Manado-BreakingNewspost.id — Kehangatan persaudaraan terasa kental di sebuah rumah di Kelurahan Paal 4, Kecamatan Tikala, Manado, Minggu (19/4/2026). Rukun Persaudaraan Gemeh di perantauan kembali menggelar ibadah kunjungan keluarga, kali ini di kediaman keluarga Mas Ud–Manangkasi.
Yang membuat momen ini istimewa, ibadah tersebut berlangsung di rumah keluarga yang berbeda keyakinan. Namun suasana tetap berjalan khidmat, penuh rasa hormat, dan sarat makna kebersamaan.
Ibadah dipimpin oleh Polorince Rellu dengan pembacaan Alkitab dari Kisah Para Rasul 10:34–36. Dalam renungannya, disampaikan bahwa Tuhan tidak membedakan manusia berdasarkan latar belakang, melainkan menerima setiap orang yang hidup dalam kebenaran.
Pesan itu merujuk pada peristiwa perjumpaan Rasul Petrus dengan Kornelius, yang menjadi titik penting terbukanya pelayanan Injil bagi semua bangsa. Nilai kesetaraan, penerimaan, dan damai sejahtera menjadi inti dari firman yang dibagikan.
Di tengah keberagaman yang ada, ibadah ini menjadi cerminan nyata bahwa perbedaan tidak selalu menjadi sekat. Justru, dalam ruang yang sederhana, nilai toleransi menemukan bentuknya yang paling nyata.
Sekretaris rukun, Darmin Lia, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan wujud konkret persaudaraan lintas iman.
“Ibadah ini mengajarkan bahwa perbedaan bukan penghalang, tetapi kekuatan untuk saling menghargai. Kami bersyukur nilai kebersamaan tetap terjaga di perantauan,” ujarnya.
Sementara itu, tuan rumah, Denji Manangkasi, mengaku bahagia dapat menjadi bagian dari kebersamaan tersebut.
“Kami merasa terhormat. Walaupun berbeda keyakinan, kami tetap satu dalam persaudaraan. Semoga kebersamaan seperti ini terus terpelihara,” tuturnya.
Ibadah kemudian ditutup dengan ramah tamah yang mempererat hubungan antaranggota. Canda, cerita, dan kebersamaan mengalir tanpa sekat, memperlihatkan wajah harmoni yang hidup di tengah masyarakat.
Di tengah berbagai dinamika sosial yang kerap menguji toleransi, peristiwa sederhana ini menjadi pengingat bahwa kerukunan bukan sekadar wacana, melainkan praktik yang tumbuh dari kesediaan untuk saling membuka ruang.
Apa yang terjadi di sudut Kota Manado ini menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus berujung pada jarak. Sebaliknya, ia dapat menjadi jembatan yang menguatkan persaudaraan—selama ada rasa saling menghormati dan keinginan untuk hidup berdampingan.Tim















