tokoh sepak bola nasional perlu diberi ruang untuk menyampaikan gagasan.

Tujuannya bukan sekadar membuat dokumen kebijakan, tetapi menghasilkan program yang dapat dilaksanakan dan dievaluasi secara berkala.

Menurut Sutan, setidaknya ada beberapa sektor yang perlu menjadi perhatian dalam peta jalan sepak bola nasional.

Pertama, pembinaan usia dini yang terintegrasi dan memiliki standar yang jelas.

Kedua, kompetisi berkualitas yang memberikan ruang bagi pemain muda berkembang.

Ketiga, peningkatan kualitas pelatih melalui pendidikan dan sertifikasi yang berkelanjutan.

Keempat, infrastruktur sepak bola yang memadai, bukan hanya stadion tetapi juga lapangan latihan dan fasilitas pembinaan.

Kelima, tata kelola organisasi yang profesional, transparan, dan berorientasi pada prestasi.

Keenam, sistem evaluasi nasional yang memungkinkan pemerintah dan pemangku kepentingan mengukur apakah program benar-benar menghasilkan kemajuan.

Jangan Menyalahkan Pemain Semata

Sutan mengingatkan agar kegagalan sepak bola nasional tidak selalu dibebankan kepada pemain atau pelatih.

Menurut dia, pemain dan pelatih merupakan bagian dari sistem yang lebih besar.

Jika sistem pembinaan, kompetisi, fasilitas, dan manajemen belum berjalan optimal, maka tuntutan prestasi kepada pemain saja tidak menyelesaikan persoalan.

Karena itu, evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh.

“Jangan setiap gagal pertandingan kemudian pemain atau pelatih yang disalahkan. Kita harus melihat sistemnya. Dari mana pemain dibina, bagaimana kompetisinya, siapa yang melatih, fasilitasnya seperti apa, dan bagaimana program jangka panjangnya,” ujarnya.

Dari Negara Penggemar Menjadi Negara Penghasil Prestasi

Indonesia dikenal memiliki basis penggemar sepak bola yang besar.

Namun, menurut Sutan, antusiasme masyarakat harus diikuti dengan pembangunan ekosistem sepak bola yang kuat.

Jumlah penonton, besarnya fanatisme, dan tingginya perhatian publik belum otomatis menghasilkan prestasi internasional.

Prestasi membutuhkan sistem.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi negara dengan penggemar sepak bola yang besar. Kita harus menjadi negara yang mampu menghasilkan pemain dan prestasi sepak bola yang konsisten,” katanya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah menjadikan pembangunan sepak bola sebagai program jangka panjang yang tidak mudah berubah setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan atau perubahan kebijakan.

Pertanyaan Besarnya: Kapan Sistem Dibangun?

Menurut Sutan, posisi Indonesia dalam persaingan sepak bola kawasan seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi.

Jika negara-negara tetangga terus melakukan pembinaan dan memperkuat kompetisinya, Indonesia tidak boleh hanya mengamati perkembangan tersebut.

Diperlukan keberanian untuk menyusun target jangka pendek, menengah, dan panjang.

Target tersebut juga harus disertai indikator yang dapat diukur.

Misalnya, berapa banyak pemain muda yang masuk pembinaan elite setiap tahun, berapa banyak pelatih yang ditingkatkan kapasitasnya, bagaimana kualitas kompetisi usia muda, hingga sejauh mana prestasi tim nasional berkembang.

Dengan indikator yang jelas, evaluasi tidak lagi berdasarkan persepsi semata.

“Pertanyaannya bukan lagi sekadar kapan Indonesia menang. Tetapi kapan Indonesia benar-benar membangun sistem sepak bola yang membuat prestasi menjadi sesuatu yang direncanakan, bukan hanya diharapkan,” ujar Sutan.

Menunggu Langkah Pemerintah

Dorongan Sutan tersebut pada akhirnya mengarah pada satu kebutuhan: Indonesia membutuhkan cetak biru sepak bola nasional yang konsisten dan tidak berhenti sebagai wacana.

Pemerintah, federasi, klub, sekolah sepak bola, akademisi, mantan pemain, pelatih, dan seluruh pemangku kepentingan memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem tersebut.

Indonesia memiliki potensi pemain dan basis pendukung yang besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi itu diterjemahkan menjadi sistem pembinaan dan kompetisi yang mampu menghasilkan prestasi secara berkelanjutan.

Jika negara-negara tetangga terus berlari, Indonesia tidak seharusnya hanya berdiri di pinggir lapangan.

Pertanyaan akhirnya bukan lagi sekadar kapan Indonesia menang.

Pertanyaannya: kapan Indonesia mulai membangun sistem sepak bola yang membuat prestasi menjadi hasil dari perencanaan, pembinaan, dan kerja panjang—bukan sekadar harapan?

Narasumber: Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H. — pakar hukum internasional dan ekonomi; Presiden Partai Oposisi Merdeka; Jenderal Kompi; Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID); Ketua YPLBH; serta Rektor Universitas Pronass.Catatan redaksional: bagian jadwal pertandingan 15–19 Agustus 2026 sebaiknya diverifikasi ke sumber resmi kompetisi sebelum tayang, begitu pula jabatan/gelar narasumber agar tidak ada atribusi yang keliru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *