Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Lestarikan Bahasa Daerah, Nurhaliza Parintak Wakili SDN 526 Buntu Kamiri di Lomba Mendongeng HUT RI ke-81 di Ponrang

7
×

Lestarikan Bahasa Daerah, Nurhaliza Parintak Wakili SDN 526 Buntu Kamiri di Lomba Mendongeng HUT RI ke-81 di Ponrang

Sebarkan artikel ini

LUWU|Breakingnewspost.id — Sebuah perlombaan mendongeng dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu, menghadirkan pesan yang lebih jauh daripada sekadar kompetisi antarpelajar.

Di atas panggung, seorang siswi sekolah dasar memilih menggunakan bahasa Luwu untuk membawakan cerita Kura-Kura dan Monyet.

Ia adalah Nurhaliza Parintak, siswi kelas VI SDN 526 Buntu Kamiri, Kecamatan Ponrang. Dengan nomor urut 08, Nurhaliza tampil dalam lomba mendongeng yang digelar di Lapangan Tribun Padang Sappa, Kecamatan Ponrang, Selasa, 11 Agustus 2026.

Pilihan menggunakan bahasa Luwu menjadi salah satu sisi menarik dari penampilan tersebut. Di tengah kegiatan yang dirancang untuk memeriahkan HUT ke-81 RI, panggung perlombaan juga menjadi ruang bagi bahasa dan budaya lokal untuk tampil di hadapan publik.

Namun, dari sebuah perlombaan muncul pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana ruang bagi bahasa daerah dapat terus dipertahankan dalam kehidupan generasi muda?

Pertanyaan itu tidak serta-merta dapat dijawab hanya melalui satu kegiatan. Tetapi, keikutsertaan pelajar dalam lomba mendongeng berbahasa daerah menunjukkan bahwa sekolah masih dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kembali budaya lokal kepada anak-anak.

Ketika Bahasa Luwu Naik ke Atas Panggung

Bahasa daerah bukan sekadar alat untuk menyampaikan kata-kata.

Bahasa juga berkaitan dengan cara suatu masyarakat menyampaikan cerita, nilai, pengetahuan, dan identitas budaya kepada generasi berikutnya.

Karena itu, penggunaan bahasa Luwu dalam lomba mendongeng memiliki makna tersendiri. Nurhaliza tidak hanya dituntut mampu menguasai cerita dan tampil di depan umum, tetapi juga membawa bahasa lokal ke sebuah ruang publik yang disaksikan peserta dan masyarakat.

Kegiatan seperti ini dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan bahasa daerah kepada generasi muda.

Namun, pelestarian bahasa tidak berhenti pada panggung perlombaan.

Sebuah bahasa membutuhkan penggunaan dan pewarisan agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya. Di titik inilah keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat mempunyai peran yang tidak dapat dipisahkan.

Lomba mendongeng dapat menjadi pintu masuk. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana bahasa daerah memperoleh ruang yang lebih luas setelah perlombaan selesai.

Sekolah dan Tanggung Jawab Pelestarian

Kepala SDN 526 Buntu Kamiri, Nirwati, S.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas keikutsertaan anak didiknya.

Menurut Nirwati, perlombaan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan bakat, kreativitas, keberanian, dan kemampuan berkomunikasi.

«“Kami sangat antusias mendukung kegiatan seperti ini. Selain memeriahkan HUT Kemerdekaan RI, kegiatan ini juga memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengembangkan bakat dan kepercayaan diri mereka,” ujar Nirwati.»

Ia juga memberikan apresiasi terhadap penggunaan bahasa Luwu dalam penampilan Nurhaliza.

Menurutnya, pengenalan bahasa daerah sejak usia dini penting agar anak-anak tetap memiliki kedekatan dengan bahasa yang menjadi bagian dari lingkungan budaya mereka.

«“Kami juga mengapresiasi karena anak kami membawakan dongeng menggunakan bahasa Luwu. Ini menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan dan melestarikan bahasa daerah kepada generasi muda,” tuturnya.»

Pernyataan tersebut memperlihatkan posisi sekolah sebagai salah satu ruang yang dapat mempertemukan pendidikan dengan kebudayaan lokal.

Namun, tanggung jawab itu tentu tidak hanya berada di sekolah.

