Tidore-BreakingNewspost.id — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-918 Kota Tidore Kepulauan berlangsung khidmat dan sarat makna sejarah. Ribuan masyarakat tumpah ruah mengikuti pawai adat yang melibatkan unsur Pemerintah Kota Tidore, perangkat kesultanan, hingga tokoh adat.
Kegiatan tersebut dihadiri dan diwakili oleh Wali Kota Tidore, A. Eman Suleman, S.Sos, bersama sejumlah pejabat daerah lainnya. Pawai dimulai dari kawasan Jembatan Kesultanan Tidore, yang menjadi titik simbolik perjalanan sejarah panjang kerajaan di wilayah timur Indonesia itu.

Barisan pawai turut diisi oleh para bobato (tokoh adat), serta Suba Jou Sultan Tidore, Husain Syah Alting, S.E., yang hadir didampingi Kapita Laut—figur yang secara adat dikenal sebagai penguasa laut di wilayah Kesultanan Tidore, Po Ker Alting. Rombongan kemudian bertolak menggunakan speed boat dan perahu motor kayu (mangiri), menyusuri perairan yang menjadi bagian penting dalam sejarah maritim Tidore.
Sebelum keberangkatan, seluruh peserta pawai mengikuti doa bersama yang dipimpin langsung oleh Sultan Tidore, Husain Alting Syah. Dalam doa tersebut, dipanjatkan harapan agar seluruh rangkaian kegiatan diberikan keselamatan dan kelancaran hingga selesai.
Suasana semakin khidmat ketika alunan alat musik tradisional mengiringi jalannya prosesi. Pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat terhadap perjalanan panjang berdirinya Kesultanan Tidore sejak lebih dari sembilan abad silam.
Sejumlah warga yang hadir tampak larut dalam suasana haru. Tidak sedikit yang terdiam, bahkan menitikkan air mata saat kisah-kisah perjuangan, suka dan duka dalam membangun kerajaan Tidore kembali dikenang.
“Ini bukan sekadar perayaan, tetapi momen untuk mengingat sejarah panjang leluhur kami,” ujar salah satu warga.
Secara historis, Tidore dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam tertua di Indonesia bagian timur. Dalam perjalanannya, Kesultanan Tidore memiliki pengaruh luas, termasuk wilayah Raja Ampat yang pernah berada dalam lingkup kekuasaannya.
Selain dikenal sebagai kota rempah, masyarakat Tidore juga dikenal teguh memegang adat istiadat serta menjunjung tinggi nilai kesopanan terhadap siapa pun yang datang berkunjung. Identitas inilah yang terus dijaga hingga saat ini.
Dalam konteks pemerintahan modern, Kota Tidore Kepulauan juga memiliki peran penting dalam dinamika pembentukan Provinsi Maluku Utara. Sebelum pemekaran, wilayah ini menjadi bagian dari Provinsi Maluku dengan ibu kota di Ambon, sebelum akhirnya berdiri sebagai daerah otonom.
Peringatan HUT ke-918 ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga refleksi atas perjalanan panjang sejarah, budaya, dan peradaban Tidore sebagai salah satu pilar penting di kawasan timur Indonesia.
Penulis: Yordanian Sero















