SOPPENG | BreakingNewsPost.id — Antrean kendaraan mengular di jalur Trans Sulawesi yang menghubungkan Salonro–Sengkang, Sulawesi Selatan, Jumat (4/9/2026). Kepadatan membuat arus lalu lintas tersendat dan memicu pertanyaan pengguna jalan mengenai pengaturan lalu lintas di tengah aktivitas pekerjaan proyek.
Kendaraan dari arah Soppeng menuju Sengkang maupun sebaliknya harus bergerak perlahan melewati ruas yang mengalami kepadatan. Kondisi tersebut membuat perjalanan pengguna jalan menjadi lebih lama dibandingkan situasi lalu lintas normal.
Jalur Salonro–Sengkang merupakan salah satu akses penting bagi mobilitas masyarakat dan kendaraan angkutan barang. Karena itu, gangguan arus lalu lintas di ruas tersebut dapat berdampak terhadap aktivitas warga serta perjalanan antarkabupaten.
Persoalan pengaturan lalu lintas menjadi perhatian ketika pekerjaan proyek berlangsung di sekitar jalur utama. Pengguna jalan membutuhkan kepastian bahwa aktivitas pembangunan tidak mengabaikan aspek keselamatan dan kelancaran arus kendaraan.
Pertanyaan yang muncul bukan semata mengenai kemacetan, melainkan bagaimana lalu lintas dikelola ketika pekerjaan berlangsung. Apakah tersedia petugas pengatur arus, rambu peringatan, pembatas pekerjaan, serta jalur yang memadai bagi kendaraan untuk melewati area proyek?
Pertanyaan tersebut penting karena pekerjaan konstruksi pada jalan yang digunakan masyarakat setiap hari berpotensi menimbulkan penyempitan ruang gerak kendaraan. Tanpa pengaturan yang baik, kondisi tersebut dapat memperbesar antrean, terutama ketika volume kendaraan meningkat.
Meski demikian, belum dapat dipastikan bahwa pekerjaan proyek menjadi penyebab utama kemacetan. Penyebab kepadatan masih perlu diverifikasi di lapangan. Faktor lain, seperti volume kendaraan yang meningkat, kendaraan mogok, kecelakaan, penyempitan badan jalan, atau hambatan lalu lintas lainnya juga dapat memengaruhi kondisi arus kendaraan.
Karena itu, informasi mengenai titik kemacetan, panjang antrean, durasi kepadatan, dan kondisi ruas jalan menjadi penting. Data tersebut diperlukan untuk menggambarkan persoalan secara utuh sekaligus menentukan langkah penanganan yang tepat.
Bagi pengguna jalan, kemacetan panjang bukan sekadar persoalan waktu tempuh. Kendaraan angkutan barang yang tertahan dapat mengalami keterlambatan distribusi, sedangkan masyarakat yang memiliki keperluan mendesak harus menyediakan waktu perjalanan lebih panjang.
Kondisi tersebut juga menempatkan pengelola pekerjaan dan instansi terkait pada posisi penting. Ketika proyek menggunakan atau berada di sekitar badan jalan yang menjadi akses publik, pengaturan lalu lintas perlu berjalan seiring dengan pekerjaan fisik.
Petugas lalu lintas dapat melakukan pengaturan apabila antrean terus bertambah. Di sisi lain, pelaksana proyek perlu memastikan area pekerjaan memiliki rambu dan pengamanan yang mudah terlihat oleh pengendara, terutama pada titik yang mengalami penyempitan jalur.
Transparansi informasi juga dibutuhkan. Masyarakat perlu mengetahui apakah pekerjaan di ruas tersebut sedang berlangsung, berapa lama pekerjaan dijadwalkan, serta bagaimana skema pengaturan kendaraan selama pekerjaan dilakukan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi yang memastikan penyebab kemacetan panjang di ruas Salonro–Sengkang maupun penjelasan mengenai sistem pengaturan lalu lintas selama pekerjaan proyek berlangsung.
Bagi masyarakat, persoalannya sederhana: pembangunan jalan memang dibutuhkan, tetapi selama pekerjaan berlangsung, keselamatan pengguna jalan dan kelancaran arus lalu lintas tidak boleh ikut terhenti.Red