Keluarga dan lingkungan sosial juga memiliki peran dalam memastikan bahasa daerah tidak hanya dikenal sebagai materi perlombaan, tetapi juga dipahami sebagai bagian dari kehidupan budaya masyarakat.

Tantangan Tidak Berakhir Setelah Perlombaan

Di sinilah kegiatan seperti lomba mendongeng perlu dilihat secara lebih luas.

Seorang anak dapat tampil menggunakan bahasa daerah di atas panggung. Tetapi, keberlanjutan pelestarian bahasa membutuhkan lebih dari sekadar satu penampilan.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah anak-anak juga memiliki ruang untuk menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari, di lingkungan keluarga, maupun dalam interaksi sosial.

Tidak ada dasar dalam bahan kegiatan ini untuk menyimpulkan bahwa bahasa Luwu sedang mengalami kondisi tertentu. Karena itu, persoalan tersebut tidak seharusnya dibesar-besarkan tanpa data.

Yang dapat dikatakan adalah bahwa kegiatan seperti lomba mendongeng menyediakan salah satu ruang konkret bagi generasi muda untuk mengenal, menggunakan, dan menampilkan bahasa daerah.

Dari sana, upaya pelestarian dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan lain, baik pendidikan, kesenian, literasi, maupun kegiatan kebudayaan di tingkat masyarakat.

Dengan demikian, peringatan HUT RI tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada generasi penerus.

Bukan Hanya Tentang Juara

Lomba tetap merupakan kompetisi. Setiap peserta tentu datang dengan kemampuan dan persiapan masing-masing.

Namun, bagi pelajar, pengalaman mengikuti perlombaan juga memiliki nilai pembelajaran.

Nurhaliza memperoleh kesempatan untuk berdiri di hadapan publik, menyampaikan cerita, mengembangkan keberanian, dan menggunakan bahasa Luwu dalam sebuah kegiatan resmi.

Nilai tersebut tidak otomatis ditentukan oleh posisi akhir dalam perlombaan.

Nirwati berharap pengalaman tersebut dapat mendorong para siswa untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan mereka.

«“Kami berharap anak-anak dapat mengikuti kegiatan ini dengan penuh semangat, menjunjung sportivitas, dan menjadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk terus mengembangkan potensi yang mereka miliki,” harapnya.»

Pesan itu menjadi penting karena kompetisi di tingkat pelajar idealnya tidak hanya menghasilkan pemenang, tetapi juga pengalaman yang membentuk kepercayaan diri dan karakter peserta.

Dari Ponrang, Sebuah Pesan tentang Budaya

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kecamatan Ponrang menjadi ruang bertemunya berbagai kegiatan pelajar.

Di antara kemeriahan tersebut, penampilan Nurhaliza membawa satu pesan yang relatif sederhana: bahasa daerah masih dapat diberi ruang melalui kreativitas anak-anak.

Ia membawakan cerita Kura-Kura dan Monyet dengan bahasa Luwu.

Dari sebuah panggung lomba, persoalan kebudayaan kemudian menjadi lebih luas. Pelestarian bahasa bukan pekerjaan satu sekolah, satu guru, atau satu perlombaan.

Ia membutuhkan kesinambungan.

Sekolah dapat memperkenalkan. Guru dapat membimbing. Orang tua dapat membiasakan. Masyarakat dapat menyediakan ruang penggunaan. Sementara generasi muda menjadi pihak yang kelak menentukan apakah bahasa tersebut terus digunakan atau semakin jarang terdengar.

Karena itu, keikutsertaan Nurhaliza dalam lomba mendongeng tidak perlu dibebani dengan klaim besar yang belum dapat dibuktikan.

Cukup melihatnya sebagai sebuah langkah kecil: seorang anak diberi kesempatan untuk membawa bahasa daerah ke ruang publik.

Langkah kecil tersebut menjadi berarti apabila tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Sebab, ukuran keberhasilan pelestarian budaya pada akhirnya bukan hanya seberapa sering bahasa daerah diperlombakan, tetapi seberapa jauh bahasa itu tetap dikenal, dipahami, digunakan, dan diwariskan.

Dari Ponrang, panggung kecil itu setidaknya telah membuka ruang bagi pesan tersebut.

Reporter:Sofyan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *