Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Tim PPK Ormawa HIMAKAHA FK Unhas Dorong Warga Desa Popo Perkuat PHBS, Cegah Faktor Risiko Stunting

9
×

Tim PPK Ormawa HIMAKAHA FK Unhas Dorong Warga Desa Popo Perkuat PHBS, Cegah Faktor Risiko Stunting

Sebarkan artikel ini

TAKALAR | Breakingnewspost.id — Pencegahan stunting tidak cukup dilakukan dengan menyoroti persoalan asupan makanan anak. Kebersihan lingkungan, kualitas air, sanitasi, penyakit infeksi, hingga kebiasaan hidup keluarga ikut menentukan kualitas tumbuh kembang anak.

Persoalan itu menjadi perhatian Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (HIMAKAHA) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Hasanuddin (Unhas) saat menggelar penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta edukasi mengenai faktor risiko stunting di UPT SD Inpres No. 189 Kanite, Desa Popo, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Senin (10/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari penguatan SIPASTI (Solusi Intervensi Pencegahan Stunting) dalam program OCEANS (One Health Coastal Environment and Nutrition Sustainability sebagai Strategi Desa Sehat dalam Pengendalian Faktor Risiko Stunting di Desa Popo).

Melalui kegiatan itu, mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi kesehatan, tetapi juga membuka ruang dialog dengan masyarakat. Pendekatan tersebut penting karena persoalan stunting memiliki banyak faktor dan tidak selalu dapat diselesaikan melalui satu intervensi.

Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Galesong Selatan Nurhidayat Abdullah, S.TP., M.Si.; Kepala Puskesmas Bontomarannu yang diwakili Kepala Tata Usaha Muh. Ramli, S.Kep.; Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar yang diwakili Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Asmini Yuddin, S.KM., M.Si.; Kepala Desa Popo yang diwakili Sekretaris Desa Popo Daeng Nyonri; para kepala dusun; serta masyarakat Desa Popo.

Camat Galesong Selatan Nurhidayat Abdullah mengatakan pemerintah kecamatan mendukung keterlibatan mahasiswa dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Namun, ia menekankan agar kegiatan pengabdian tidak berhenti pada penyampaian materi.

«“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Harapannya, apa yang disampaikan hari ini bisa benar-benar diterapkan oleh masyarakat, terutama dalam membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat.”»

Menurut Nurhidayat, perubahan perilaku di tingkat keluarga dan lingkungan menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan masyarakat. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dinilai dapat membantu mengurangi berbagai risiko penyakit.

Ia juga mengapresiasi Tim PPK Ormawa HIMAKAHA FK Unhas yang memilih Desa Popo sebagai lokasi pengabdian. Menurut dia, keberadaan mahasiswa dapat menjadi penguat edukasi sekaligus mendorong masyarakat lebih aktif memperhatikan kondisi kesehatan lingkungan.

Stunting Bukan Sekadar Persoalan Kurang Makan

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar yang diwakili Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Asmini Yuddin, menjelaskan bahwa stunting merupakan persoalan yang bersifat kompleks.

Menurut dia, pertumbuhan anak dapat dipengaruhi oleh berbagai kondisi, mulai dari kecukupan gizi hingga paparan penyakit dan lingkungan yang tidak mendukung kesehatan.

«“Stunting bukan hanya persoalan anak kurang makan. Ketika anak sering sakit, kondisi lingkungan kurang bersih, air yang digunakan tidak baik, dan PHBS belum diterapkan dengan optimal, semuanya bisa ikut memengaruhi pertumbuhan anak.”»

Karena itu, pencegahan stunting membutuhkan pendekatan lintas sektor dan keterlibatan keluarga serta masyarakat.

PHBS menjadi salah satu pintu masuk yang relatif sederhana. Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, menggunakan air yang layak, serta memastikan kebersihan makanan merupakan praktik sehari-hari yang perlu dibangun secara konsisten.

Persoalannya, edukasi kesehatan sering kali berhenti pada pengetahuan. Masyarakat mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, tetapi penerapannya belum tentu berlangsung secara rutin. Karena itu, dialog langsung dengan warga menjadi penting untuk mengetahui hambatan yang muncul di lapangan.

Mahasiswa Buka Ruang Diskusi dengan Warga

Setelah pemaparan dari unsur pemerintah daerah, Tim PPK Ormawa HIMAKAHA FK Unhas melanjutkan kegiatan dengan materi mengenai PHBS dan faktor risiko stunting.

Peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diberikan kesempatan menyampaikan pengalaman serta kondisi yang mereka temui di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Diskusi tersebut menjadi bagian dari pendekatan SIPASTI yang menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima program, melainkan sebagai mitra dalam mengidentifikasi dan mencegah faktor risiko kesehatan.

Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan peserta selama kegiatan. Sejumlah persoalan yang berkaitan dengan kebiasaan hidup bersih, kesehatan keluarga, serta kondisi lingkungan menjadi bagian dari pembahasan.

Bagi Tim PPK Ormawa HIMAKAHA FK Unhas, pola edukasi semacam itu menjadi penting agar program tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Pengetahuan yang disampaikan diharapkan dapat diterjemahkan menjadi kebiasaan di tingkat rumah tangga.

Pencegahan Harus Dimulai dari Lingkungan Terdekat

Upaya menekan faktor risiko stunting pada akhirnya tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Keluarga, pemerintah desa, sekolah, masyarakat, hingga kelompok mahasiswa memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai peran masing-masing.

Di tingkat keluarga, perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Kebersihan tangan, makanan, air, rumah, dan lingkungan merupakan bagian dari rantai pencegahan penyakit yang saling berkaitan.

Sementara itu, pemerintah dan pemangku kepentingan memiliki peran memastikan edukasi, layanan kesehatan, sanitasi, serta lingkungan yang mendukung dapat diakses masyarakat.

Kehadiran Tim PPK Ormawa HIMAKAHA FK Unhas di Desa Popo diharapkan dapat memperkuat mata rantai tersebut melalui program OCEANS dan SIPASTI.

Program tersebut tidak diarahkan semata-mata untuk menghasilkan satu kegiatan penyuluhan, tetapi mendorong terbentuknya kesadaran dan praktik kesehatan yang dapat dipertahankan masyarakat.

Tim PPK Ormawa HIMAKAHA FK Unhas berharap edukasi PHBS dan pemahaman mengenai faktor risiko stunting yang diberikan kepada warga Desa Popo dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pendekatan yang melibatkan masyarakat secara langsung, SIPASTI diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat pencegahan stunting dari tingkat paling dasar: keluarga dan lingkungan tempat anak tumbuh.

Pada akhirnya, keberhasilan pencegahan stunting tidak hanya diukur dari seberapa banyak penyuluhan dilakukan, tetapi dari seberapa jauh pengetahuan tersebut berubah menjadi perilaku dan praktik kesehatan yang bertahan dalam kehidupan masyarakat.Tim/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *