Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Budaya

Pertahankan Budaya Lokal, Warga Habipiret Sikka Lestarikan Tenun Ikat sebagai Sumber Penghidupan

22
×

Pertahankan Budaya Lokal, Warga Habipiret Sikka Lestarikan Tenun Ikat sebagai Sumber Penghidupan

Sebarkan artikel ini

Maumere, BREAKINGNEWS.post.id — Di tengah arus modernisasi, warga Dusun Habipiret, Desa Manubura, Kecamatan Nelle, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, tetap bertahan menjaga warisan leluhur melalui kerajinan tenun ikat.

Bagi sebagian besar ibu rumah tangga di wilayah ini, menenun bukan sekadar tradisi, tetapi juga menjadi mata pencaharian utama untuk menopang kebutuhan keluarga.

Kain yang dihasilkan dikenal sebagai sarung khas Maumere atau utan, dengan ragam motif dan warna yang mencerminkan identitas budaya masyarakat Maumere.

Salah satu pengrajin, Vinsensia Frudensiana, mengatakan bahwa keterampilan menenun ia peroleh secara turun-temurun dari orang tuanya.

“Yang ajarkan saya adalah mama. Dari kecil sudah belajar, sampai sekarang saya bisa buat berbagai motif,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Menurutnya, tenun ikat memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Kain sarung tidak hanya digunakan sebagai busana, tetapi juga menjadi bagian wajib dalam berbagai acara adat dan kegiatan keluarga.

“Di sini, kalau ada acara adat atau keluarga, kain sarung itu wajib. Itu sudah jadi bagian dari kehidupan kami,” katanya.

Proses Panjang dan Nilai Ekonomi

Untuk menghasilkan satu lembar kain sarung, dibutuhkan waktu sekitar dua minggu. Prosesnya dimulai dari pewarnaan benang, pengeringan, hingga tahap penenunan secara manual.

Harga satu lembar kain berkisar antara Rp600 ribu hingga Rp1 juta, tergantung motif dan ukuran. Sebagian hasil tenun disimpan untuk kebutuhan adat, sementara sisanya dijual di pasar lokal di wilayah Kabupaten Sikka.

“Dari tenun ini, puji Tuhan, kebutuhan keluarga bisa terpenuhi. Saya juga bisa bantu biaya sekolah anak-anak,” ungkap Vinsensia.

Harapan Akses Pasar Lebih Luas

Meski menjadi sumber penghasilan, para pengrajin mengaku masih menghadapi keterbatasan pemasaran. Selama ini, penjualan hanya dilakukan di sekitar wilayah Sikka.

“Kalau bisa jual sampai ke luar daerah, mungkin kehidupan kami bisa lebih baik,” ujarnya.

Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, keterbatasan akses pasar membatasi pendapatan pengrajin. Namun di sisi lain, tenun ikat Sikka memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai produk unggulan daerah jika didukung promosi dan pemasaran yang lebih luas.

Menjaga Warisan di Tengah Perubahan

Di tengah perubahan zaman, ketekunan para perempuan Habipiret menenun menjadi simbol ketahanan budaya lokal. Tenun ikat bukan hanya produk kerajinan, tetapi juga identitas, sejarah, dan sumber kehidupan.

Kini, harapan bertumpu pada sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha untuk memastikan warisan ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan memberi kesejahteraan bagi para pengrajin.

(Ary Haryanto)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *