Kupang-BreakingNewspost.id — Emanuel Melkiades Laka Lena menyoroti tingginya konsumsi pinang di Nusa Tenggara Timur yang mencapai sekitar Rp1 triliun per tahun. Angka tersebut dinilai mencerminkan masih besarnya aliran uang keluar daerah yang belum mampu dikendalikan oleh produksi lokal.
Menurut Melki, kondisi ini menjadi bagian dari persoalan struktural ekonomi NTT yang masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Ia mengungkapkan, defisit perdagangan NTT diperkirakan mencapai Rp51 triliun per tahun, sebuah angka yang menunjukkan ketimpangan antara konsumsi dan kapasitas produksi daerah.
“Uang berputar di NTT cukup besar, tetapi banyak yang keluar karena kita belum mampu memproduksi sendiri kebutuhan masyarakat,” ujarnya dalam kunjungan kerja di wilayah Timor Tengah Selatan, Jumat (3/4/2026).
Melki menekankan pentingnya perubahan paradigma ekonomi, dari pola konsumtif menuju produktif. Ia mendorong aparatur sipil negara (ASN) menjadi penggerak utama dalam mendukung produk lokal. Dengan asumsi sekitar 11.000 ASN di Timor Tengah Selatan membelanjakan Rp100.000 per bulan untuk produk lokal, perputaran uang di daerah itu dapat mencapai Rp1,1 miliar setiap bulan.
Langkah tersebut dinilai sebagai strategi sederhana namun berdampak langsung dalam memperkuat ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain itu, Pemerintah Provinsi NTT juga mendorong integrasi sejumlah program berbasis komunitas, seperti One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP). Ketiga program ini diarahkan untuk membangun ekosistem produksi berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.
Melki meminta organisasi perangkat daerah (OPD) melakukan pemetaan terhadap komoditas yang selama ini didatangkan dari luar daerah. Pemetaan ini penting untuk menentukan produk mana yang berpeluang dikembangkan secara lokal guna menekan ketergantungan impor antardaerah.
Dalam kunjungan tersebut, Melki juga menunjukkan dukungan langsung terhadap produk lokal dengan membeli berbagai hasil karya siswa dan UMKM. Produk yang dibeli antara lain kue rambut manis, keripik pisang, stik kelor, sambal luat, abon ikan, jagung goreng, hingga kain tenun khas daerah.
Menurut dia, langkah sederhana seperti membeli produk lokal memiliki efek berantai terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Selain meningkatkan pendapatan pelaku usaha, hal itu juga mendorong keberlanjutan produksi dan inovasi.
Di sisi lain, Melki mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah menyimpan risiko tinggi, terutama di tengah ketidakpastian global. Ia menyinggung potensi dampak konflik internasional serta fenomena El Niño yang diperkirakan akan memengaruhi produksi pangan dan stabilitas harga.
Penguatan ekonomi lokal, lanjutnya, menjadi langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan daerah dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut.
Pengamat ekonomi daerah menilai, gagasan yang disampaikan Gubernur NTT tersebut relevan dengan kondisi wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan akses logistik. Namun, implementasinya membutuhkan konsistensi kebijakan, dukungan infrastruktur, serta pendampingan berkelanjutan bagi pelaku usaha lokal.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemerintah Provinsi NTT berharap dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk dari luar daerah. Red















