Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaDAERAH

Harga Bawang Merah di Abbanuange Anjlok, Aktivis Desak Pemda Turun Tangan

24
×

Harga Bawang Merah di Abbanuange Anjlok, Aktivis Desak Pemda Turun Tangan

Sebarkan artikel ini

SOPPENG| BreakingNewspost.id — Harga bawang merah di tingkat petani Desa Abbanuange, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, disebut anjlok saat panen pada Senin (24/8/2026). Harga yang sebelumnya sekitar Rp35.000 per kilogram kini turun menjadi Rp18.000 per kilogram, sementara biaya produksi tetap tinggi.

Sejumlah petani mengeluhkan kondisi tersebut karena biaya bibit, pupuk, obat-obatan, pengolahan lahan, tenaga kerja hingga panen telah dikeluarkan sejak awal budidaya.

“Biaya produksi cukup tinggi. Sekarang harga turun di tengah panen. Kami berharap pemerintah melihat kondisi petani karena kalau harga terus seperti ini, hasil panen belum tentu bisa memberikan keuntungan yang layak,” ujar  petani meminta identitasnya tidak di publik

Keluhan itu mendapat sorotan aktivis hukum Rudiandi, C.FLE., C.BJ., C.EJ., C.In. Ia meminta Pemerintah Kabupaten Soppeng turun langsung memverifikasi harga dan menelusuri penyebab penurunan.

“Jangan sampai petani sudah mengeluarkan modal besar, tetapi ketika panen harga justru jatuh sehingga keuntungan tidak sebanding dengan biaya produksi,” ujar Rudiandi.

Pemda Diminta Cek Harga

Rudiandi meminta Pemkab Soppeng memastikan apakah harga Rp18.000 per kilogram merupakan harga yang diterima sebagian besar petani atau hanya berlaku pada transaksi tertentu.

Menurut dia, pemerintah perlu membandingkan harga di tingkat petani dengan harga pembelian pedagang dan harga di pasar berikutnya. Pemerintah juga perlu memetakan produksi, luas tanam, pasokan, waktu panen dan permintaan pasar.

“Pemerintah harus mengetahui harga yang benar-benar diterima petani. Dari situ baru bisa dilihat apakah persoalannya produksi, distribusi, permintaan pasar atau persoalan lain dalam rantai perdagangan,” katanya.

Ia juga meminta Dinas Pertanian, penyuluh, kelompok tani dan pelaku usaha memperkuat koordinasi pemasaran.

“Jangan hanya bicara produksi meningkat. Ketika produksi meningkat, harus dipikirkan juga pasarnya. Kalau produksi bagus tetapi harga jatuh, petani tetap rugi,” ujarnya.

Petani Butuh Pasar dan Posisi Tawar

Menurut Rudiandi, bantuan produksi tidak cukup. Petani membutuhkan informasi harga yang terbuka, akses pasar lebih luas dan kelembagaan yang dapat memperkuat posisi tawar.

Jika harga rendah terus berulang setiap musim panen, petani berpotensi mengurangi luas tanam atau beralih ke komoditas lain.

“Kalau petani terus mengalami kerugian ketika panen, tentu mereka akan berpikir ulang untuk menanam kembali. Ini yang harus diantisipasi pemerintah sejak sekarang,” katanya.

Ia meminta Pemkab Soppeng turun ke Abbanuange untuk mendengar keluhan petani sekaligus memeriksa langsung transaksi harga.

Pemda Diminta Beri Penjelasan

Pemerintah daerah dan dinas terkait diharapkan menjelaskan kondisi harga bawang merah di Abbanuange, termasuk penyebab turunnya harga dari sekitar Rp35.000 menjadi Rp18.000 per kilogram.

Keterangan tersebut penting untuk memastikan angka harga berdasarkan transaksi aktual di tingkat petani. Pemerintah juga diminta menjelaskan langkah yang dapat dilakukan untuk membantu petani tanpa mengabaikan kepentingan konsumen.

Bagi petani, persoalannya bukan sekadar harga tinggi atau rendah, melainkan apakah hasil panen mampu menutup biaya produksi dan memberikan pendapatan yang layak.

Karena itu, Pemkab Soppeng diminta segera memverifikasi harga, memetakan biaya produksi dan menelusuri rantai pemasaran sebelum menentukan kebijakan.

Petani sudah menanggung risiko produksi. Ketika panen tiba, jangan sampai seluruh risiko harga kembali dibebankan kepada mereka.

Tim/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *