LUWU UTARA-BreakingNewspost.id — Di tengah percepatan pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah, realitas berbeda masih dirasakan masyarakat di daerah terpencil seperti Seko, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Keterbatasan akses transportasi membuat sebagian warga harus mengandalkan tenaga sendiri untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Untuk menuju kebun, sawah, hingga kampung lain, warga masih berjalan kaki sambil memikul barang dalam jumlah besar. Perjalanan yang ditempuh tidak hanya melelahkan, tetapi juga memakan waktu lama karena harus melintasi medan berbukit serta jalur yang belum memadai.
“Kalau ke kebun atau ke kampung sebelah, kami biasa jalan kaki sambil bawa barang. Sudah biasa, tapi memang berat,” ujar seorang warga.
Kondisi ini tidak berhenti pada aktivitas lokal. Untuk mencapai ibu kota kabupaten di Masamba, warga menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Selain jarak yang jauh dan medan yang sulit, biaya transportasi yang tinggi menjadi kendala utama.
Warga menyebutkan tarif ojek dari Seko ke Masamba dapat mencapai lebih dari Rp1 juta untuk sekali perjalanan. Biaya serupa juga berlaku untuk perjalanan kembali, sehingga akses transportasi menjadi tidak terjangkau bagi sebagian besar masyarakat.
Dalam kondisi tersebut, berjalan kaki menjadi pilihan yang tidak terhindarkan. Perjalanan yang ditempuh bisa berlangsung hingga berhari-hari. Pilihan ini bukan karena kemudahan, melainkan akibat keterbatasan akses dan kemampuan ekonomi.
Situasi ini menjadi potret ketimpangan pembangunan yang masih terjadi. Di saat sejumlah daerah telah menikmati konektivitas yang lebih baik, masyarakat di wilayah seperti Seko masih bergantung pada jalur tradisional untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pada mobilitas, tetapi juga merambah sektor lain. Distribusi hasil pertanian menjadi lebih lambat dan mahal, akses pendidikan terbatas, serta layanan kesehatan sulit dijangkau—terutama dalam kondisi darurat.
Dalam konteks tersebut, peran pemerintah daerah menjadi krusial, terutama dalam membuka keterisolasian wilayah melalui pembangunan infrastruktur jalan serta penyediaan sarana transportasi yang terjangkau dan berkelanjutan.
Namun hingga kini, belum terlihat perubahan signifikan yang mampu menjawab kebutuhan dasar mobilitas masyarakat secara menyeluruh.
Bagi warga Seko, perjalanan jauh dengan berjalan kaki bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari realitas hidup yang harus dijalani setiap hari. Selama akses belum terbuka, keterbatasan ini akan terus menjadi tantangan—sekaligus pengingat bahwa pembangunan belum sepenuhnya merata.Tim















