Maumere-BreakingNewspost.id — Menyambut peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Yayasan Payung Perjuangan Humanis (PAPHA) Indonesia menggelar Lomba Kesehatan Jiwa Remaja di SMP Negeri Kewapante, Desa Seusina, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Kamis (30/4/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran serta literasi kesehatan mental di kalangan pelajar, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang lebih suportif terhadap tumbuh kembang remaja.

Community Organizer PAPHA Indonesia, Emilianus Esek Soge, menekankan bahwa masa remaja merupakan fase krusial dalam pembentukan karakter generasi masa depan.
“Masa remaja adalah periode transisi yang penuh perubahan, baik fisik, emosional, maupun sosial. Karena itu, kesehatan jiwa menjadi aspek yang tidak kalah penting dari kesehatan fisik,” ujarnya.
Menurut dia, remaja rentan menghadapi berbagai persoalan psikologis seperti kecemasan hingga depresi, sehingga diperlukan pendekatan edukatif yang mampu menjangkau mereka secara langsung di lingkungan sekolah.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari program BERSAHAJA (Bersama untuk Flores yang Sehat Jiwa), yang selama ini mendampingi pelajar di wilayah Kecamatan Kewapante.
Dalam pelaksanaannya, PAPHA Indonesia menggelar sejumlah lomba dengan tema besar “Suara Pelajar Dalam Merawat Mental, Menguatkan Bangsa”. Adapun kategori lomba meliputi lomba konten edukasi kesehatan jiwa, lomba pidato, serta lomba cerdas cermat.
Pada lomba konten edukasi, peserta diminta membuat video berdurasi 1–3 menit yang mengangkat tema “Cerita Pelajar dan Kesehatan Mental”. Konten tersebut diharapkan mampu menjadi media kampanye kesadaran kesehatan jiwa dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, termasuk mengangkat isu seperti perundungan dan stres di kalangan remaja.
Sementara itu, lomba pidato mengangkat tema “Pelajar Sadar Mental: Berani Bicara, Siap Mendengar”, yang mendorong siswa untuk lebih terbuka dalam menyampaikan persoalan mental sekaligus membangun empati di lingkungan sekolah.
Adapun lomba cerdas cermat berfokus pada penguatan pengetahuan dasar terkait kesehatan mental remaja.
Kepala SMPN Kewapante, Alexius Dewa, menilai kegiatan tersebut memiliki makna strategis dan tidak sekadar menjadi ajang kompetisi.
“Ini bukan hanya lomba, tetapi bagian dari upaya membangun kesadaran bersama. Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental dalam proses pendidikan.
Mengutip ungkapan mens sana in corpore sano, Alexius mengingatkan bahwa tubuh yang sehat harus diiringi dengan jiwa yang kuat.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa hasil kegiatan ini akan ditindaklanjuti melalui proses skrining kesehatan mental yang melibatkan psikolog dari Universitas Nusa Nipa. Menurut dia, tidak hanya siswa, guru juga perlu mendapatkan perhatian serupa.
“Guru juga perlu disaring kondisi kesehatan mentalnya. Tidak akan optimal jika hanya siswa yang diperhatikan,” katanya.
Di sisi lain, Ketua OSIS SMPN Kewapante, Theresa Angelina D’Grace, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai program ini memberikan dampak positif, tidak hanya dalam jangka pendek tetapi juga bagi masa depan pelajar.
“Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang inspiratif. Kami tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar memahami pentingnya menjaga kesehatan mental,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi partisipasi aktif ratusan siswa dalam kegiatan tersebut, yang dinilai mencerminkan meningkatnya kesadaran pelajar terhadap isu kesehatan jiwa.
Meski demikian, sejumlah kalangan menilai bahwa upaya peningkatan literasi kesehatan mental di sekolah perlu dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam sistem pendidikan. Kegiatan seperti lomba dinilai efektif sebagai pemantik, namun harus diikuti dengan pendampingan jangka panjang.
Melalui kegiatan ini, PAPHA Indonesia berharap dapat mendorong terbentuknya generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki ketahanan mental yang baik.
Momentum Hardiknas 2026 pun dimaknai sebagai pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada kesehatan mental sebagai fondasi utama dalam membangun generasi yang tangguh dan berdaya saing.
Reporter: Yuven Fernandez















