TTS–BreakingNewspost.id — Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, mendorong Desa Nobi-Nobi menjadi model pengembangan ekonomi desa berbasis program One Village One Product (OVOP) melalui produksi emping jagung bernilai jual tinggi.
Komitmen tersebut disampaikan Melki saat menutup kegiatan pelatihan dan penyerahan alat produksi emping jagung bagi kelompok UMKM di Desa Nobi-Nobi, Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kamis (7/5/2026).
Kegiatan yang digelar Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Nusa Tenggara Timur itu berlangsung selama tiga hari dan diikuti kelompok usaha masyarakat desa.
Dalam program tersebut, pemerintah provinsi menyerahkan bantuan alat produksi sekaligus memberikan pelatihan pengolahan jagung, pengemasan produk, branding, hingga strategi pemasaran.
Melki menegaskan, pemerintah kini mulai mengubah pola bantuan desa agar tidak berhenti pada penjualan bahan mentah semata, melainkan mendorong masyarakat mengolah hasil pertanian menjadi produk siap jual dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kita bantu mulai dari pelatihan, pemberian alat, sampai pengemasan supaya produk masyarakat punya nilai jual yang lebih bagus dan menguntungkan masyarakat yang memproduksi,” ujar Melki.
Menurut dia, jagung yang sebelumnya hanya dijual murah dalam bentuk curah kini dapat menghasilkan nilai tambah setelah diolah menjadi emping jagung dengan kemasan yang lebih menarik.
“Kalau hanya dijual biasa nilainya kecil. Tapi ketika dikemas dengan baik, orang membeli karena melihat produk ini menarik. Keuntungan tambahan itu masuk ke masyarakat dan UMKM,” katanya.
Pemerintah Provinsi NTT juga menyiapkan jalur pemasaran melalui jaringan NTT Mart agar produk lokal desa dapat masuk pasar yang lebih luas dan menjadi oleh-oleh khas daerah.
“Emping jagung dari Desa Nobi-Nobi ini nanti bisa dijual di NTT Mart supaya dikenal lebih luas sebagai makanan khas Timor Tengah Selatan,” ujarnya.
Selain penguatan produksi dan pemasaran, Melki meminta masyarakat mulai membangun sistem usaha bersama yang memberi manfaat langsung bagi desa.
Ia mengusulkan sebagian keuntungan usaha disisihkan untuk mendukung pembangunan desa dan memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat.
“Saya usul keuntungan usaha ini juga dibagi sedikit untuk desa supaya desa ikut berkembang bersama masyarakat,” katanya.
Dalam arahannya, Melki menegaskan program OVOP menjadi strategi Pemerintah Provinsi NTT dalam membangun ekonomi berbasis potensi lokal.
Menurut dia, setiap desa didorong memiliki satu produk unggulan yang dikembangkan secara berkelanjutan agar mampu bersaing di pasar.
“Kalau Desa Nobi-Nobi sudah punya emping jagung sebagai produk unggulan, maka itu harus terus didorong sampai orang kenal emping jagung Nobi-Nobi,” ujarnya.
Konsep serupa juga mulai diperluas ke dunia pendidikan melalui program One School One Product yang mendorong setiap SMA dan SMK memiliki produk unggulan sesuai potensi daerah masing-masing.
“Sekolah-sekolah juga harus punya produk unggulan sendiri. Bisa makanan olahan, kerajinan, atau produk lain sesuai potensi daerah,” kata Melki.
Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi NTT saat ini menjalankan program bantuan sekitar Rp100 juta per desa bagi wilayah yang dinilai memiliki potensi ekonomi untuk dikembangkan.
Bantuan tersebut diberikan dalam bentuk pelatihan, pendampingan, alat produksi, hingga akses pemasaran.
Melki juga meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkup Pemprov NTT memiliki desa dampingan sebagai bagian dari program percepatan pembangunan desa.
“Setiap OPD kami minta punya desa dampingan. Tahap pertama ada sekitar 120 desa yang dibantu. Kita ingin perubahan ekonomi benar-benar bergerak dari desa,” ujarnya.
Menurut Melki, Timor Tengah Selatan menjadi salah satu daerah penting dalam agenda pembangunan ekonomi NTT karena memiliki potensi pertanian dan sumber daya masyarakat yang besar.
“Kalau TTS berubah, maka NTT ikut berubah,” katanya.
Sementara itu, Bupati Timor Tengah Selatan, Eduard Markus Lioe, menilai program pelatihan dan bantuan alat produksi tersebut menjadi momentum kebangkitan ekonomi masyarakat desa.
Menurut Eduard, selama ini masyarakat TTS memiliki hasil pertanian dan produk lokal melimpah seperti jagung, kacang, tenun ikat, dan kerajinan tangan, namun masih menghadapi kendala pemasaran.
“Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa, tetapi tonggak penting kebangkitan ekonomi kerakyatan di desa,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan NTT Mart dapat menjadi solusi bagi petani dan pelaku UMKM yang selama ini kesulitan menjual hasil produksinya.
“Kita tidak boleh lagi bingung menjual hasil bumi dan produk masyarakat karena sekarang mulai dibangun jalur pemasaran yang lebih jelas,” katanya.
Eduard juga meminta perangkat daerah terkait membantu pelaku UMKM mengurus legalitas produk, izin edar, sertifikasi halal, hingga standar kemasan agar mampu bersaing di pasar modern.
“Saya tidak mau ada produk TTS ditolak karena kualitas kemasan atau izinnya belum lengkap. Semua harus dibantu sampai siap masuk pasar,” tegasnya.
Kepala Satpol PP Provinsi NTT, Yohan A. Bunmo Loban, menjelaskan pelatihan berlangsung sejak 5 hingga 7 Mei 2026 dan menyasar empat kelompok UMKM, yakni Kelompok Anggrek, Melati, Mawar, dan Sinar Kasih.
Menurut Yohan, pelatihan mencakup proses pengolahan emping jagung, pengemasan, branding, hingga pemasaran produk masyarakat.
Ia mengatakan program tersebut merupakan bagian dari kebijakan percepatan pembangunan daerah melalui intervensi perangkat daerah di desa-desa potensial.
“Tujuannya meningkatkan pendapatan masyarakat desa melalui sektor produktif dan memperkuat kapasitas kewirausahaan masyarakat,” katanya.
Desa Nobi-Nobi dipilih karena menjadi salah satu daerah penghasil jagung terbesar di TTS sehingga dinilai potensial dikembangkan sebagai sentra produk olahan jagung.
“Jagung tidak lagi hanya dijual mentah, tetapi diolah menjadi berbagai produk yang punya nilai jual lebih tinggi,” ujar Yohan.
Acara kemudian ditutup dengan penyerahan bantuan peralatan produksi kepada empat kelompok tani dan UMKM di Desa Nobi-Nobi.
#AyoBangunNTT
Bergita Abi
















