SOPPENG-BreakingNewspost.id — Persoalan akses transportasi bagi pelajar di wilayah pedesaan kembali menjadi sorotan. Di Desa Abbanuange, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, kebutuhan bus sekolah bagi siswa SMA mulai ramai diperbincangkan masyarakat setelah tingginya ketergantungan pelajar terhadap kendaraan roda dua dinilai memunculkan risiko keselamatan di jalan raya.
Kondisi tersebut terjadi di tengah dorongan pemerataan kualitas pendidikan hingga ke pelosok desa. Namun bagi sebagian keluarga di Abbanuange, akses menuju sekolah masih menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.
Sejumlah siswa SMA diketahui harus menempuh perjalanan cukup jauh, bahkan keluar desa, demi melanjutkan pendidikan. Di tengah terbatasnya sarana transportasi umum, banyak pelajar akhirnya menggunakan sepeda motor, baik milik pribadi maupun kendaraan orang tua. Sebagian lainnya menumpang kendaraan teman atau bergantung pada antar-jemput keluarga.
Situasi itu memunculkan kekhawatiran warga, terutama terkait keselamatan pelajar usia sekolah yang setiap hari harus berkendara di tengah aktivitas lalu lintas pada jam sibuk pagi dan siang hari.
Kalau musim hujan atau jalan ramai, orang tua pasti cemas. Tapi anak-anak juga harus tetap sekolah,” ujar warga Abbanuange meminta namanya tidak di publik.
Sorotan terhadap persoalan tersebut juga datang dari Ketua DPD APKAN RI Kabupaten Soppeng, Jamaluddin. Ia menilai kebutuhan bus sekolah di wilayah pedesaan tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan kecil, karena berkaitan langsung dengan keselamatan dan akses pendidikan bagi generasi muda.
Menurut Jamaluddin, pemerintah daerah perlu melihat persoalan transportasi pelajar sebagai bagian dari pelayanan dasar pendidikan. Ia menilai masih banyak siswa di pedesaan yang terpaksa menggunakan kendaraan roda dua meski belum sepenuhnya memenuhi syarat berkendara sesuai aturan lalu lintas.
Ini bukan hanya soal fasilitas, tetapi menyangkut keselamatan anak-anak sekolah. Jangan sampai keterbatasan transportasi membuat pelajar menghadapi risiko di jalan setiap hari,” ujarnya.
Ia juga menyoroti ketimpangan fasilitas antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Di sejumlah daerah, layanan bus sekolah mulai tersedia sebagai bagian dari dukungan akses pendidikan. Namun di desa-desa tertentu, termasuk di wilayah Abbanuange, kebutuhan transportasi pelajar dinilai belum menjadi perhatian serius.
Menurutnya, keberadaan bus sekolah dapat memberikan dampak luas bagi masyarakat. Selain meningkatkan keselamatan siswa, layanan tersebut juga dinilai mampu mengurangi beban ekonomi keluarga, menekan keterlambatan pelajar, dan membantu menciptakan kedisiplinan dalam aktivitas belajar.
Di sisi lain, masyarakat menilai persoalan ini menjadi dilema yang terus berlangsung. Pendidikan harus tetap berjalan, tetapi keterbatasan transportasi membuat sebagian keluarga tidak memiliki banyak pilihan selain membiarkan anak menggunakan sepeda motor untuk pergi ke sekolah.
Fenomena itu juga dinilai memperlihatkan masih adanya tantangan pemerataan akses pendidikan di wilayah pedesaan. Sebab, dukungan terhadap pendidikan tidak hanya berkaitan dengan gedung sekolah dan tenaga pengajar, tetapi juga menyangkut bagaimana siswa dapat menjangkau sekolah dengan aman dan layak.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Soppeng bersama instansi terkait di bidang pendidikan dan perhubungan dapat melakukan kajian serius mengenai kebutuhan transportasi pelajar di Kecamatan Lilirilau, khususnya Desa Abbanuange dan wilayah sekitarnya.
Pemetaan jumlah siswa, jarak tempuh, hingga rute potensial bus sekolah dinilai penting agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.
Kalau ada bus sekolah, tentu orang tua lebih tenang. Anak-anak juga bisa lebih aman saat pergi dan pulang sekolah,” kata warga lainnya.
Dorongan penyediaan bus sekolah kini berkembang menjadi aspirasi publik yang terus menguat di tengah masyarakat Abbanuange. Warga berharap perhatian terhadap dunia pendidikan tidak berhenti pada pembangunan fisik semata, tetapi juga menyentuh persoalan akses dan keselamatan yang setiap hari dihadapi pelajar di pedesaan.
Bagi masyarakat, perjalanan siswa menuju sekolah setiap pagi bukan sekadar rutinitas biasa. Di baliknya, tersimpan harapan besar tentang keselamatan, pemerataan pendidikan, dan masa depan generasi muda di daerah.
Liputan:Rd















