Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Komunitas Musisi Jalanan Bone Gelar Live Musik Kemerdekaan, Hidupkan Lapangan Merdeka Watampone

49
×

Komunitas Musisi Jalanan Bone Gelar Live Musik Kemerdekaan, Hidupkan Lapangan Merdeka Watampone

Sebarkan artikel ini

BONE BreakingNewsPost.id — Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terasa di berbagai ruang publik Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Salah satunya melalui pertunjukan musik yang digelar Komunitas Musisi Jalanan Kabupaten Bone di depan Patung Arung Palakka, kawasan Lapangan Merdeka Watampone.

Kegiatan bertajuk live musik kemerdekaan tersebut berlangsung selama dua hari, 14–15 Agustus 2026. Para musisi yang tergabung dalam komunitas musisi jalanan Bone tampil bergantian menghadirkan hiburan bagi masyarakat dan pengunjung yang beraktivitas di kawasan Lapangan Merdeka.

Bagi penyelenggara, kegiatan tersebut tidak semata-mata menjadi panggung hiburan menjelang puncak peringatan HUT ke-81 RI. Ada tujuan lain yang ingin didorong, yakni menghidupkan kembali ruang publik sekaligus memberikan ruang bagi pelaku usaha kecil untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari meningkatnya aktivitas masyarakat.

Andre, salah satu musisi yang terlibat dalam kegiatan tersebut, mengatakan gelaran itu lahir dari inisiatif para musisi Bone yang ingin mengambil bagian dalam menyemarakkan momentum kemerdekaan.

Menurut dia, keterlibatan berbagai unsur masyarakat membuat kegiatan tersebut dapat terlaksana. Para musisi tidak berjalan sendiri. Mereka mendapat dukungan dari Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI), pelaku UKM, UMKM, pelaku ekonomi kreatif, serta pedagang kaki lima yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas ekonomi di ruang publik.

“Event ini dilaksanakan agar warga dan pengunjung dapat menikmati waktu santai dengan menonton dan mendengarkan musik sambil menikmati aneka sajian kuliner yang dijajakan para pelaku UMKM,” kata Andre.

Konsep tersebut memperlihatkan bahwa panggung musik ditempatkan sebagai bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Musik menjadi daya tarik, sementara keberadaan pedagang kuliner dan pelaku usaha kecil menjadi bagian lain yang diharapkan ikut bergerak.

Bukan Sekadar Panggung Hiburan

Pemilihan Lapangan Merdeka sebagai lokasi kegiatan juga bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut selama ini menjadi salah satu ruang berkumpul masyarakat Watampone. Namun, menurut pihak penyelenggara, aktivitas pengunjung dalam beberapa waktu terakhir mengalami perubahan.

Salah satu faktornya adalah berbagai kegiatan perkemahan yang digelar di sejumlah kecamatan dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kondisi itu membuat sebagian masyarakat mengikuti kegiatan di wilayah masing-masing sehingga kunjungan ke kawasan Lapangan Merdeka disebut ikut berkurang.

Di tengah kondisi tersebut, para musisi dan pelaku usaha melihat perlunya kegiatan yang mampu menarik kembali masyarakat ke ruang publik.

Pertunjukan musik kemudian dipilih karena relatif mudah diakses dan dapat dinikmati berbagai kelompok masyarakat.

Harapannya sederhana: masyarakat datang, menikmati pertunjukan, kemudian berbelanja makanan dan minuman dari pedagang yang berjualan di sekitar lokasi.

Bila pola tersebut berjalan, efeknya bukan hanya dirasakan oleh musisi yang tampil. Pedagang kaki lima, pelaku UKM, UMKM, hingga pelaku ekonomi kreatif juga berpotensi memperoleh tambahan omzet.

Di sinilah kegiatan yang tampak sebagai hiburan jalanan memiliki dimensi ekonomi yang lebih luas.

Menghidupkan Ruang Publik, Menggerakkan Ekonomi Kecil

Ketua DPD APKLI-P Kabupaten Bone, Iwan Hammer, melalui pesan WhatsApp pribadinya pada Jumat sore, mengatakan kehadiran kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadikan Lapangan Merdeka kembali ramai oleh masyarakat.

