Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Rakernas Perdana FSPIM, Konsolidasi Kekuatan Buruh di Tengah Tantangan Industri

16
×

Rakernas Perdana FSPIM, Konsolidasi Kekuatan Buruh di Tengah Tantangan Industri

Sebarkan artikel ini

Morowali-BreakingNewspost.id — Ratusan anggota Federasi Serikat Pekerja Industri Merdeka (FSPIM) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) perdana di Balai Desa Kolono, Kecamatan Bungku Timur, pada 13–14 April 2026.

Rakernas ini menjadi momentum penting bagi FSPIM yang belum genap setahun berdiri sebagai federasi. Organisasi ini resmi terbentuk pada Juli 2025, setelah melalui proses panjang konsolidasi sejak 2018.

Kegiatan selama dua hari itu diisi dengan berbagai agenda strategis. Pada hari pertama, forum membahas gambaran perkembangan organisasi sejak awal pembentukan hingga 2026, situasi industri pertambangan di Indonesia, serta dilanjutkan dengan pembagian peserta ke dalam tiga komisi: organisasi, politik, dan ideologi.

Masing-masing komisi bertugas merumuskan rekomendasi program kerja FSPIM sesuai bidangnya. Sementara pada hari kedua, pembahasan difokuskan pada pendalaman hasil komisi, termasuk penyusunan taktik dan strategi organisasi ke depan, hingga perumusan resolusi Rakernas.

Sepanjang forum, dinamika diskusi berlangsung intens. Perdebatan terjadi hampir di setiap sesi, mulai dari persoalan internal organisasi hingga arah gerakan buruh dalam merespons situasi industri yang terus berubah.

Isu-isu konkret di tempat kerja menjadi perhatian utama, seperti persoalan pengelolaan debu di kawasan industri hingga kebijakan efisiensi perusahaan yang dinilai berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK). Beberapa perusahaan yang menjadi sorotan antara lain PT MIM, PT RJS, PT GNI, serta PT MTI yang disebut mengalami kasus PHK maupun berakhirnya kontrak kerja.

Di sisi lain, perdebatan terkait arah politik elektoral tidak menjadi fokus utama forum. Peserta Rakernas memilih untuk tidak memperpanjang pembahasan tersebut, dengan pertimbangan belum adanya kendaraan politik yang dinilai benar-benar merepresentasikan kepentingan buruh. Selain itu, organisasi saat ini masih memprioritaskan penguatan internal dan perluasan basis di berbagai daerah.

Penyamaan Gagasan dan Penguatan Struktur

Ketua Umum FSPIM, Komang Jordi Segara, menyatakan Rakernas ini menjadi ajang konsolidasi untuk menyamakan perspektif sekaligus memperkuat arah gerak organisasi.

“Rakernas FSPIM pertama ini menjadi momentum menghimpun kekuatan buruh dengan penyamaan gagasan agar kerja-kerja organisasi lebih terukur dan sistematis ke depan,” ujarnya.

Menurut dia, forum juga membahas pembagian tugas dan fungsi struktural dari tingkat pusat hingga basis, mulai dari DPP, DBN, DPW, DPC, hingga PUK. Hal ini dinilai penting agar pelaksanaan program tidak tumpang tindih.

Selain itu, dinamika perburuhan nasional juga menjadi perhatian, termasuk persiapan dalam menyambut peringatan Hari Buruh Internasional (May Day).

Peran Panitia dan Semangat Kolektif

Di balik jalannya Rakernas, peran panitia menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran kegiatan. Ketua Panitia, Ade Novit, menyebut keberhasilan forum tidak lepas dari kerja kolektif seluruh tim.

Menurutnya, berbagai elemen pendukung, mulai dari perlengkapan, dokumentasi, pengamanan oleh Barisan Pelopor (Bapor), hingga tim konsumsi, berkontribusi besar dalam menciptakan suasana forum yang kondusif.

“Rakernas kali ini terasa sangat membumi. Ini menjadi langkah awal untuk memantapkan FSPIM sebagai organisasi yang lebih kuat dan bermartabat dalam memperjuangkan kesejahteraan buruh,” kata Ade.

Rakernas perdana ini menandai fase awal konsolidasi FSPIM sebagai federasi buruh. Di tengah tantangan industri dan dinamika ketenagakerjaan, penguatan organisasi dinilai menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan perjuangan buruh ke depan.Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *