BONE|BreakingNewspost.id — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) APKLI Perjuangan Kecamatan Tanete Riattang Barat terus mendorong penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui kegiatan pendataan dan sosialisasi Nomor Induk Berusaha (NIB) kepada pelaku usaha di wilayahnya. Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa (21/7/2026) tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas kepemilikan legalitas usaha agar pelaku UMKM memperoleh akses yang lebih luas terhadap berbagai program pemberdayaan ekonomi.
Tim DPC APKLI Perjuangan Tanete Riattang Barat melakukan pendataan secara langsung dengan mendatangi pelaku usaha yang belum memiliki NIB. Pendekatan jemput bola ini dilakukan agar masyarakat memperoleh informasi yang benar mengenai manfaat legalitas usaha sekaligus mendapatkan pendampingan dalam proses pendaftaran melalui sistem Online Single Submission (OSS).
Ketua DPC APKLI Perjuangan Tanete Riattang Barat, Andi Andra Amal, didampingi pengurus DPC Cindy, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mendata pelaku usaha, tetapi juga memberikan edukasi mengenai pentingnya NIB sebagai identitas resmi pelaku usaha yang diterbitkan pemerintah.
NIB merupakan identitas resmi pelaku usaha yang diterbitkan melalui sistem OSS dan terhubung langsung dengan kementerian terkait di tingkat pusat. Dengan memiliki NIB, pelaku UMKM akan lebih mudah mengakses berbagai program pemerintah maupun layanan usaha lainnya,” jelas Andi Andra Amal.
Menurutnya, masih banyak pelaku usaha mikro yang menjalankan usahanya secara aktif, tetapi belum memiliki legalitas karena minimnya informasi maupun keterbatasan dalam mengakses layanan digital. Oleh karena itu, APKLI Perjuangan hadir untuk memberikan pendampingan secara langsung sehingga masyarakat tidak lagi menganggap pengurusan NIB sebagai proses yang rumit.
Bagi pelaku UMKM, kepemilikan NIB memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar memenuhi persyaratan administrasi. Dokumen tersebut menjadi pintu masuk untuk memperoleh berbagai fasilitas, seperti kemudahan perizinan usaha, akses pembiayaan melalui lembaga keuangan, program pelatihan dan peningkatan kapasitas usaha, pendampingan bisnis, hingga kesempatan mengikuti berbagai bantuan pemerintah yang mensyaratkan legalitas usaha.
Namun demikian, proses percepatan kepemilikan NIB masih menghadapi sejumlah tantangan. Di lapangan masih ditemukan pelaku usaha yang belum memahami manfaat legalitas usaha. Sebagian lainnya menghadapi kendala literasi digital, keterbatasan akses internet, maupun persepsi bahwa proses perizinan memerlukan biaya besar dan prosedur yang berbelit.
Karena itu, kegiatan pendataan yang dilakukan DPC APKLI Perjuangan Tanete Riattang Barat tidak hanya berorientasi pada pengumpulan data, tetapi juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat. Melalui dialog secara langsung, petugas dapat mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi pelaku usaha sekaligus memberikan penjelasan mengenai prosedur pendaftaran NIB yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena keberhasilan program formalisasi UMKM tidak hanya diukur dari banyaknya NIB yang diterbitkan, melainkan juga dari sejauh mana legalitas tersebut mampu meningkatkan daya saing usaha serta membuka akses pelaku UMKM terhadap peluang ekonomi yang lebih luas. Tanpa pendampingan yang berkelanjutan, kepemilikan NIB berpotensi hanya menjadi dokumen administratif yang belum memberikan manfaat optimal bagi perkembangan usaha.
Oleh sebab itu, sinergi antara pemerintah, pemerintah desa dan kelurahan, organisasi pendamping UMKM, serta masyarakat menjadi faktor penting dalam mempercepat legalisasi usaha mikro. Edukasi yang berkesinambungan, kemudahan pelayanan, serta pendampingan dalam proses pendaftaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memperkuat ekosistem UMKM.
Melalui kegiatan pendataan ini, DPC APKLI Perjuangan Tanete Riattang Barat berharap semakin banyak pelaku usaha yang memiliki legalitas usaha sehingga mampu meningkatkan kepercayaan konsumen, memperluas akses pembiayaan, serta memperkuat daya saing UMKM di tengah perkembangan ekonomi yang semakin kompetitif.
Reporter: Rosmini
















