Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Produksi Bawang Merah Abbanuange Belum Maksimal, Rudiandi CFLE Dorong Evaluasi dari Lapangan

4
×

Produksi Bawang Merah Abbanuange Belum Maksimal, Rudiandi CFLE Dorong Evaluasi dari Lapangan

Sebarkan artikel ini

SOPPENG | BreakingNewspost.id — Panen bawang merah di Desa Abbanuange, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, menjadi catatan penting bagi pengembangan komoditas hortikultura di tingkat desa. Hasil panen tahun ini dinilai belum mencapai potensi maksimal, tetapi capaian tersebut tetap dipandang sebagai perkembangan positif karena petani telah menunjukkan kemampuan mengembangkan bawang merah di tengah berbagai tantangan di lapangan.

Kepala Desa Abbanuange memberikan apresiasi kepada para petani yang dinilai telah berupaya menjalankan budidaya bawang merah dengan sumber daya dan kondisi yang ada. Bagi pemerintah desa, keberhasilan petani bukan semata-mata diukur dari besarnya hasil panen, tetapi juga dari keberanian mengembangkan komoditas yang memiliki peluang ekonomi bagi masyarakat.

Namun, capaian tersebut sekaligus membuka ruang evaluasi.

Hasil yang belum maksimal perlu dilihat secara lebih menyeluruh. Tidak cukup hanya menyimpulkan bahwa produktivitas petani belum tinggi. Faktor teknis budidaya, kualitas benih, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, kondisi lahan, pengairan, hingga intensitas pendampingan tenaga pertanian perlu menjadi bagian dari evaluasi.

Di titik inilah aktivis hukum dan pemerhati kebijakan publik Rudiandi CFLE meminta agar pendampingan terhadap petani di lapangan diperkuat.

Menurut Rudiandi, petani tidak seharusnya menjadi pihak yang menanggung sendiri risiko ketika hasil produksi belum sesuai harapan. Jika pemerintah mendorong pengembangan bawang merah sebagai salah satu komoditas pertanian, maka prosesnya harus dibarengi dengan pendampingan yang nyata dan terukur.

Kades Apresiasi Upaya Petani

Budidaya bawang merah di Abbanuange menjadi salah satu upaya petani memanfaatkan peluang ekonomi dari sektor hortikultura.

Bagi sebagian petani, komoditas ini memiliki prospek karena bawang merah merupakan kebutuhan pasar yang terus bergerak. Namun, peluang tersebut tidak otomatis menjamin keuntungan. Produktivitas tanaman dan biaya produksi menjadi dua faktor penting yang menentukan apakah usaha tani memberikan hasil yang layak.

Karena itu, capaian panen tahun ini tetap dinilai memiliki arti.

Pemerintah Desa Abbanuange melihat keberanian petani mencoba dan mengembangkan bawang merah sebagai sesuatu yang patut diapresiasi. Meski hasil belum maksimal, pengalaman satu musim tanam dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memperbaiki pola budidaya pada musim berikutnya.

Pendekatan tersebut penting agar evaluasi tidak berubah menjadi kesalahan yang dibebankan kepada petani.

Petani berada di garis depan produksi. Mereka menghadapi langsung kondisi tanah, cuaca, serangan organisme pengganggu tanaman, ketersediaan sarana produksi, hingga perubahan harga ketika hasil panen masuk pasar.

Karena itu, ketika produktivitas belum sesuai target, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya mengapa hasil petani rendah, tetapi juga apakah dukungan teknis dan pendampingan yang diterima sudah memadai.

Rudiandi: Jangan Bebankan Persoalan kepada Petani

Rudiandi CFLE menilai evaluasi terhadap hasil panen bawang merah Abbanuange harus dilakukan secara objektif.

Ia mendorong agar petani mendapatkan pendampingan lebih intensif di lapangan, terutama dalam aspek teknis yang secara langsung memengaruhi produktivitas.

Pendampingan, menurutnya, tidak seharusnya berhenti pada pemberian arahan secara umum. Petani membutuhkan tenaga pendamping yang dapat melihat langsung perkembangan tanaman, mengidentifikasi persoalan, memberikan rekomendasi sesuai kondisi lahan, serta melakukan evaluasi setelah panen.

Hal tersebut menjadi penting karena setiap lahan memiliki karakteristik berbeda.

Kesalahan dalam menentukan varietas, waktu tanam, dosis pupuk, pola penyiraman, maupun penanganan hama dan penyakit dapat berpengaruh terhadap hasil akhir. Karena itu, rekomendasi teknis yang bersifat umum belum tentu sepenuhnya sesuai dengan kondisi masing-masing lahan.

Rudiandi meminta agar persoalan tersebut menjadi perhatian pemerintah dan instansi teknis terkait.

Ia juga menilai keberhasilan petani seharusnya tidak hanya dilihat dari berapa ton hasil yang diperoleh dalam satu musim. Yang tidak kalah penting adalah apakah petani memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang dapat meningkatkan produktivitas pada musim berikutnya.

Produktivitas Harus Dievaluasi dari Hulu

Hasil panen yang belum maksimal semestinya menjadi pintu masuk untuk melakukan evaluasi dari hulu hingga hilir.

