Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Hujan Air Mata di Gerbang Panti Jompo Padu Wau Maumere, Iringi Langkah Terakhir Mama Tres Usai 31 Tahun Mengabdi

74
×

Hujan Air Mata di Gerbang Panti Jompo Padu Wau Maumere, Iringi Langkah Terakhir Mama Tres Usai 31 Tahun Mengabdi

Sebarkan artikel ini

SIKKA |  BreakingNewsPost.id — Suasana haru menyelimuti halaman hingga pintu gerbang Panti Jompo Padu Wau Maumere ketika seorang abdi negara harus mengakhiri masa pengabdiannya setelah lebih dari tiga dekade merawat dan mendampingi para lanjut usia.

Tangis pecah mengiringi langkah pulang Tersiana Mala Dara, pegawai ASN pada Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang selama 31 tahun mengabdikan diri sebagai Pekerja Sosial (Peksos) di Seksi Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia Panti Jompo Padu Wau Maumere.

Jumat (31/7/2026) menjadi hari yang penuh kenangan. Hari itu menjadi momen terakhir Mama Tres—sapaan akrab yang diberikan para penghuni panti—meninggalkan tempat yang telah menjadi rumah kedua baginya sejak Oktober 1995.

Bukan sekadar perpisahan antara seorang pegawai dan tempat tugas, tetapi perpisahan emosional antara seorang ibu dengan keluarga besar yang telah bersama melewati perjalanan panjang kehidupan.

Selama 31 tahun, Mama Tres hadir dalam berbagai situasi. Ia mendampingi para opa dan oma penghuni panti dalam suka maupun duka, merawat mereka dengan kesabaran, serta menghadapi berbagai dinamika kehidupan bersama para lanjut usia.

Suasana semakin mengharukan ketika Mama Tres tiba di pintu gerbang panti setelah menyelesaikan absensi terakhirnya. Rasa haru, bahagia, sekaligus berat meninggalkan tempat pengabdian membuat air matanya tak terbendung.

Tangisan Mama Tres kemudian mengundang tangis para sahabat ASN, penghuni panti, serta mereka yang selama ini menjadi saksi perjalanan pengabdiannya.

Bagi para penghuni Panti Jompo Padu Wau Maumere, Mama Tres bukan hanya seorang pekerja sosial. Ia adalah sosok keluarga yang hadir mendampingi mereka menjalani hari-hari di masa lanjut usia.

Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia Panti Jompo Padu Wau Maumere, Yulius Demu, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas pengabdian Mama Tres selama 31 tahun.

Menurutnya, Mama Tres telah menunjukkan kesabaran luar biasa dalam melayani dan menghadapi berbagai karakter para penghuni panti.

«”Mama Tres telah menunjukkan kesabaran yang tinggi menghadapi sifat-sifat lansia di panti. Jika selama kebersamaan ada hati Mama Tres yang terluka oleh sesama ASN maupun Opa dan Oma, kami mohon maaf,” ujar Yulius.»

Ia juga berharap hubungan kekeluargaan tetap terjaga meski Mama Tres telah memasuki masa pensiun.

«”Kami pinta jika ada kesulitan yang dialami di panti dalam hal pelayanan dan ketika diminta bantuan, kiranya dengan ikhlas hati bersedia membantu,” katanya.»

Rasa kehilangan juga disampaikan perwakilan penghuni panti, Katarina Du’a Kaka. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengungkapkan bahwa kebaikan Mama Tres selama ini sulit dibalas dengan kata-kata.

«”Kami tidak bisa membalas banyak kebaikan yang kami peroleh dari Mama Tres. Kami hanya berdoa kiranya Tuhan selalu menghujankan rahmat kasih-Nya agar selalu sehat walafiat menikmati hari-hari pensiun bersama anak dan cucu,” ungkap Katarina.»

Melayani Opa dan Oma, Pengabdian yang Tak Pernah Terbayangkan

Dalam kesempatan tersebut, Tersiana Mala Dara mengungkapkan bahwa menjadi seorang pekerja sosial bukanlah cita-cita awal dalam hidupnya.

Ia mengaku sebelumnya memiliki impian menjadi seorang guru atau pendeta. Namun perjalanan hidup membawanya ke jalan pengabdian sosial.

«”Waktu mendaftar diri di SPG gugur karena persyaratan tinggi badan. Tinggi badan saya tidak memenuhi persyaratan,” tutur Tres.»

Ia kemudian memilih jalur berbeda dengan menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial (SMPS) Nusa Putra Kupang pada tahun 1990.

Setelah itu, Tres mengikuti pendidikan dan pelatihan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Satgassos. Pada Oktober 1991, ia mulai bekerja sebagai Pekerja Sosial Masyarakat Satuan Tugas Sosial (PSM-STS) di Desa Hikong, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Tahun 1994, ia mengikuti orientasi CPNS di Kupang. Setelah itu kembali bertugas sebagai pekerja sosial kecamatan di Hikong, Talibura, Kabupaten Sikka.

Karena memiliki latar belakang pendidikan pekerjaan sosial, pada tahun 1995 ia kemudian dipindahkan ke Panti Jompo Padu Wau Maumere milik Dinas Sosial Provinsi NTT.

Selama puluhan tahun, ia menjalani tugas mendampingi para lanjut usia dengan penuh ketulusan.

«”Melayani Opa dan Oma di Panti Jompo adalah yang terbaik,” ujar Mama Tres.»

Ia mengutip pesan Albert Einstein tentang arti kehidupan:

«”Hidup yang menghidupkan orang lain adalah hidup yang berguna.”»

Kalimat itu, menurutnya, menjadi gambaran perjalanan pengabdian yang telah ia jalani selama 31 tahun.

Kepada para Opa dan Oma yang masih tinggal di panti, Mama Tres berpesan agar tetap menjaga kebersamaan dan menjalani hari-hari dengan penuh cinta.

«”Saya harap Opa dan Oma betah tinggal di panti ini. Jangan sedikit-sedikit menangis minta pulang,” kata Mama Tres.»

Kini, setelah melewati perjalanan panjang sebagai pekerja sosial, Mama Tres memasuki babak baru dalam kehidupannya. Namun jejak pengabdian selama 31 tahun di Panti Jompo Padu Wau Maumere akan tetap menjadi kenangan bagi mereka yang pernah merasakan kasih dan pelayanannya.

Yuven Fernandez

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *