SOPPENG — Ekonomi Kabupaten Soppeng tumbuh 2,91 persen secara year-on-year (y-on-y) pada Triwulan II 2026. Namun, pertumbuhan itu berlangsung ketika sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menjadi penyumbang terbesar PDRB justru mengalami kontraksi 2,56 persen.
Data tersebut tercantum dalam Berita Resmi Statistik BPS Kabupaten Soppeng Nomor 04/09/7312/Th. III, 7 September 2026.
Pada periode tersebut, PDRB Soppeng atas dasar harga berlaku mencapai Rp4.453,95 miliar. Adapun PDRB atas dasar harga konstan tercatat Rp2.269,00 miliar.
Secara tahunan, ekonomi masih tumbuh. Namun, jika dibandingkan dengan Triwulan I 2026, ekonomi Soppeng mengalami kontraksi 2,15 persen secara quarter-to-quarter (q-to-q).
Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi sepanjang Januari-Juni 2026 masih mencapai 6,09 persen secara c-to-c.
Sektor Terbesar Justru Menyusut
Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyumbang 29,26 persen terhadap PDRB Soppeng pada Triwulan II 2026. Porsi tersebut menjadikannya sektor dengan kontribusi terbesar dalam struktur ekonomi daerah.
Namun, sektor tersebut tumbuh negatif 2,56 persen secara y-on-y.
Kontraksi itu menjadi titik penting dalam membaca pertumbuhan ekonomi Soppeng. Sebab, sektor dengan kontribusi terbesar justru mengalami penurunan ketika sejumlah sektor lain mencatat pertumbuhan positif.
Sektor Konstruksi, misalnya, menyumbang 14,47 persen dan tumbuh 9,03 persen. Industri Pengolahan berkontribusi 11,96 persen dengan pertumbuhan 6,95 persen.
Sementara itu, sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor menyumbang 12,92 persen dengan pertumbuhan 1,28 persen.
Administrasi Pemerintahan juga tumbuh 10,60 persen, meskipun kontribusinya terhadap PDRB hanya 5,04 persen.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Soppeng ditopang oleh kinerja sejumlah sektor, sementara sektor pertanian menghadapi tekanan.
Konsumsi Rumah Tangga Masih Menjadi Penopang
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih mendominasi struktur PDRB Soppeng dengan kontribusi 55,88 persen. Komponen tersebut tumbuh 2,76 persen secara y-on-y.
Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menyumbang 39,96 persen dan tumbuh 9,86 persen.
Konsumsi pemerintah memiliki kontribusi 5,07 persen dengan pertumbuhan 0,26 persen. Adapun konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) menyumbang 0,84 persen dan tumbuh 1,59 persen.
Data tersebut memperlihatkan dua sisi perekonomian Soppeng. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan investasi masih bergerak positif. Dari sisi lapangan usaha, pertanian sebagai sektor dengan kontribusi terbesar justru mengalami kontraksi.
Pertumbuhan Soppeng di Bawah Sejumlah Daerah Pembanding
Dalam perbandingan yang tercantum dalam data BPS, pertumbuhan ekonomi Soppeng sebesar 2,91 persen berada di bawah Sidrap 6,83 persen, Wajo 4,84 persen, Barru 5,59 persen, dan Bone 5,47 persen.
Perbandingan tersebut menunjukkan perbedaan laju pertumbuhan antarwilayah pada periode yang sama. Angka tersebut tidak dengan sendirinya menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat masing-masing daerah.
Bagi Soppeng, perhatian kini tertuju pada kemampuan sektor pertanian untuk kembali tumbuh. Dengan kontribusi hampir sepertiga PDRB, perubahan kinerja sektor tersebut berpotensi memengaruhi keseluruhan dinamika ekonomi daerah.
Di saat yang sama, pertumbuhan konstruksi, industri pengolahan, perdagangan, serta sektor lainnya menjadi bagian penting dalam melihat apakah struktur ekonomi Soppeng dapat semakin beragam.
Karena itu, angka 2,91 persen tidak cukup dibaca sebagai pertumbuhan ekonomi semata. Data Triwulan II 2026 menunjukkan adanya tantangan yang lebih spesifik: ekonomi tetap tumbuh, tetapi sektor dengan kontribusi terbesar justru mengalami kontraksi.(Red)















