Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Tiga Suster SCC Ikrarkan Kaul Kekal di Gereja Santa Theresia Kefamenanu

18
×

Tiga Suster SCC Ikrarkan Kaul Kekal di Gereja Santa Theresia Kefamenanu

Sebarkan artikel ini

KEFAMENANU | BreakingNewsPost.id — Tiga perempuan memilih jalan hidup pengabdian kepada Allah, Sabtu (15/8/2026), Suster Angela, SCC, Suster Emilia, SCC, dan Suster Teresa, SCC, mengikrarkan Kaul Kekal dalam Serikat Hidup Apostolik Servitium Caritas Christi (SCC) di Gereja Santa Theresia, Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

Pengikraran tersebut menjadi penanda penting dalam perjalanan panggilan ketiganya. Kaul kekal bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan pernyataan kesediaan untuk menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah dan menjalani panggilan pelayanan kepada sesama sepanjang hidup.

Peristiwa tersebut berlangsung dalam Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin Uskup Keuskupan Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr., dan didampingi 13 imam konselebran.

Tema yang diangkat dalam pengikraran kaul kekal itu adalah “Berikan Aku Pundak yang Kuat, agar Aku Mampu Memanggul Salibku.”

Tema tersebut menjadi benang merah perayaan. Panggilan hidup, sebagaimana pesan yang disampaikan dalam homili, bukan jalan yang selalu mudah. Ada tanggung jawab, pilihan, tantangan, dan konsekuensi yang harus dihadapi dengan keteguhan hati.

Dalam konteks itulah, “pundak yang kuat” dimaknai sebagai kesiapan untuk memikul tanggung jawab atas pilihan hidup sekaligus tetap setia dalam menjalankan panggilan.

Tradisi Adat Mengawali Perayaan

Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi penjemputan di halaman Gereja Santa Theresia.

Tarian dan takanab, atau tutur adat, menjadi bagian dari prosesi penyambutan. Tradisi tersebut memberikan warna lokal dalam perayaan yang berlangsung dalam suasana khidmat.

Setelah prosesi penjemputan, kegiatan dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi Kudus.

Kehadiran Uskup Keuskupan Atambua bersama para imam konselebran menandai pentingnya momentum tersebut dalam kehidupan komunitas Gereja.

Di hadapan umat, ketiga suster mengikrarkan kaul kekal sebagai bentuk penyerahan diri kepada Allah. Pilihan tersebut sekaligus menjadi komitmen untuk menjalani kehidupan pelayanan dengan kesetiaan dan kasih.

Karena itu, pengikraran kaul tidak hanya dapat dilihat sebagai peristiwa pribadi ketiga suster. Ada dimensi tanggung jawab sosial dan pelayanan yang melekat pada pilihan tersebut.

Uskup: Setiap Orang Bertanggung Jawab atas Dirinya Sendiri

Dalam homilinya, Mgr. Dominikus Saku menyampaikan pesan mengenai tanggung jawab pribadi.

“Setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri,” demikian pokok pesan yang disampaikan dalam khotbahnya.

Menurutnya, manusia harus mempertanggungjawabkan pilihan dan perbuatannya. Mereka yang hidup dalam kebenaran dan keadilan serta mengikuti ketetapan Tuhan disebut sebagai orang benar.

Sebaliknya, ketika seseorang melakukan kesalahan, konsekuensi dari perbuatannya juga harus ditanggung oleh dirinya sendiri.

Pesan tersebut mengingatkan bahwa iman tidak berhenti pada kata-kata atau simbol keagamaan. Iman harus tercermin dalam tindakan, sikap, serta keputusan hidup sehari-hari.

Dalam konteks kaul kekal, pesan itu memiliki arti khusus. Ketika seseorang memilih jalan pengabdian seumur hidup, pilihan tersebut membutuhkan kesadaran dan tanggung jawab. Kesetiaan tidak hanya diuji ketika keadaan mudah, tetapi justru ketika muncul tantangan.

Mgr. Dominikus juga mengajak umat untuk tidak mengabaikan pertobatan.

Manusia, menurut pesan yang disampaikannya, harus berani melihat kembali perjalanan hidup, menyadari kesalahan, dan memperbaiki diri.

Ia mengajak umat memiliki hati yang sederhana dan tulus di hadapan Allah.

Pesan tersebut dikaitkan dengan bacaan Kitab Suci tentang anak-anak yang datang kepada Tuhan:

“Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada Tuhan; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”

Pesan tersebut menjadi ajakan agar umat memiliki hati yang polos, terbuka, dan tulus dalam membangun relasi dengan Tuhan.

“Jangan Malu Melakukan Hal-Hal Kecil”

Selain berbicara mengenai tanggung jawab dan pertobatan, Mgr. Dominikus juga menekankan pentingnya menghargai pekerjaan dan pelayanan sederhana.

Dalam kehidupan sehari-hari, pelayanan tidak selalu diwujudkan melalui tindakan besar. Banyak hal yang justru dimulai dari pekerjaan kecil, dilakukan secara konsisten, dan dilandasi kasih.

Menurutnya, pekerjaan sederhana tidak boleh dianggap remeh apabila dilakukan dengan ketulusan.

“Jangan malu untuk melakukan hal-hal kecil, sebab hal kecil yang dilakukan dalam kasih akan menghasilkan hal-hal besar yang membawa berkat bagi orang banyak,” pesannya.

Pesan tersebut memperluas makna pengabdian. Besarnya sebuah pelayanan tidak semata-mata ditentukan oleh skala pekerjaan, melainkan oleh ketulusan dan kasih yang menyertai tindakan tersebut.

Dalam kehidupan para suster yang mengikrarkan kaul kekal, prinsip itu menjadi bagian penting dari panggilan pelayanan. Pengabdian dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi memberi manfaat bagi orang lain.

Kaul Kekal dan Tanggung Jawab Panjang

Pengikraran Kaul Kekal Suster Angela, Suster Emilia, dan Suster Teresa menjadi titik penting dalam perjalanan hidup mereka sebagai anggota Serikat Hidup Apostolik SCC.

Namun, setelah prosesi selesai, tantangan sesungguhnya justru berada dalam kehidupan sehari-hari.

Kaul kekal membawa komitmen jangka panjang. Karena itu, tema “Berikan Aku Pundak yang Kuat, agar Aku Mampu Memanggul Salibku” menjadi refleksi tentang kesiapan menjalani panggilan dengan keteguhan.

Panggilan tersebut menuntut kesetiaan, disiplin, ketahanan menghadapi tantangan, serta kesediaan untuk terus melayani.

Di hadapan umat dan para imam yang hadir, ketiga suster menyatakan pilihan untuk menyerahkan diri kepada Allah dan mengabdikan hidup dalam pelayanan kepada sesama.

Peristiwa itu sekaligus menjadi bagian dari kehidupan komunitas iman di Kefamenanu. Kehadiran umat, para imam, serta unsur adat dalam rangkaian kegiatan memperlihatkan bahwa pengikraran kaul kekal tidak berlangsung dalam ruang pribadi semata, tetapi menjadi peristiwa yang disaksikan dan dirayakan bersama.

Pesan untuk Kehidupan Umat

Pada akhirnya, pesan dalam perayaan tersebut tidak hanya ditujukan kepada tiga suster yang mengikrarkan kaul kekal.

Pesan tentang tanggung jawab, pertobatan, kesetiaan, dan keberanian melakukan hal-hal kecil juga menjadi refleksi bagi umat.

Setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap pilihan hidupnya. Setiap orang juga memiliki “salib” yang harus dipanggul dengan caranya masing-masing.

Karena itu, kekuatan tidak selalu berarti mampu melakukan sesuatu yang besar. Kekuatan dapat muncul dari kesediaan untuk tetap setia, melakukan kebaikan secara konsisten, serta melayani dengan kasih meski pekerjaan yang dilakukan tidak selalu terlihat.

Bagi tiga suster SCC, pengikraran Kaul Kekal menjadi awal dari babak baru dalam perjalanan panggilan mereka. Bagi umat yang menyaksikan, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada Tuhan pada akhirnya harus menemukan bentuk nyata dalam pelayanan kepada manusia.

Bergita abi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *