Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Uskup Ewaldus: Cium Salib Bukan Sekadar Ritual Kesedihan, tetapi Komitmen Memulihkan Relasi

9
×

Uskup Ewaldus: Cium Salib Bukan Sekadar Ritual Kesedihan, tetapi Komitmen Memulihkan Relasi

Sebarkan artikel ini

Maumere-BreakingNewspost.id — Uskup Keuskupan Maumere, Ewaldus Martinus Sedu, mengingatkan umat Katolik bahwa tindakan mencium salib dalam Jumat Agung tidak boleh dimaknai sekadar sebagai ritual kesedihan, melainkan sebagai simbol komitmen untuk memulihkan relasi yang retak, baik dengan sesama maupun dengan Tuhan.

Pesan itu disampaikan di hadapan ribuan umat yang memadati Gereja St. Ignatius Loyola Sikka, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, saat mengikuti Ibadat Sabda Jumat Agung, Jumat (3/4/2026).

Dalam refleksinya, Uskup Ewaldus mengajak umat untuk merenungkan makna mendalam di balik kata-kata terakhir Yesus di kayu salib. Ia menegaskan bahwa Yesus tidak tampil sebagai korban yang tak berdaya, melainkan pribadi yang dengan sadar memilih jalan salib sebagai bentuk cinta yang total bagi manusia.

Menurutnya, seruan “Aku haus” yang diucapkan Yesus tidak hanya merujuk pada kebutuhan fisik, tetapi memiliki makna spiritual yang lebih dalam.

“Yesus haus akan manusia yang berdosa tetapi enggan kembali kepada-Nya. Ia haus akan hati yang tidak terbuka bagi pertobatan, dan haus akan tanggapan iman yang sering kali suam-suam kuku,” ujar Uskup Ewaldus.

Ia menjelaskan bahwa peristiwa salib memperlihatkan relasi timbal balik antara Allah dan manusia. Di satu sisi, Allah “haus” akan manusia, sementara di sisi lain manusia juga merindukan Allah.

“Sering kali manusia mengira merekalah yang mencari Tuhan. Padahal, dalam peristiwa salib, justru Tuhanlah yang aktif mencari manusia agar tidak kehilangan arah hidup,” tuturnya.

Dalam konteks kehidupan modern, Uskup Ewaldus menyoroti kecenderungan manusia yang mencoba mengisi kekosongan batin dengan hal-hal duniawi yang bersifat semu, seperti ambisi tanpa makna dan kesibukan yang menjauhkan dari nilai-nilai spiritual.

Ia mengidentifikasi berbagai bentuk “kehausan” yang dialami umat saat ini, mulai dari haus akan makna hidup di tengah rutinitas yang melelahkan, haus akan keadilan di tengah ketidakjujuran, hingga haus akan perhatian dalam kehidupan keluarga.

Selain itu, ia juga menyinggung pentingnya kehadiran nyata dalam kehidupan menggereja, khususnya di tingkat Komunitas Basis Gereja (KBG). Menurutnya, banyak KBG saat ini menghadapi tantangan berupa menurunnya kualitas kebersamaan dan iman yang cenderung formalitas.

Secara khusus, Uskup Ewaldus mengajak umat untuk menjawab “dahaga” tersebut melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan pentingnya kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang menderita, sakit, dan terpinggirkan.

“Saling mendengar dalam keluarga penting untuk mencegah pertengkaran dan kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu, keterlibatan aktif dalam KBG menjadi wujud nyata iman,” katanya.

Ibadat Jumat Agung berlangsung khidmat dan tertib, mencerminkan kekhusyukan umat dalam menghayati salah satu momen paling sakral dalam tradisi iman Katolik. Gereja St. Ignatius Loyola Sikka, yang dikenal sebagai salah satu gereja bersejarah di Kabupaten Sikka, kembali menjadi pusat refleksi spiritual bagi umat di wilayah tersebut.

Melalui perayaan ini, umat diharapkan tidak hanya berhenti pada simbol dan ritual, tetapi mampu menerjemahkan makna salib dalam kehidupan nyata, terutama dalam membangun kembali relasi yang retak di tengah keluarga, masyarakat, dan kehidupan beriman.

(Yuven Fernandez)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *