SOPPENG — Ekonomi Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, tumbuh 2,91 persen secara year-on-year (y-on-y) pada Triwulan II 2026. Di tengah pertumbuhan tersebut, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menjadi penyumbang terbesar PDRB justru mengalami kontraksi 2,56 persen.
Data tersebut tercantum dalam Berita Resmi Statistik BPS Kabupaten Soppeng Nomor 04/09/7312/Th. III, 7 September 2026. PDRB Soppeng atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp4.453,95 miliar, sedangkan atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp2.269,00 miliar.
Aktivis Rudiandi, C.FLE., C.BJ., C.EJ., C.In., jum’at (18/9/2026) soroti angka pertumbuhan ekonomi tersebut. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi perlu dibaca bersama struktur sektoralnya, terutama karena sektor dengan kontribusi terbesar justru mencatat kontraksi.
“Pertumbuhan ekonomi tidak cukup dilihat dari angka agregat. Perlu dilihat sektor mana yang tumbuh dan sektor mana yang justru mengalami kontraksi,” kata Rudiandi.
Ia juga menyinggung angka 9,38 persen yang disebutnya perlu diperjelas sumbernya. Menurut dia, angka tersebut harus disertai keterangan mengenai sektor, periode, dan indikator statistik yang digunakan agar tidak menimbulkan tafsir berbeda.
Pertumbuhan Tahunan, tetapi Triwulanan Menurun
Pertumbuhan ekonomi secara tahunan tersebut berjalan bersamaan dengan kontraksi secara triwulanan.
Dibandingkan Triwulan I 2026, ekonomi Soppeng pada Triwulan II 2026 mengalami kontraksi 2,15 persen secara q-to-q.
Namun, secara kumulatif Januari-Juni 2026, ekonomi Soppeng masih tumbuh 6,09 persen secara c-to-c.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa setiap indikator pertumbuhan memiliki basis perbandingan berbeda. Karena itu, angka y-on-y, q-to-q, dan c-to-c tidak dapat dibaca sebagai ukuran yang sama.
Pertanian Jadi Titik Perhatian
Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyumbang 29,26 persen terhadap PDRB Soppeng. Kontribusi tersebut merupakan yang terbesar dibandingkan lapangan usaha lainnya.
Namun, sektor tersebut mencatat pertumbuhan minus 2,56 persen secara y-on-y.
Besarnya kontribusi pertanian membuat kinerja sektor tersebut menjadi bagian penting dalam membaca struktur ekonomi Soppeng pada Triwulan II 2026.
Di sisi lain, sejumlah sektor mencatat pertumbuhan positif. Konstruksi yang berkontribusi 14,47 persen tumbuh 9,03 persen. Industri Pengolahan dengan kontribusi 11,96 persen tumbuh 6,95 persen.
Sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor menyumbang 12,92 persen dan tumbuh 1,28 persen.
Sementara itu, Administrasi Pemerintahan tumbuh 10,60 persen, dengan kontribusi 5,04 persen terhadap PDRB.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Soppeng berasal dari sejumlah lapangan usaha, sementara sektor dengan kontribusi terbesar mengalami kontraksi.
Konsumsi Rumah Tangga Masih Dominan
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi komponen terbesar dengan distribusi 55,88 persen. Komponen tersebut tumbuh 2,76 persen secara y-on-y.
Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) memiliki distribusi 39,96 persen dan tumbuh 9,86 persen.
Konsumsi pemerintah menyumbang 5,07 persen dengan pertumbuhan 0,26 persen. Sementara itu, PK-LNPRT memiliki distribusi 0,84 persen dan tumbuh 1,59 persen.
Struktur tersebut menunjukkan konsumsi rumah tangga dan investasi tetap menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi Soppeng. Pada sisi lapangan usaha, pertanian tetap menjadi sektor dengan kontribusi terbesar, tetapi pertumbuhannya berada dalam kondisi kontraksi.
Soppeng di Bawah Sejumlah Daerah Pembanding
Dalam perbandingan pertumbuhan ekonomi y-on-y yang tercantum dalam infografis BPS, Soppeng mencatat pertumbuhan 2,91 persen.
Angka tersebut berada di bawah Sidrap 6,83 persen, Wajo 4,84 persen, Barru 5,59 persen, dan Bone 5,47 persen.
Perbandingan tersebut menggambarkan perbedaan laju pertumbuhan ekonomi antarwilayah pada periode yang sama. Namun, angka pertumbuhan ekonomi tidak berdiri sendiri dan tidak secara langsung menggambarkan keseluruhan kondisi kesejahteraan masyarakat.
Angka Pertumbuhan Perlu Dibaca dari Struktur
Data Triwulan II 2026 memperlihatkan dua kondisi yang berjalan bersamaan: ekonomi Soppeng tetap tumbuh secara tahunan, tetapi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap PDRB mengalami kontraksi.
Di sisi lain, konstruksi, industri pengolahan, perdagangan, dan sejumlah sektor lainnya mencatat pertumbuhan positif.
Karena itu, angka 2,91 persen perlu dibaca bersama struktur ekonomi di baliknya. Pertumbuhan agregat tersebut berlangsung dengan kinerja yang berbeda antarsektor.(Red)