Pada sisi hulu, kualitas benih perlu diperhatikan. Begitu pula dengan kesiapan lahan, pemupukan, ketersediaan air, pengendalian hama dan penyakit serta kemampuan petani menerapkan teknologi budidaya.

Pada sisi hilir, persoalan pemasaran dan harga juga tidak boleh diabaikan.

Petani dapat menghasilkan produksi yang baik, tetapi tetap menghadapi persoalan apabila harga jatuh ketika panen berlangsung. Sebaliknya, harga yang tinggi tidak otomatis menguntungkan apabila produktivitas rendah atau biaya produksi terlalu besar.

Karena itu, pengembangan bawang merah membutuhkan pendekatan yang lebih utuh.

Petani membutuhkan pendampingan sejak sebelum tanam, selama masa pertumbuhan tanaman, hingga memasuki masa panen dan pemasaran.

Jangan Sekadar Mengejar Target Produksi

Persoalan lain yang perlu dihindari adalah pendekatan pembangunan pertanian yang terlalu berorientasi pada angka produksi.

Target produksi memang penting sebagai indikator. Namun, di tingkat petani, keberhasilan sesungguhnya lebih kompleks.

Petani harus mampu memperoleh hasil yang cukup untuk menutup biaya produksi sekaligus menghasilkan pendapatan yang layak. Jika produktivitas meningkat tetapi biaya produksi ikut melonjak tanpa diikuti harga yang memadai, keuntungan petani belum tentu meningkat.

Karena itu, evaluasi panen bawang merah Abbanuange perlu ditempatkan dalam kerangka peningkatan kesejahteraan petani.

Pendampingan lapangan menjadi salah satu instrumen penting untuk mencapai tujuan tersebut.

Penyuluh dan tenaga teknis tidak hanya berfungsi memberikan informasi, tetapi juga menjadi penghubung antara kebijakan pertanian dengan persoalan nyata yang dihadapi petani.

Abbanuange dan Potensi Hortikultura

Abbanuange memiliki peluang untuk terus mengembangkan komoditas hortikultura apabila proses budidayanya dilakukan secara konsisten dan berbasis evaluasi.

Panen tahun ini dapat menjadi titik awal untuk membaca apa yang sudah berhasil dan apa yang masih perlu diperbaiki.

Jika hasil belum maksimal, maka data lapangan harus menjadi dasar perbaikan. Petani perlu mengetahui penyebab produktivitas belum mencapai target, bukan sekadar menerima kesimpulan bahwa hasilnya kurang.

Begitu pula pemerintah dan instansi teknis perlu membuka ruang evaluasi bersama petani.

Dengan demikian, kegagalan atau hasil yang belum optimal dalam satu musim tidak menjadi stigma bagi petani, melainkan menjadi bahan pembelajaran untuk musim berikutnya.

Antara Apresiasi dan Evaluasi

Sikap pemerintah desa yang tetap memberikan apresiasi kepada petani dan dorongan Rudiandi CFLE agar pendampingan diperkuat sebenarnya berada dalam satu kepentingan yang sama: bagaimana petani Abbanuange dapat menghasilkan produksi yang lebih baik.

Apresiasi dibutuhkan agar semangat petani tidak turun.

Evaluasi juga diperlukan agar persoalan yang sama tidak berulang.

Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Justru dari dua pendekatan tersebut, pemerintah dapat membangun sistem pendampingan yang lebih kuat. Petani diberikan penghargaan atas usaha yang telah dilakukan, sementara persoalan teknis yang menyebabkan produktivitas belum maksimal harus dibedah secara terbuka.

Jika pola tersebut berjalan, panen tahun ini tidak hanya menjadi catatan hasil produksi, tetapi juga menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki musim tanam berikutnya.

Petani Jangan Dibiarkan Berjalan Sendiri

Pada akhirnya, pengembangan bawang merah di Abbanuange akan sangat bergantung pada kemampuan semua pihak membangun ekosistem pertanian yang mendukung petani.

Pemerintah desa dapat memberikan dukungan sesuai kewenangannya. Pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat memperkuat penyuluhan dan pendampingan. Tenaga pertanian dapat memastikan persoalan teknis di lapangan segera direspons. Sementara petani menjadi pelaku utama yang menjalankan proses produksi.

Rudiandi CFLE menekankan pentingnya memastikan petani tidak berjalan sendiri ketika menghadapi persoalan produksi.

Hasil panen yang belum maksimal harus dibaca sebagai persoalan bersama yang membutuhkan solusi bersama.

Sebab, jika petani terus diminta meningkatkan produksi tanpa dibekali pendampingan yang memadai, maka target peningkatan produktivitas berisiko hanya menjadi angka di atas kertas.

Sebaliknya, apabila pengalaman panen tahun ini dijadikan dasar evaluasi, pendampingan diperkuat, dan persoalan teknis ditangani sejak awal, maka peluang peningkatan produksi pada musim berikutnya tetap terbuka.

Abbanuange telah menunjukkan bahwa bawang merah memiliki ruang untuk dikembangkan. Tantangannya kini bukan sekadar bagaimana menanam lebih banyak, tetapi bagaimana memastikan setiap musim tanam menghasilkan pengetahuan, produktivitas, dan pendapatan yang lebih baik bagi petani.Tim/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *