PASAMAN | BreakingNewsPost.id — Serangan hama tikus menjadi salah satu persoalan utama yang disampaikan petani kepada Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Khairuddin Simanjuntak, saat melaksanakan reses di Sukadamai, Jorong Bahagia, Nagari Panti Utara, Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman, Minggu (23/8/2026).
Ratusan warga hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka menyampaikan berbagai aspirasi, termasuk kekhawatiran terhadap serangan tikus yang dinilai semakin mengancam tanaman dan hasil panen.
Khairuddin, yang menjabat Ketua Komisi II sekaligus Ketua Fraksi Gerindra DPRD Sumatera Barat, mengatakan aspirasi masyarakat menjadi bagian penting dari agenda reses. Menurut dia, persoalan yang disampaikan warga akan dicatat dan diperjuangkan sesuai kewenangan DPRD Provinsi Sumatera Barat.
“Persoalan hama tikus ini harus menjadi perhatian kita bersama. Kita perlu mencari langkah yang tepat dan terpadu agar kerugian yang dialami petani tidak semakin meluas,” ujar Khairuddin.
Dalam pertemuan itu, warga tidak hanya menyampaikan persoalan pertanian. Mereka juga menyampaikan berbagai kebutuhan masyarakat yang diharapkan dapat menjadi bahan perjuangan pemerintah daerah dan DPRD.
Kegiatan tersebut dihadiri Camat Panti atau yang mewakili, Wali Nagari Panti Utara, Kapolsek Panti bersama Bhabinkamtibmas, Danramil Kecamatan Panti, ninik mamak, Bamus Nagari Panti Utara, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Panti, tokoh masyarakat, serta warga.
Pengendalian Tikus Harus Serentak
Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Panti, Yosef Binachanra, menjelaskan serangan hama tikus membutuhkan pengendalian secara terencana dan dilakukan secara bersama-sama.
Menurut Yosef, pengendalian yang dilakukan secara sporadis berisiko tidak efektif karena tikus dapat berpindah dari satu lahan ke lahan lainnya. Karena itu, kebersihan lingkungan pertanian dan keserentakan tindakan menjadi bagian penting dalam menekan populasi hama.
“Kalau tikus disakiti tanpa pengendalian yang tepat dan menyeluruh, justru populasinya bisa semakin liar dan merajalela. Tikus juga tidak menyukai tempat yang bersih dan terbuka,” kata Yosef.
Ia mengimbau petani membersihkan rumput, semak belukar, serta sisa tanaman yang berpotensi menjadi tempat persembunyian tikus.
“Cara mengantisipasinya, bersihkan dulu lahan secara menyeluruh. Rumput tidak cukup hanya disemprot, tetapi sebaiknya dibabat, dicabut, dan dibuang jauh dari areal pertanian,” ujarnya.
Yosef menilai pengendalian tidak akan maksimal apabila hanya dilakukan oleh sebagian petani. Lahan yang masih dipenuhi semak dapat menjadi tempat berlindung tikus dan memungkinkan hama kembali masuk ke lahan yang telah dibersihkan.
Karena itu, koordinasi antarpetani dinilai penting. Penyuluh pertanian dan instansi terkait juga diharapkan dapat memberikan pendampingan agar pengendalian dilakukan berdasarkan langkah yang tepat dan berkelanjutan.
Khairuddin Janjikan Aspirasi Diperjuangkan
Khairuddin mengatakan reses bukan sekadar agenda rutin. Kegiatan tersebut menjadi sarana bagi anggota legislatif untuk melihat langsung persoalan masyarakat dan menyerap aspirasi dari daerah pemilihan.
“Saya akan terus turun ke lapangan, mendengarkan langsung apa yang warga rasakan dan hadapi. Semua kebutuhan dan aspirasi yang disampaikan hari ini akan saya perjuangkan sesuai kewenangan yang ada di DPRD Provinsi Sumatera Barat,” kata Khairuddin.
Menurut dia, komunikasi langsung dengan masyarakat diperlukan agar kebijakan yang diperjuangkan di tingkat legislatif tidak hanya berdasarkan laporan administratif, tetapi juga mempertimbangkan kondisi nyata yang dihadapi warga.
Ancaman hama tikus menjadi salah satu persoalan yang membutuhkan perhatian karena berkaitan langsung dengan sektor pertanian. Jika tidak dikendalikan, serangan hama dapat berpengaruh terhadap produktivitas lahan dan pendapatan petani.
Karena itu, aspirasi petani di Kecamatan Panti diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui koordinasi antara DPRD, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan kelompok tani.
Bagi masyarakat, pengendalian hama tidak cukup dilakukan setelah tanaman mengalami kerusakan. Upaya pencegahan, kebersihan lahan, koordinasi antarpetani, serta pendampingan teknis diperlukan agar serangan dapat ditekan sejak awal.
Reses Khairuddin di Panti pun menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan persoalan secara langsung. Aspirasi tersebut selanjutnya diharapkan dapat menjadi bahan pembahasan dan tindak lanjut sesuai kewenangan pemerintah daerah dan DPRD.
(Abdi Novirta)