Menurut Iwan, aktivitas ekonomi pedagang kecil sangat bergantung pada keramaian. Ketika jumlah pengunjung menurun, dampaknya langsung dirasakan oleh pedagang yang setiap hari berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Karena itu, kegiatan publik seperti pertunjukan musik, menurut dia, dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan keramaian yang sekaligus memberi peluang ekonomi.

“Semoga dengan adanya event live musik ini bisa menjadikan Lapangan Merdeka sebagai salah satu tempat yang dipenuhi pengunjung,” ujar Iwan.

Ia berharap meningkatnya jumlah pengunjung dapat berdampak langsung terhadap penjualan para pelaku usaha.

“Sehingga dagangan para pelaku UMKM, pelaku UKM, pelaku ekonomi kreatif dan pedagang kaki lima bisa laku,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan persoalan yang lebih besar di balik kegiatan dua hari itu: bagaimana ruang publik tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga dapat berfungsi sebagai simpul ekonomi masyarakat kecil.

Musisi Jalanan Mengambil Ruang dalam Perayaan Kemerdekaan

Kehadiran komunitas musisi jalanan dalam perayaan HUT ke-81 RI juga menjadi warna tersendiri. Mereka tidak tampil dalam panggung besar yang membutuhkan tata kelola acara berskala besar. Sebaliknya, mereka mengambil ruang yang dekat dengan masyarakat.

Di depan Patung Arung Palakka, musik dipertemukan dengan aktivitas masyarakat sehari-hari.

Pengunjung dapat datang untuk menikmati musik tanpa harus mengikuti format pertunjukan yang formal. Pedagang tetap dapat berjualan. Pelaku UMKM memperoleh ruang memasarkan produknya. Sementara para musisi mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan sekaligus berkontribusi dalam perayaan kemerdekaan.

Konsep seperti ini menjadi menarik karena mempertemukan tiga kepentingan sekaligus: hiburan masyarakat, ruang ekspresi musisi, dan perputaran ekonomi pelaku usaha kecil.

Di tengah semangat perayaan kemerdekaan, pertanyaan yang kemudian muncul bukan hanya seberapa meriah sebuah acara digelar, tetapi sejauh mana keramaian tersebut memberikan manfaat kepada masyarakat yang berada di sekitarnya.

Momentum Kemerdekaan dan Ekonomi Kerakyatan

Peringatan kemerdekaan pada akhirnya tidak harus selalu diterjemahkan melalui seremoni. Ruang-ruang publik dapat menjadi tempat masyarakat merayakan kemerdekaan dengan cara yang lebih terbuka dan partisipatif.

Bagi komunitas musisi jalanan Bone, musik menjadi medium untuk menghadirkan suasana tersebut.

Bagi pedagang kaki lima dan pelaku UMKM, keramaian menjadi peluang.

Sedangkan bagi masyarakat, kegiatan tersebut menjadi alternatif hiburan sekaligus ruang untuk menikmati suasana menjelang puncak peringatan HUT ke-81 RI.

Gelaran 14–15 Agustus itu karena itu diharapkan tidak berhenti sebagai pertunjukan dua hari. Para penggagas berharap Lapangan Merdeka Watampone dapat terus menjadi ruang publik yang hidup, tempat masyarakat bertemu, komunitas berekspresi, dan aktivitas ekonomi rakyat bergerak.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kegiatan bukan hanya dari banyaknya lagu yang dimainkan atau ramainya penonton di depan panggung.

Ukuran lainnya adalah apakah keramaian itu mampu menciptakan manfaat nyata bagi warga yang menggantungkan penghasilan dari ruang tersebut.

Dan bagi para musisi jalanan Bone serta pelaku usaha kecil yang terlibat, itulah semangat kemerdekaan yang ingin mereka hadirkan: merayakan Indonesia dengan musik, membuka ruang bagi masyarakat, sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat.Tim/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *