Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Budaya

Tenun Ikat dan Gading: Simbol Martabat dalam Struktur Adat Sikka

15
×

Tenun Ikat dan Gading: Simbol Martabat dalam Struktur Adat Sikka

Sebarkan artikel ini

Maumere-BreakingNewspost.id — Busana tenun ikat laki-laki Sikka dan gading bukan sekadar warisan budaya, melainkan dua elemen utama yang membentuk struktur adat masyarakat di wilayah Maumere.

Hal ini disampaikan oleh Laurensius P. Virma Yanto Lait, yang menegaskan bahwa keduanya memiliki makna simbolik yang mendalam dalam kehidupan sosial masyarakat Sikka.

“Tenun ikat dan gading bukan hanya benda material. Keduanya adalah simbol identitas, status sosial, serta penghormatan dalam siklus kehidupan masyarakat adat,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).

Tenun Ikat: Identitas dan Jejak Asal Usul

Dalam tradisi Sikka, busana adat laki-laki terdiri dari lipa atau ragi (sarung) dan sembar (selempang). Kain tenun ikat yang digunakan—umumnya berwarna gelap seperti biru tua atau hitam dengan motif khas—menjadi penanda identitas budaya.

Lebih dari sekadar pakaian, motif dan warna pada tenun ikat mencerminkan asal-usul, kedudukan sosial, hingga nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun dalam komunitas.

Gading: Simbol Tertinggi dalam Adat

Sementara itu, gading atau yang dikenal sebagai bala menempati posisi paling tinggi dalam struktur adat, khususnya dalam prosesi pernikahan.

Menurut Yanto, gading memiliki beberapa fungsi utama:

Belis Utama (Mahar): Gading merupakan syarat utama yang diberikan pihak laki-laki kepada keluarga perempuan.

Simbol Penghormatan: Melambangkan penghargaan tertinggi terhadap martabat perempuan dan keluarganya.

Pengikat Kekerabatan: Menyatukan dua keluarga besar dalam ikatan sosial yang kuat.

Penanda Status Sosial: Jumlah dan kualitas gading mencerminkan kemampuan ekonomi serta posisi sosial pihak laki-laki.

“Pemberian gading bukan transaksi, melainkan pengakuan atas martabat perempuan dan bentuk penghormatan kepada keluarga besar,” jelasnya.

Keseimbangan Nilai Adat

Perpaduan antara tenun ikat—yang identik dengan karya dan peran perempuan—dan gading—yang merepresentasikan tanggung jawab serta kehormatan laki-laki—mencerminkan keseimbangan nilai dalam masyarakat adat Sikka.

Keduanya menjadi fondasi dalam menjaga harmoni sosial, sekaligus memperkuat identitas budaya di tengah arus modernisasi.

Di tengah perkembangan zaman, masyarakat berharap nilai-nilai ini tetap dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya yang tidak ternilai di Kabupaten Sikka.

Reporter: Yuven Fernandez

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *