Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaPemerintah

Bukti Nyata Pelayanan Publik: Kades Palangiseng Jadikan Sadel Motor Sebagai Meja Kerja Demi Warga

0
×

Bukti Nyata Pelayanan Publik: Kades Palangiseng Jadikan Sadel Motor Sebagai Meja Kerja Demi Warga

Sebarkan artikel ini

SOPPENG-BreakingNewspost.id – Di tengah berbagai keluhan masyarakat mengenai rumitnya birokrasi dan pelayanan publik yang terkadang masih terkesan berjarak dengan warga, sebuah pemandangan sederhana di Desa Palangiseng, Kabupaten Soppeng, justru menarik perhatian publik.

Tak ada meja kerja mewah. Tak ada ruangan berpendingin udara. Bahkan tidak ada kursi pelayanan sebagaimana lazimnya sebuah kantor pemerintahan. Yang terlihat hanyalah seorang kepala desa berdiri di pinggir jalan, melayani kebutuhan administrasi warga dengan memanfaatkan sadel sepeda motor sebagai alas menulis.

Sosok itu adalah Kepala Desa Palangiseng, H. Samarudding, S.Ag.

Momen yang diabadikan pada Rabu (18/6/2026) tersebut dengan cepat menjadi perbincangan warga. Bukan karena sesuatu yang luar biasa dari sisi fasilitas, melainkan karena pesan yang terkandung di balik tindakan sederhana itu: pelayanan kepada masyarakat tidak boleh terhambat oleh tempat, waktu, maupun fasilitas.

Bagi Samarudding, pelayanan publik bukan sekadar tugas administratif yang menunggu warga datang ke kantor desa. Sebaliknya, aparatur pemerintahan harus mampu hadir di tengah masyarakat ketika dibutuhkan.

“Tak ada meja, di atas sadel motor pun bisa. Yang penting warga terlayani dan urusannya selesai,” ujar Samarudding.

Pernyataan itu mungkin terdengar sederhana. Namun di tengah tuntutan masyarakat terhadap birokrasi yang cepat, mudah, dan responsif, sikap tersebut menjadi simbol bahwa pelayanan publik sejatinya berorientasi pada solusi, bukan prosedur yang berbelit.

Menurut Samarudding, langkah tersebut dilakukan untuk memudahkan masyarakat yang membutuhkan pelayanan administrasi tanpa harus menunggu lama atau datang kembali ke kantor desa.

Ia mengaku tidak ingin warga mengalami kesulitan hanya karena persoalan teknis atau keterbatasan waktu.

“Untuk mempermudah pelayanan agar masyarakat tidak kesusahan dalam pengurusan di Desa Palangiseng. Di mana pun apabila dibutuhkan, saya siap,” katanya.

Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan jemput bola yang selama ini mulai banyak diterapkan oleh sejumlah pemerintah desa. Dalam pendekatan ini, pelayanan tidak lagi sepenuhnya berpusat di kantor, melainkan bergerak mendekati masyarakat.

Bagi sebagian warga, pola pelayanan seperti ini dinilai sangat membantu, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan desa, lanjut usia, atau memiliki keterbatasan mobilitas.

Sejumlah warga yang menyaksikan langsung pelayanan tersebut mengaku merasa terbantu. Mereka menilai kehadiran kepala desa di lapangan menunjukkan adanya kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Di tengah berbagai pemberitaan mengenai persoalan pelayanan publik di sejumlah daerah, tindakan sederhana seperti itu dianggap mampu membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa.

Pengamat pemerintahan desa menilai bahwa kualitas pelayanan publik tidak selalu ditentukan oleh kemewahan fasilitas yang dimiliki pemerintah.

Menurutnya, ukuran utama pelayanan adalah kemauan aparatur untuk hadir dan menyelesaikan kebutuhan masyarakat secara cepat, tepat, dan bertanggung jawab.

“Pelayanan publik yang baik bukan semata-mata soal gedung atau peralatan modern. Yang paling penting adalah komitmen aparatur dalam melayani masyarakat,” ujarnya.

Meski demikian, pengamat juga mengingatkan bahwa pelayanan jemput bola harus tetap dibarengi dengan tata kelola administrasi yang baik agar seluruh dokumen dan proses pelayanan tetap sesuai aturan yang berlaku.

Sementara itu, Samarudding berharap semangat pelayanan yang ditunjukkan pemerintah desa dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.

Ia juga berharap kualitas pelayanan di Desa Palangiseng terus mengalami peningkatan sehingga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa semakin kuat.

“Semoga pelayanan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat, dan ke depan kita bisa memberikan pelayanan yang lebih baik lagi,” tuturnya.

Di tengah era ketika masyarakat menuntut birokrasi yang semakin cepat dan responsif, apa yang dilakukan Kepala Desa Palangiseng menjadi pengingat bahwa esensi pelayanan publik sesungguhnya terletak pada kehadiran dan kepedulian.

Sebab bagi warga, yang paling penting bukanlah di mana pelayanan dilakukan, melainkan seberapa cepat persoalan mereka dapat diselesaikan.

Ketika seorang kepala desa rela menjadikan sadel motor sebagai meja kerja demi melayani masyarakat, pesan yang muncul menjadi sangat jelas: pelayanan publik tidak mengenal batas ruang dan tempat selama ada kemauan untuk mengabdi.

@Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *