MAUMERE-BreakingNewspost.id — Kunjungan seorang ahli pewarna alami dari Jepang, Hiroki Yamaza, menjadi momentum pertukaran pengetahuan bagi para penenun di Sanggar Budaya Bliran Sina, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan yang berlangsung pada Senin (23/3/2026) itu diikuti oleh para ibu penenun yang selama ini konsisten mempertahankan teknik pewarnaan alami dalam pembuatan kain tenun.
Ketua sanggar, Yosef Gervasius, menyambut positif kunjungan tersebut. Menurutnya, kehadiran praktisi dari luar negeri tidak hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap karya lokal, tetapi juga membuka ruang pembelajaran baru bagi para penenun.

“Kami merasa bangga. Kunjungan ini menambah wawasan ibu-ibu tentang pewarna alami. Beliau juga berpesan agar proses ini tetap dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Yosef, Minggu (29/3/2026).
Sanggar Bliran Sina yang berlokasi di Watublapi dikenal sebagai salah satu kelompok penenun yang masih mempertahankan proses tradisional secara utuh, mulai dari pengolahan kapas menjadi benang hingga penggunaan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan. Tradisi tersebut telah dijaga sejak sanggar ini berdiri pada 1988.
Dalam kunjungannya, Hiroki Yamaza juga melakukan studi perbandingan antara teknik pewarnaan alami yang ia kembangkan di Jepang dengan praktik yang dilakukan para penenun di Sikka. Ia diketahui mengelola galeri tenun dengan bahan pewarna berbasis bunga, salah satunya bunga matahari.
Menurut Yosef, Hiroki menunjukkan ketertarikan tinggi terhadap proses pewarnaan alami yang diterapkan di Bliran Sina. Ia menilai metode yang digunakan para penenun lokal memiliki keunikan tersendiri, terutama dalam hal kerumitan dan ketelitian proses.
Selain berbagi pengetahuan, Hiroki juga membeli beberapa hasil tenun karya anggota sanggar sebagai bentuk apresiasi terhadap kualitas produk lokal.
Kunjungan ini diharapkan dapat memperluas pengenalan tenun ikat berbasis pewarna alami dari Bliran Sina ke tingkat yang lebih luas, termasuk pasar internasional. Yosef menilai, kolaborasi dan pertukaran pengetahuan semacam ini penting untuk menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk tenun.
Sementara itu, keberlangsungan Sanggar Bliran Sina selama hampir empat dekade tidak terlepas dari komitmen anggotanya dalam menjaga nilai-nilai budaya. Sanggar ini mengusung visi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pelestarian seni dan budaya lokal sebagai bagian dari aset nasional.
Di tengah arus modernisasi, praktik pewarnaan alami yang dijaga oleh para penenun di Sikka menjadi contoh bagaimana kearifan lokal tetap relevan dan memiliki nilai di tingkat global. Kunjungan dari praktisi internasional seperti Hiroki Yamaza menjadi pengakuan sekaligus dorongan bagi pelestarian tradisi tersebut.
Reporter: Yuven Fernandez















