Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaDAERAH

Abrasi Sungai Walennae di Latuawo Jadi Alarm Infrastruktur, Warga Khawatir Jalan Penghubung Putus Saat Banjir

13
×

Abrasi Sungai Walennae di Latuawo Jadi Alarm Infrastruktur, Warga Khawatir Jalan Penghubung Putus Saat Banjir

Sebarkan artikel ini

SOPPENG-BreakingNewspost.id – Gerusan Sungai Walennae kembali memunculkan kekhawatiran warga. Di wilayah Latuawo, Kelurahan Macanre, Kabupaten Soppeng, abrasi yang terus mengikis tebing sungai kini mulai mengancam badan jalan yang berada hanya beberapa meter dari bibir sungai. Kondisi tersebut tidak hanya memunculkan kekhawatiran akan kerusakan infrastruktur, tetapi juga menimbulkan pertanyaan mengenai langkah mitigasi yang harus segera dilakukan sebelum bencana yang lebih besar terjadi.

Pantauan warga menunjukkan sebagian tebing di sepanjang aliran Sungai Walennae mengalami longsoran akibat terjangan arus sungai yang berlangsung terus-menerus. Pada beberapa titik, jarak antara badan jalan dan bibir longsoran semakin menyempit. Situasi ini membuat masyarakat cemas, terutama ketika memasuki musim penghujan yang identik dengan meningkatnya debit air sungai.

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai, ancaman tersebut bukan sekadar kekhawatiran biasa. Mereka mengingat bagaimana Sungai Walennae kerap menunjukkan kekuatannya saat banjir datang. Arus deras yang membawa material tanah dan sampah sering kali mempercepat proses pengikisan tebing, sehingga memperbesar risiko longsor.

“Kalau hujan deras terjadi di wilayah hulu, debit air bisa naik dengan cepat. Kami khawatir satu kali banjir besar saja sudah cukup membuat longsor semakin parah dan mendekati badan jalan,” ujar seorang warga setempat.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Jalan yang berada di kawasan Latuawo memiliki fungsi penting sebagai jalur penghubung masyarakat. Selain menghubungkan Kelurahan Macanre dengan Desa Kebo, ruas jalan tersebut juga menjadi akses alternatif menuju Cabbenge yang selama ini banyak digunakan warga untuk mempercepat mobilitas sehari-hari.

Jika abrasi terus berlangsung tanpa penanganan, dampaknya diperkirakan tidak hanya sebatas kerusakan tebing sungai. Putusnya badan jalan berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi, pendidikan, layanan kesehatan, hingga akses transportasi masyarakat yang selama ini bergantung pada jalur tersebut.

Di tengah kondisi tersebut, warga menilai langkah pencegahan jauh lebih penting dibandingkan menunggu kerusakan terjadi. Mereka berharap pembangunan talud atau penguatan tebing sungai dapat segera dilakukan sebelum abrasi meluas dan menimbulkan biaya penanganan yang lebih besar.

Masyarakat juga meminta perhatian serius dari Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWS Pompengan Jeneberang) sebagai instansi yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan sungai. Menurut warga, kajian teknis dan langkah penanganan perlu segera dilakukan untuk mengetahui tingkat risiko yang dihadapi kawasan tersebut.

Selain meminta perhatian pemerintah teknis, warga turut menyoroti pentingnya peran para wakil rakyat dalam memperjuangkan kebutuhan infrastruktur di daerah. Mereka berharap anggota DPRD yang mewakili daerah pemilihan setempat dapat mendorong percepatan penanganan melalui jalur penganggaran maupun koordinasi dengan instansi terkait.

“Kami berharap aspirasi masyarakat ini benar-benar diperjuangkan. Jangan sampai penanganan baru dilakukan setelah terjadi kerusakan besar atau akses jalan terputus,” kata seorang warga.

Persoalan abrasi di bantaran sungai sesungguhnya bukan hanya masalah lokal yang terjadi di satu titik wilayah. Di banyak daerah, perubahan pola curah hujan, meningkatnya debit banjir, serta kondisi tebing sungai yang rentan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam menjaga infrastruktur yang berada di sekitar aliran sungai.

Karena itu, penanganan abrasi membutuhkan pendekatan yang tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga berorientasi jangka panjang. Selain pembangunan talud dan penguatan tebing, diperlukan pemetaan kawasan rawan longsor, pemantauan berkala kondisi bantaran sungai, serta langkah-langkah konservasi lingkungan yang dapat membantu mengurangi laju erosi.

Di Latuawo, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan. Setiap musim hujan yang berlalu tanpa penanganan berpotensi memperbesar kerusakan yang sudah terjadi. Warga berharap pemerintah tidak menunggu hingga badan jalan amblas atau permukiman terancam sebelum mengambil tindakan.

Sebab ketika abrasi terus bergerak mendekati jalan dan kawasan hunian, yang dipertaruhkan bukan hanya infrastruktur, melainkan juga keselamatan masyarakat serta kelancaran aktivitas ekonomi yang menjadi urat nadi kehidupan warga setempat.

Kini masyarakat menunggu langkah konkret dari pihak terkait. Harapan mereka sederhana: pengamanan tebing sungai dilakukan sebelum bencana datang, bukan setelah kerusakan terjadi. Di tengah ancaman abrasi yang semakin nyata, pencegahan menjadi pilihan yang jauh lebih murah daripada menanggung dampak yang ditinggalkan kemudian hari.

@Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *