Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Pendidikan

Ratusan Siswa SMPN Kewapante Deklarasikan Komitmen Sekolah Sehat Jiwa, Respons Penurunan Indikator Keamanan Sekolah

56
×

Ratusan Siswa SMPN Kewapante Deklarasikan Komitmen Sekolah Sehat Jiwa, Respons Penurunan Indikator Keamanan Sekolah

Sebarkan artikel ini

Sikka-BreakingNewspost. Id — Sebanyak 309 peserta didik SMP Negeri Kewapante, Desa Seusina, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mendeklarasikan komitmen bersama untuk menjaga kesehatan jiwa warga sekolah. Deklarasi tersebut berlangsung di aula sekolah, Rabu (29/4/2026), dan diikuti oleh seluruh warga sekolah.

Deklarasi ini menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan mendukung kesehatan mental peserta didik. Tiga poin utama yang disepakati meliputi komitmen menjadikan sekolah bebas dari perundungan (bullying) dan kekerasan terhadap anak, bebas dari diskriminasi, serta bebas dari penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza).

Kegiatan deklarasi dilaksanakan setelah pembukaan sosialisasi dan lomba kesehatan jiwa remaja dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Payung Perjuangan Humanis (PAPHA) Indonesia, dan dihadiri Pelaksana Tugas Kepala Dinas PKO Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko, S.Pt.

Kepala SMP Negeri Kewapante, Alexius Dewa, mengatakan pihaknya menyambut positif inisiatif Yayasan PAPHA yang mengangkat isu kesehatan mental di lingkungan sekolah. Ia menyebut kegiatan tersebut relevan dengan kondisi yang tengah dihadapi sekolah, terutama setelah hasil Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) 2025 menunjukkan adanya penurunan indikator iklim keamanan sekolah.

“Kami sedang menganalisis hasil ANBK 2025 yang dirilis tahun 2026. Terdapat penurunan indikator iklim keamanan sekolah sebesar 2,70 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menjadi perhatian kami bersama,” ujarnya.

Menurut Alexius, kondisi tersebut mendorong pihak sekolah untuk memperkuat komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan, termasuk tenaga pendidik, orang tua, serta lembaga mitra seperti PAPHA, guna memperbaiki kondisi tersebut.

Ia menambahkan, upaya mengubah indikator dari kategori “kuning” menuju “hijau” membutuhkan kerja bersama yang berkelanjutan. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah meningkatkan perhatian terhadap kesehatan mental peserta didik.

“Kesehatan mental anak harus menjadi perhatian semua pihak. Dengan komitmen bersama, kita berharap kasus-kasus yang berdampak pada kondisi psikologis siswa dapat diminimalkan,” katanya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas PKO Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko, memberikan apresiasi terhadap peran Yayasan PAPHA yang dinilai konsisten mengangkat isu kesehatan jiwa sejak hadir di wilayah Sikka pada 2024.

Ia menilai, persoalan kesehatan mental anak dalam beberapa waktu terakhir perlu mendapatkan perhatian serius. Oleh karena itu, kegiatan sosialisasi dan deklarasi seperti ini dinilai penting untuk meningkatkan kesadaran serta pemahaman peserta didik.

“Kondisi dalam beberapa bulan terakhir yang berkaitan dengan persoalan jiwa anak perlu mendapat perhatian bersama. Kegiatan seperti ini harus didukung semua pihak,” ujarnya.

Patrisius juga mengimbau para siswa untuk mengikuti kegiatan sosialisasi dengan baik. Ia menyebut, materi yang disampaikan oleh narasumber, termasuk psikolog dari Universitas Nusa Nipa serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Kewapante dan Waipare, diharapkan dapat membantu siswa memahami kondisi diri mereka.

“Peserta didik diharapkan dapat mengenali kondisi dirinya. Jika mengalami persoalan, jangan menutup diri. Sampaikan kepada guru bimbingan dan konseling agar dapat dibantu,” katanya.

Di sisi lain, Community Organizer Yayasan PAPHA Indonesia, Emilianus Esek Soge, berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada seremoni semata, melainkan menjadi komitmen berkelanjutan dalam menjaga kesehatan mental di lingkungan sekolah.

Menurutnya, budaya saling mendukung, peduli, dan menjaga satu sama lain perlu terus dibangun agar tercipta lingkungan belajar yang sehat secara psikologis.

“Kami berharap deklarasi ini berdampak nyata dalam meningkatkan indikator iklim keamanan sekolah yang sebelumnya menurun, sehingga ke depan dapat menunjukkan perbaikan,” ujarnya.

Sejumlah pihak menilai, langkah deklaratif seperti ini penting sebagai titik awal membangun kesadaran kolektif. Namun, implementasi nyata di lapangan tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan keberhasilan upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan sehat secara mental.

Momentum peringatan Hardiknas dinilai menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan sistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga kesejahteraan psikologis peserta didik.

Reporter: Yuven Fernandez

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *