POLEWALI MANDAR | BreakingNewspost. Id — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan pemadaman listrik yang disebut berulang di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat selasa (8/9/2026), memicu pertanyaan masyarakat terhadap keandalan pelayanan dua kebutuhan dasar tersebut. Aktivis Rudiandi CFLE., C.BJ., C.EJ., C.In. meminta Pertamina dan PLN memberikan klarifikasi terbuka mengenai kondisi yang terjadi di lapangan.
Rudiandi menilai persoalan BBM perlu dijelaskan secara menyeluruh, terutama terkait ketersediaan stok dan distribusinya kepada masyarakat.
Di sejumlah SPBU, antrean kendaraan dilaporkan mencapai sekitar satu kilometer. Warga disebut harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM.
Jika kondisi itu berlangsung berkepanjangan, dampaknya dapat meluas ke berbagai sektor, mulai dari pertanian, perikanan, perdagangan, transportasi hingga distribusi kebutuhan pokok.
Persoalan juga disebut terjadi di tingkat pengecer. BBM dilaporkan semakin sulit diperoleh, sementara harga yang disebut masyarakat berada pada kisaran Rp25.000-Rp30.000 per liter.
Informasi mengenai harga tersebut perlu diklarifikasi pihak terkait agar publik memperoleh gambaran yang akurat mengenai kondisi pasokan, distribusi, dan harga BBM di lapangan.
Di tengah persoalan BBM, masyarakat juga menghadapi pemadaman listrik yang disebut terjadi hampir setiap hari. Gangguan tersebut berpotensi menghambat aktivitas rumah tangga, pendidikan, pelayanan publik, dan kegiatan usaha.
Kondisi itu kemudian memunculkan sejumlah pertanyaan publik: apa penyebab gangguan pasokan BBM, bagaimana distribusinya, mengapa BBM di tingkat pengecer sulit diperoleh, dan apa penyebab listrik padam berulang?
Menurut Rudiandi, pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk mencari pihak yang harus disalahkan. Pemerintah daerah juga tidak semestinya langsung ditempatkan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas seluruh persoalan.
Yang dibutuhkan, kata dia, ialah koordinasi dan keterbukaan informasi dari seluruh pihak terkait.
> “Masyarakat membutuhkan kepastian, bukan sekadar informasi bahwa persoalan sedang ditangani,” kata Rudiandi.
Ia meminta Pertamina menjelaskan kondisi stok dan distribusi BBM di Polewali Mandar dan Sulawesi Barat. PLN juga diminta memberikan penjelasan mengenai penyebab pemadaman, wilayah terdampak, serta langkah yang dilakukan untuk memulihkan pelayanan.
Keterbukaan informasi dinilai penting agar masyarakat mengetahui apakah gangguan tersebut bersifat sementara atau berpotensi berlangsung lebih lama.
Informasi yang jelas juga memungkinkan warga melakukan antisipasi. Pengendara dapat mengatur kebutuhan BBM, pelaku usaha menyesuaikan operasional, sementara rumah tangga dapat mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan gangguan listrik.
Rudiandi menilai penjelasan dari perusahaan penyedia layanan tidak seharusnya berhenti pada pernyataan bahwa persoalan sedang ditangani. Masyarakat membutuhkan informasi konkret mengenai penyebab gangguan, kondisi terkini, langkah penanganan, dan perkiraan waktu normalisasi.
Sebab, ketika antrean BBM memanjang, BBM eceran dilaporkan sulit diperoleh dengan harga lebih tinggi, sementara listrik padam berulang, dampaknya tidak lagi sekadar persoalan teknis. Kondisi tersebut menyentuh langsung aktivitas dan kepentingan masyarakat.
Masyarakat, lanjut Rudiandi, tidak sedang mencari siapa yang salah. Mereka membutuhkan kepastian bahwa BBM tersedia dengan harga yang wajar dan listrik dapat menyala secara stabil.
Jika memang terdapat kendala pasokan, distribusi, jaringan, pembangkit, atau faktor teknis lainnya, informasi tersebut perlu disampaikan secara terbuka dan terukur.
Pertamina ditunggu penjelasannya mengenai BBM. PLN ditunggu penjelasannya mengenai listrik.
Polewali Mandar membutuhkan kejelasan, transparansi, dan solusi, agar masyarakat tidak terus menghadapi antrean panjang serta ketidakpastian atas dua kebutuhan dasar tersebut.Red







