Sulawesi Barat-BreakingNewspost.id — Tradisi mendirikan rumah dalam masyarakat Suku Mandar tidak sekadar proses pembangunan fisik, tetapi juga sarat dengan nilai budaya dan spiritual yang diwariskan turun-temurun.
Dalam praktik yang dikenal sebagai mappakede boyang, masyarakat Mandar biasanya melaksanakan serangkaian ritual sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keberkahan bagi rumah yang akan ditempati.
Salah satu tahapan penting dalam ritual tersebut adalah penyediaan sajian adat yang terdiri dari Sokkol, Cucur, serta berbagai jenis pisang seperti Loka Tira, Loka Barangan, dan Loka Manurung. Seluruh sajian ini kemudian disatukan dalam wadah yang disebut kappar.
Sajian tersebut selanjutnya ditempatkan di bagian inti rumah yang dikenal sebagai posi ariang, yakni titik pusat bangunan yang secara filosofis dianggap sebagai “jantung” rumah.
Dalam prosesi berikutnya, seorang imam atau tokoh agama memimpin doa di hadapan sajian tersebut. Doa yang dibacakan umumnya berupa Barzanji, sebagai bentuk permohonan berkah, keselamatan, dan perlindungan bagi penghuni rumah.
Sejumlah tokoh adat menyebut, rangkaian ritual ini mencerminkan perpaduan erat antara tradisi lokal dan nilai-nilai keagamaan yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Mandar.
“Ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi bagian dari cara masyarakat menjaga keseimbangan antara budaya dan keyakinan,” ujar salah satu tokoh adat.
Meski demikian, di tengah perkembangan zaman, praktik ritual seperti ini mulai menghadapi tantangan. Sebagian generasi muda dinilai mulai meninggalkan atau menyederhanakan tahapan-tahapan adat, seiring dengan perubahan pola hidup dan pengaruh modernisasi.
Di sisi lain, sejumlah kalangan menilai pelestarian tradisi tetap penting selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan tetap dimaknai sebagai bentuk doa serta simbol kebersamaan.
Terkait penjelasan yang beredar di masyarakat, secara umum tahapan yang disampaikan dinilai sudah sesuai dengan praktik yang berlaku. Namun, terdapat beberapa istilah yang perlu diluruskan, seperti penyebutan “barsanji” yang lebih tepat ditulis Barzanji. Sementara istilah “barakka” lebih merujuk pada makna berkah, bukan nama benda dalam ritual.
Tradisi mappakede boyang hingga kini masih dipertahankan di sejumlah wilayah Mandar sebagai bagian dari identitas budaya. Selain menjadi simbol harapan akan keselamatan, ritual ini juga memperkuat nilai kebersamaan dalam masyarakat.
Dengan dinamika yang ada, keberlanjutan tradisi ini dinilai sangat bergantung pada kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tetap menjaga dan memahami makna di balik setiap prosesi adat yang dijalankan.@Red
Sumber:yummi















